Kebanyakan pembaca Ahmad Tohari memulai perjalanan membacanya dari Ronggeng Dukuh Paruk. Saya tidak. Novel pertama yang saya tamatkan darinya justru yang tipis bertajuk Di Kaki Bukit Cibalak.
Bagi penikmat karya-karya Ahmad Tohari, membaca buku-bukunya selalu memunculkan sensasi yang khas: seperti berkamuflase menjadi orang-orang desa, mencium aroma tanah yang pekat ketika hujan tiba, lalu tiba-tiba ditampar oleh kritik sosialnya yang menohok tanpa menggebu-gebu. Namun, waktu pertama kali saya membuka lembar-lembar Di Kaki Bukit Cibalak, rasanya sedikit berbeda. Ada sesuatu yang segar, seolah kita tidak sedang membaca Ahmad Tohari yang biasanya kita kenal lewat narasi-narasi magisnya.
Jika dibandingkan dengan Ronggeng Dukuh Paruk atau Bekisar Merah, novel ini sangat jauh berbeda dari segi gaya dan tema. Narasi perlawanannya tidak berdarah-darah, tidak sarat dengan mistisisme tradisional, atau pergulatan batin yang meratapi takdir kaum marginal secara berlebihan. Novel yang pertama kali terbit pada tahun 1994 ini justru seperti saudara kembar yang berbeda nasib dari Orang-orang Proyek—sebuah fiksi sosiologis yang memotret bagaimana modernisasi perlahan meremukkan moralitas masyarakat desa. Dari sini, Tohari sedang bercerita tentang benturan peradaban berskala kecil di Desa Tanggir, sebuah desa di kaki Bukit Cibalak yang dari luar kelihatan tenteram dan asri, tapi sebenarnya mulai membusuk dari dalam karena keserakahan manusia.
Baca juga:
Pambudi, pemuda berusia dua puluh empat tahun ini, adalah seorang anomali. Di tengah lingkungan pedesaan yang dipaksa modern atas nama “pembangunan”—sebuah alasan usang yang dari dulu sampai sekarang sering dipakai oleh kaum kapitalis—Pambudi memilih jalan sunyi untuk tetap menjadi orang yang berintegritas.
Karakter Pambudi ini sebenarnya mirip sekali dengan tokoh Kabul dalam “Orang-orang Proyek”. Dia digambarkan sebagai sosok lelaki yang wataknya serba positif: tulus, tenang, tidak mudah tersulut amarah, tapi punya tingkat keras kepala yang luar biasa kalau sudah menyangkut prinsip kebenaran. Jujur saja, manusia dengan jenis integritas seperti Pambudi ini rasanya sudah hampir punah di dunia kita yang serba pragmatis sekarang.
Menariknya, idealisme Pambudi yang kesepian ini mengingatkan saya pada sosok Don Quixote, karakter legendaris ciptaan Miguel de Cervantes. Seperti Don Quixote yang nekat menunggangi kudanya dan menyerang kincir angin raksasa karena dikira monster jahat, Pambudi juga maju bertarung melawan struktur kekuasaan di desanya dengan modal yang teramat rapuh: kejujuran dan selembar nurani. Dia adalah personifikasi dari semut kecil yang dengan sadar sedang menantang seekor gajah raksasa.
Di Desa Tanggir, “kincir angin raksasa” itu menjelma dalam wujud Pak Dirga, sang lurah yang korup. Pak Dirga adalah antitesis sempurna bagi Pambudi — mirip dengan Dalkijo yang menjadi lawan Kabul di Orang-orang Proyek, namun dengan dimensi yang berbeda. Jika Dalkijo beroperasi di balik kontrak dan anggaran proyek pemerintah, Pak Dirga justru lebih tradisional sekaligus lebih licik: ia memanipulasi dana bantuan rakyat, memainkan kuasa simbolik sebagai kepala desa, dan bahkan tidak ragu menggunakan praktik perdukunan untuk melanggengkan kekuasaan. Tohari seperti ingin mengatakan bahwa korupsi tidak pernah benar-benar berevolusi — ia hanya berganti kostum sesuai konteks zamannya.
Ketika Pambudi mencoba meluruskan apa yang bengkok, dia tidak lantas dipuji. Sebaliknya, dia malah dianggap sebagai musuh bersama, sebuah virus yang mengancam kenyamanan para penguasa desa. Di sinilah ironi terbesar yang ditulis oleh Tohari, menjadi benar di antara orang-orang yang salah justru dianggap sebagai sebuah dosa dan keburukan. Sistem yang rusak itu tidak mau diperbaiki, dan barang siapa yang menolak bekerja sama dalam tindakan lancung, dia harus disingkirkan. Pambudi akhirnya menerima badai fitnah dan terpaksa melangkah pergi, angkat kaki dari desanya sendiri, hanya karena ia menolak ikut menari dalam sirkus korupsi tersebut.
Melalui novel Di Kaki Bukit Cibalak, Tohari ingin menegaskan sebuah teguran keras bahwa kemajuan fisik di sebuah desa ternyata tidak otomatis membawa kesejahteraan atau kecerdasan bagi warganya. Fasilitas-fasilitas baru yang diidolakan itu justru sering kali berubah fungsi menjadi alat baru bagi mereka yang berkuasa untuk membodohi masyarakat yang kurang berpendidikan. Praktik KKN ternyata tidak perlu menunggu sampai level kementerian, ia sudah dimulai dan mengakar bahkan dari taraf terkecil dalam birokrasi, yaitu level pedesaan.
Baca juga:
Teguran Tohari di bab-bab terakhir novel ini terasa sangat nyata dan menohok. Teguran itu jelas bukan dialamatkan untuk orang-orang desa yang menjadi korban sistem, melainkan ditujukan langsung kepada kita, para pembaca kota yang duduk nyaman sambil menikmati segala fasilitas modern. Tohari seperti melayangkan sebuah tamparan panas tepat ke pipi kita, menggoyang zona nyaman, dan memaksa kita mempertanyakan kembali: apa sebenarnya arti dari kata “kemajuan” dan “pembangunan” yang selama ini kita agung-agungkan, jika pada prosesnya ia harus mengorbankan manusia-manusia jujur seperti Pambudi?
Novel Di Kaki Bukit Cibalak pada akhirnya adalah sebuah refleksi yang belum selesai. Sebuah cermin yang menunjukkan bahwa penyakit sosial dari tahun 1994 masih segar bugar dan eksis sampai sekarang. (*)
Editor: Kukuh Basuki
