Menulis apa saja yang bisa ditulis. Menulis karena boleh. Instagram: @azvagen

Kedung dan Selubung di Balik Panggung

Wahyu Agil Permana

3 min read

Bagi saya, Kedung Darma Romansha adalah prototipe ketika Wiji Thukul dan Joko Pinurbo berpadu padan. Setidaknya kesan itulah yang pertama kali saya tangkap ketika membaca kumpulan puisinya, Tarling Dangdut Diva Pantura.

Kesan itu terasa sejak membaca pengantar “Lagu Pembuka” yang menjadi pintu masuk menuju teks-teks puisi dalam buku ini. Begitu memasukinya, pembaca tidak disuguhi struktur sajak yang rapi atau pilihan diksi rumit yang memaksa membuka kamus. Sebaliknya, Kedung justru membuka puisinya dengan senarai sambutan kepada deretan elite partai, konten kreator, musisi, penyair, aktris, hingga sutradara kenamaan.

Sebagaimana dua buku sebelumnya, Kelir Slindet dan Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat, puisi-puisi dalam buku ini kembali menjadikan tarling dangdut sebagai pijakan utama. Oleh Kedung, dunia dangdut dijadikan semacam tustel untuk memotret sengkarut kehidupan sosial masyarakat urban di wilayah Pantura melalui analogi yang ringan bahkan terkadang terasa nyeleneh. Di titik itulah saya merasa pantas menyebut Kedung Darma Romansha sebagai prototipe perpaduan antara Wiji Thukul dan Joko Pinurbo. Kritis tetapi tidak kehilangan kelakar, tajam tetapi tetap cair.

Baca juga:

Membaca Tarling Dangdut Diva Pantura tidak lain seperti duduk di tengah pertunjukan dangdut yang riuh, penuh lampu warna-warni, saweran, dan suara biduan yang beradu dengan kenyataan hidup masyarakat kelas bawah. Puisi-puisinya bergerak dengan ritme yang lentur dan jenaka, sebagaimana musik dangdut yang mampu membuat orang bergoyang-cincang.

Jika ditilik dari arsitektur puisinya, Kedung terlihat sangat menikmati permainan bahasa. Ia jeli membolak-balikkan susunan kata, lalu membiarkan kata-kata itu berkembang dan bermain sendiri. Kecenderungan itu tampak dalam beberapa judul puisinya, seperti Pilkada (kalau jadi pasti lupa), Pil KB (kalau lupa pasti jadi), atau Ketika Hatimu dan Hatiku Bertemu di Jalan Maka di Sana Tedapat Dua Hati yaitu Hati-Hati di Jalan.

Kedung juga piawai dalam memadatkan persoalan sosial ke dalam larik yang singkat namun menghentak. Dalam sajak Janji Mangsa Ketiga, contohnya, ia membuka puisinya dengan kalimat “ketika lumbung dan lambung / dilubangi kemarau panjang”. Dua kata kunci, “lumbung” dan “lambung” menjadi pusat kekuatan estetik sekaligus maknawi dalam penggalan tersebut. Keduanya menghadirkan keselarasan bunyi yang ritmis, di samping juga menyimpan hubungan yang tragis: ketika lumbung kosong, lambung pun ikut melompong.

Kedung tampaknya sengaja memilih diksi-diksi sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari tetapi mampu membuka lapisan tafsir yang lebih rumit. “Lumbung” dimaknai sebagai simbol ketahanan hidup dan kesejahteraan masyarakat, sementara “lambung” merepresentasikan organ dasar manusia yang membutuhkan makan untuk bertahan hidup. Pertautan kedua kata ini memperlihatkan bahwa krisis alam selalu berujung pada krisis kemanusiaan.

Tak berhenti di situ, dalam buku ini, pembaca juga akan dipertemukan dengan pusparupa tokoh yang memiliki lukanya masing-masing. Sosok Nok Iti, misalnya, ditampilkan sebagai biduan yang dipandang dari atas panggung sekaligus menjadi bagian penting dari narasi puisi. Melalui dirinya, pembaca diajak bertamasya melihat kerasnya kehidupan perempuan Pantura yang akrab dengan berbagai problem, mulai dari perceraian, perselingkuhan, himpitan ekonomi, hingga kenyataan bahwa banyak perempuan terpaksa menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) demi menyambung hidup.

