Menyiksa Diri Sendiri dalam Neraka Paling Sunyi

Fitri Tiara Merdika

3 min read

“L’enfer, c’est les autres” — Neraka adalah orang lain. Sartre menulisnya pada tahun 1944. Sejak saat itu, berjuta manusia menggunakannya sebagai tameng untuk menjelaskan mengapa mereka lelah dengan manusia lain, mengapa hubungan selalu berakhir menyakitkan, mengapa menyendiri terasa lebih aman.

Tapi yang menjadi masalah adalah hampir semua orang mengutipnya dengan serampangan.

Sartre sendiri, dalam wawancara pada 1965, meralat cara publik memahami kalimat itu. Ia menjelaskan, kutipan itu tidak bermaksud mengatakan bahwa orang lain selalu menjengkelkan atau selalu jahat. Ia bicara tentang sesuatu yang lebih spesifik yaitu bagaimana keberadaan orang lain secara struktural mengubah cara kita melihat diri sendiri. Bukan karena mereka jahat. Tapi karena mereka ada, dan kehadiran itu memaksa kita menjadi sesuatu yang tidak sepenuhnya kita pilih.

Yang Sartre tidak cukup tekankan atau mungkin memang disengaja agar kita temukan sendiri adalah, jauh sebelum orang lain menjadi neraka, kita sudah lebih dahulu membangun ruang hukuman itu dari dalam.

Ketika Tatapan Orang Lain Mengubah Kamu Menjadi Objek

Dalam No Exit, tiga karakter dikurung dalam sebuah ruangan tanpa cermin. Tidak ada alat penyiksa. Tidak ada api. Hanya tiga orang yang saling menatap dan itulah siksaannya.

Baca juga:

Sartre menyebut ini le regard, tatapan. Ketika orang lain menatap kamu, mereka tidak sekadar melihat tetapi mereka juga mengubahmu menjadi objek. Tiba-tiba kamu bukan lagi subjek yang hidup dan bergerak bebas; kamu menjadi sesuatu yang dinilai, dikategorikan, dan disimpulkan. Kamu kehilangan kendali atas narasi dirimu sendiri hanya karena ada sepasang mata lain yang melihat ke arahmu.

Kedengarannya abstrak. Tapi cobalah ingat terakhir kali kamu masuk ke sebuah ruangan yang sudah penuh orang, dan kamu tiba-tiba sadar akan cara jalanmu sendiri.

Tatapan yang paling menyiksa itu seringkali tidak nyata. Kita yang menciptakannya, lalu membiarkan ciptaan itu mendikte cara kita berdiri, berbicara, dan memutuskan apakah kita layak ada di ruangan itu.

Tapi masalahnya tidak berhenti di sana. Ketika kita terus-menerus membayangkan bagaimana orang lain melihat kita, kita mulai memainkan peran berdasarkan bayangan itu. Kita tidak lagi bertindak dari keinginan sendiri tetapi kita bertindak dari perkiraan tentang apa yang orang lain harapkan. Dan lama-kelamaan, kita lupa mana yang asli.

Kepandaian Kita Dalam Menipu Diri Sendiri

Sartre punya nama untuk itu: mauvaise foi, atau bad faith. Sebuah kondisi di mana manusia berpura-pura tidak punya pilihan padahal selalu ada pilihan.

Contoh paling terkenal ada di Being and Nothingness: seorang pelayan kafe yang bergerak terlalu sempurna, terlalu gesit, terlalu penuh senyum profesional, terlalu menjadi “pelayan.” Sartre berkata pelayan itu sedang memainkan dirinya sebagai pelayan. Ia menolak mengakui bahwa ia adalah manusia bebas yang setiap pagi memilih untuk datang bekerja. Lebih mudah menjadi peran daripada menghadapi kebebasan dan tanggung jawab yang menyertainya.

Baca juga:

“Kita memainkan ‘orang yang kuat karena tidak ada pilihan lain.’ Kita memainkan ‘aku tidak peduli’ ketika sebenarnya sangat peduli.”

Kita semua adalah pelayan itu. Dalam bentuk-bentuk yang berbeda.

Kita memainkan “ini memang kepribadianku” untuk menghindari pertanyaan yang lebih menyakitkan: apakah aku memilih ini, atau aku hanya takut memilih yang lain? Kita memainkan “tidak ada pilihan” untuk tidak harus menanggung beratnya kenyataan bahwa ada pilihan, tapi kita tidak berani mengambilnya.

Mauvaise foi bukan kelemahan moral. Ia adalah mekanisme bertahan hidup yang sangat manusiawi. Menghadapi kebebasan penuh itu melelahkan bahkan menakutkan. Jauh lebih nyaman mengklaim bahwa situasilah yang memaksa, bahwa tidak ada jalan lain, bahwa “aku memang begini.”

Tapi nyaman dan jujur adalah dua hal yang jarang ada di ruangan yang sama.

Membangun Neraka yang Paling Sunyi 

Kembali ke kutipan “Neraka adalah orang lain” — sebagian, ya, benar. Tapi orang lain hanya bisa menjadi neraka karena kita memberi mereka bahan bangunannya. Kita yang menyediakan rasa takut akan penilaian mereka. Kita yang memperbarui narasi tentang betapa buruknya kita setiap kali ada yang melirik. Kita yang merawat mauvaise foi dengan kesungguhan penuh setiap hari, tanpa disadari.

Tidak ada yang lebih efisien merusakmu selain dirimu sendiri. Karena tidak ada yang tahu di mana letak retakanmu lebih baik darimu.

Penelitian dari National Science Foundation memperkirakan manusia menghasilkan sekitar 12.000–60.000 pikiran per hari. Dari jumlah itu, sekitar 80% bersifat negatif, serta 95% adalah pengulangan dari pikiran hari sebelumnya. Sebagian besar dari pikiran negatif itu berkaitan dengan penilaian terhadap diri sendiri, bukan terhadap orang lain.

Ini bukan tentang menyalahkan diri sendiri. Sartre tidak pernah bermaksud demikian. Eksistensialisme bukan tentang siapa yang salah. Ia tentang apa yang kamu lakukan dengan kenyataan ini. Jika kamu adalah sumber dari sebagian besar penjaramu sendiri, maka kamu juga secara teori memegang kunci pintunya.

Tapi kunci itu tidak gratis. Ia mensyaratkan kejujuran yang tidak nyaman: bahwa banyak hal yang kamu klaim sebagai “kondisi” sebenarnya adalah pilihan. Bahwa identitas yang kamu pertahankan mati-matian mungkin adalah kostum yang kamu pakai terlalu lama sampai lupa bagaimana melepasnya. Bahwa tatapan yang paling keras menghakimi kamu itu milikmu sendiri.

No Exit berakhir dengan salah satu baris paling jujur dalam sejarah teater: “Yah, mari kita teruskan.” Tidak ada yang pergi. Tidak ada yang kabur. Mereka hanya melanjutkan. Tiga orang dalam satu ruangan, saling menjadi neraka satu sama lain, karena tidak ada satu pun yang punya keberanian untuk pertama-tama keluar dari neraka yang mereka bangun di dalam diri mereka sendiri.

Sartre menutup dramanya di sana. Tapi hidupmu tidak harus berakhir dengan baris yang sama. (*)

 

Editor: kukuh Basuki

Fitri Tiara Merdika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email