Dulu, saya adalah bagian dari kelompok masyarakat modern yang tak bisa buang air besar tanpa bermain gawai. Sukar sekali rasanya mendatangi jamban tanpa menggenggam gawai di tangan. Ritualnya selalu sama: jongkok, membuka media sosial, dan berakhir terpaku menatap layar selama hampir setengah jam hanya demi menyaksikan aneka video pendek yang sama sekali tidak ada manfaatnya.
Setelah bertahun-tahun membiasakan diri buang air besar tanpa gawai, saya justru merasakan kenyamanan yang luar biasa. Masuk toilet hanya untuk buang air besar, selesai, lalu keluar. Pikiran pun menjadi jauh lebih tenang. Namun, tentu hal ini akan terasa tidak biasa bagi sebagian orang yang masih mempertahankan kebiasaan lama tersebut. Beberapa teman heran bukan main saat mengetahui saya mampu buang air besar tanpa bermain gawai. “Anomali dari mana Anda?”, “Lah, emang nggak bosan?” Itulah beberapa celetukan yang kerap saya dengar. Di mata mereka, buang air besar tanpa gawai seolah menjadi tindakan tidak wajar yang menyalahi kebiasaan manusia modern.
Reaksi kaget teman-teman saya itu membuat saya tersadar akan sebuah fenomena yang jauh lebih merisaukan, gawai pelan-pelan telah sukses membuat mayoritas manusia modern mengalami “mati rasa” massal terhadap alarm alami tubuhnya sendiri. Ruang privat yang dulunya menjadi benteng pertahanan terakhir bagi manusia untuk berkomunikasi dengan fisiknya, kini telah resmi dijajah oleh layar lima inci.
Sinyal Primitif Usus yang Kalah oleh Gawai
Mari kita telaah lebih dalam mengenai kebiasaan buang air besar sambil bermain gawai yang saat ini masih terus dilestarikan oleh banyak orang. Urusan personal ini bahkan menarik perhatian perusahaan keamanan siber sekelas NordVPN untuk melakukan riset. Dalam survei yang melibatkan 9.800 responden dari 10 negara, mereka menemukan bahwa 65 persen responden mengaku terbiasa membawa gawai ke toilet, dan lebih dari separuhnya memanfaatkan waktu tersebut untuk berselancar di media sosial. Bagi sebagian orang, melewatkan aktivitas buang air besar tanpa memeriksa media sosial kini rasanya bagai terisolasi dari dunia luar.
Secara evolusi, tubuh manusia dibekali mekanisme biologis yang canggih. Sistem pencernaan dan saraf bekerja sama memberi sinyal kapan saatnya mengejan dan kapan saatnya selesai buang air besar. Sialnya, sistem biologis yang telah berevolusi selama jutaan tahun itu ternyata kalah sakti dibanding algoritma media sosial yang usianya baru kisaran dua dekade. Ketika otak larut dalam gosip artis, perdebatan politik di X, atau video estetik di TikTok, fokus terhadap sensasi tubuh menjadi berkurang. Walhasil, seseorang tetap nangkring di atas jamban. Bukan karena proses buang hajat belum selesai, melainkan karena matanya masih terpaku pada layar.
Normalnya, seseorang hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk menuntaskan aktivitas biologis ini—idealnya tidak lebih dari sepuluh menit. Namun, sejak gawai menjadi barang bawaan wajib, durasi buang air besar masyarakat modern meningkat secara signifikan. Dampaknya jelas tidak main-main, duduk atau jongkok terlalu lama di atas jamban dapat meningkatkan tekanan pada pembuluh darah di sekitar anus. Bahkan, penelitian oleh Chethan Ramprasad et al. yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS ONE (2025) mempertegas bahwa kebiasaan bermain gawai di atas jamban meningkatkan risiko wasir hingga 46 persen. Penyakit yang dulunya lebih sering diidentikkan dengan kelompok lanjut usia, kini mulai marak dialami oleh generasi muda.
Ketika Layar yang Lebih Kotor dari Jamban Menjamah Meja Makan
Kelompok manusia modern yang sedang dibicarakan ini menaruh perhatian lebih terhadap dua pekerjaan paling purba umat manusia: mengeluarkan dan memasukkan. Selain tak bisa lepas dari gawai ketika buang air besar, mereka juga tak bisa melepaskan gawai ketika sedang makan. Gawai kini seolah tidak pernah absen menemani kedua aktivitas biologis mendasar tersebut.
Sebuah studi yang dilakukan oleh Nutrisystem—perusahaan penyedia program diet dan layanan nutrisi asal Amerika Serikat— pernah menyurvei ribuan orang dan menemukan hampir satu dari tiga tidak sanggup menyelesaikan makan tanpa ditemani gawai. Pada kelompok anak muda, angkanya bahkan lebih tinggi lagi. Bagi kelompok yang mempertahankan kebiasaan ini, komponen wajib di atas meja makan kini bukan lagi sebatas hidangan dan minuman, melainkan juga gawai yang sebelumnya mereka bawa dari dalam toilet.