Hal itu tersingkap jelas dalam sajak #SaveNokItti. Dalam puisi tersebut, Kedung menamsilkan tubuh, keterasingan, dan relasi kuasa dalam masyarakat yang semakin dikepung citra. Kalimat pembukanya, “Tubuh ini bukan milik siapa-siapa / dan milik siapa-siapa”, memperlihatkan paradoks yang menjadi inti puisi. Tubuh di sini dicitrakan sebagai sesuatu yang anonim sekaligus komunal. Ada semacam ironi tentang bagaimana perempuan modern kehilangan otoritas atas dirinya sendiri.

Dalam sajak itu pula, Kedung seperti sengaja memperlihatkan bagaimana tubuh perempuan terus menjadi komoditas: dipakai kampanye, dipakai industri hiburan, bahkan dipakai untuk menggaet algoritma media sosial. Semua itu seolah menunjukkan bahwa manusia hari ini nyaris tidak bisa lepas dari jaringan kuasa politik dan ekonomi.

Tamsil lain juga terpampang dalam puisi Dulatip Ketiban Serban Kaji Daspan yang membongkar bagaimana kemiskinan membuat manusia terpaksa menukar harga dirinya demi sesuatu yang disebut kebahagiaan. Tokoh Dulatip hadir sebagai representasi masyarakat kecil yang hidup dalam keterbatasan akut. Larik rumahnya / yang mirip kandang sapi menjadi penanda strata sosial yang sangat jelas.

Sementara di sisi lain, Kaji Daspan muncul sebagai sosok yang “menolong” Dulatip, kendati bantuan itu mesti dibayar menyerahkan tubuh anaknya lewat pernikahan siri. Di sinilah ketimpangan relasi kuasa itu terang-benderang, di mana kemiskinan membuat rakyat kecil tak punya pilihan selain menyerahkan anak perempuannya kepada laki-laki yang lebih berkuasa secara ekonomi.

Baca juga:

Yang tak kalah menarik dari puisi Dulatip Ketiban Serban Kaji Daspan adalah daya ledaknya yang nekat menggugat ungkapan klise bahwa “bahagia itu sederhana”. Kedung dengan tanpa tedeng aling-aling menolak romantisasi kemiskinan melalui larik “bohong jika orang bilang bahagia itu sederhana / sebab mereka bukan Dulatip”. Sebuah tamparan keras bagi kelas menengah yang gemar memproduksi narasi motivasi dan meromantisasi kesederhanaan tanpa pernah mengalami lapar, terlilit utang, atau hidup di rumah “mirip kandang sapi”.

Terlepas dari aneka kelakar dan permainan katanya, puisi-puisi Kedung sesungguhnya menyimpan kegelisahan yang serius. Ia memamerkan bagaimana orang-orang kecil bertahan hidup di tengah situasi yang seringkali tidak berpihak pada mereka. Dangdut, dalam hal ini, menjadi medium untuk merekam luka, keterasingan, dan berbagai ironi kehidupan sehari-hari di Pantura.

Tarling Dangdut Diva Pantura adalah potret bagaimana nelangsanya masyarakat kelas bawah mengadu nasib di tengah bising hiburan, ketimpangan sosial, dan kerasnya realitas sehari-hari. Melalui deretan puisi-puisinya, pembaca diajak menyelami lapisan di balik panggung (kehidupan) yang kerap terselubung. Barangkali memang, sebagaimana tertuang dalam salah satu penggalan puisinya, “hidup tak sesederhana yang diucapkan / dan tak segawat yang ditafsirkan”. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Wahyu Agil Permana
Wahyu Agil Permana Menulis apa saja yang bisa ditulis. Menulis karena boleh. Instagram: @azvagen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email