Di sinilah salah satu ironi terbesar manusia modern. Sering kali kita merasa menjadi makhluk paling higienis di muka bumi. Menyentuh gagang pintu toilet umum sedikit saja sudah membuat kita ingin segera mencuci tangan. Di restoran, menemukan sedikit noda di sendok makan pun cukup untuk membuat kita memanggil pelayan dan meminta penggantian. Padahal, di saat yang sama, dengan santai kita menaruh gawai, bahkan memainkannya tepat di atas piring berisi makanan hangat yang siap dilahap. Riset populer dari para peneliti dari University of Arizona sudah berkali-kali mengingatkan bahwa layar gawai kita ternyata sepuluh kali lebih kotor dan penuh bakteri daripada jamban toilet umum.
Namun, kalau dipikir-pikir lagi, masalah terbesar gawai di meja makan mungkin bukan soal berapa banyak bakteri yang menempel di layarnya. Bakteri masih bisa dibersihkan dengan tisu disinfektan. Yang lebih sulit dibersihkan adalah cara gawai menyita perhatian kita. Ia membuat aktivitas sesederhana makan tidak lagi benar-benar terasa seperti makan, tapi sekadar gerakan mekanis menyuap makanan ke mulut sambil mata dan pikiran sibuk mengikuti apa yang terjadi di layar.
Pernah nggak, lagi asyik nonton beberapa video TikTok, tahu-tahu nasi goreng di piring sudah habis? Yang bikin heran, kita bahkan tak terlalu ingat detail rasanya. Pedasnya seberapa, gurihnya seperti apa, pokoknya lewat begitu saja. Saat nasi habis, perut rasanya masih biasa saja. Bahkan sempat merasa porsinya kurang. Tapi, beberapa menit kemudian tiba-tiba perut mual karena kekenyangan. Fenomena ini diberi nama mindless eating, yaitu kebiasaan makan dalam kondisi tidak sepenuhnya sadar karena perhatian terbagi. Dalam penelitian yang ditulis Renata Fiche da Mata Goncalves et al. yang dipublikasikan di jurnal Physiology & Behavior (2019), ditemukan bahwa ketika seseorang makan dalam kondisi terdistraksi, mereka cenderung tidak sadar sudah makan berapa banyak, karena sinyal kenyang tidak terbaca dengan optimal. Akibatnya, asupan kalori jadi berlebihan.
Sebuah Prestasi Bernama Buang Air Besar dan Makan Tanpa Gawai
Di dunia kesehatan, ada konsep yang disebut mindful eating, yaitu makan dengan penuh kesadaran, alih-alih membiarkan perhatian terseret ke mana-mana. Belakangan, gagasan yang sama juga dikenal dalam praktik mindful pooping, yaitu memberi perhatian pada sensasi tubuh saat buang hajat, bukan pada sinyal notifikasi dari media sosial. Sederhananya, kalau sedang makan ya makan, kalau sedang buang air besar ya buang air besar. Terdengar sepele, tetapi dengan mempraktikkan keduanya, setidaknya kita selangkah lebih jauh dari potensi kelebihan berat badan dan terkena ambeien.
Hal yang terkesan sederhana ini justru menjadi tantangan yang sangat besar bagi kelompok masyarakat modern yang telanjur memiliki ketergantungan tinggi terhadap gawai. Menjauhkan gawai saat makan dan meninggalkannya di luar toilet bukan lagi sekadar etika kuno warisan nenek moyang. Ini adalah cara sederhana untuk menyelamatkan diri agar kita tidak lupa caranya menjadi manusia yang utuh.
Hal ini merupakan bagian dari konsep mindfulness, istilah dalam psikologi yang merujuk pada kesadaran penuh terhadap apa yang sedang dialami tubuh dan pikiran pada momen saat ini, tanpa menghakimi atau terseret ke hal lain. Sederhananya, hadir sepenuhnya pada satu hal di satu waktu, alih-alih membiarkan pikiran tercerai-berai ke banyak hal sekaligus. Ketika kita bisa mengejan dengan kesadaran penuh sebagaimana kita mengunyah dengan kesadaran penuh, sesungguhnya kita sedang melatih hal yang sama—kemampuan untuk benar-benar hadir.
Bagi saya bisa buang air besar dan makan tanpa gawai adalah sebuah berkah, bahkan prestasi, di zaman sekarang. Akhir kata, jangan sampai keputusan mengenai kapan harus berhenti menyuap makanan dan kapan harus menyudahi jongkok di atas jamban, sepenuhnya diatur oleh layar gawai. (*)
Editor: kukuh Basuki
