Penulis Lepas dan Arsiparis yang Tinggal di Kota Surakarta

Bebaskan Dirimu, Jadilah Autentik!

M. Ghaniey Al Rasyid

2 min read

Jean Paul Sartre filsuf asal Prancis ini dikenal dengan filsafat eksistensialismenya. Ia memikirkan manusia dan segenap jati dirinya yang terkadang kalut oleh realitas. Perenungan dan peremenungan dilakoni  Sartre untuk mengisahkan tentang autentik.

Menjadi menusia autentik acap kali sulit dilakukan, akan tetapi memperjuangkannya menjadi ada, ialah kehormatan. Filsuf ini, merenungkan yang autentik bukan hanya duduk di balik layar penuh sunyi. Akan tetapi ia turut pula melakoni sebagaimana dilakoni oleh manusia pada galibnya. Menerabas kebisingan, menjemput pilihan.

Sartre menjemput yang autentik, ia sempat menjadi seorang pelayan warung kopi tepatnya di Café de Flore dan Café Les Deux Magot. Jalan yang melintang disebelah dua café itu, kini dinamakan sebagai Jalan Eksistensialisme. Di tempat itu, Sartre menuliskan nukilan dari perenungan di sela-sela pekerjaannya sebagai seorang pelayan. Ia merenung dan menemukan bagaimana yang autentik harus terbesit dalam diri setiap insan yang berpikir.

Eksistensialisme di Prancis, sempat merasakan era keemasannya pada 1940-1950. Aliran filsafat ini bukan hanya jadi diskursuf filosofis, akan tetapi menjadi aliran dalam sastra, gaya hidup dan fenomena kultural, bahkan aliran politik. Sartre hidup pada masa itu. Ia menciptakan beberapa karya penting guna menyuguhkan maksud ‘manusia yang autentik,’ dalam sudut pandang eksitensialismenya.

Sempat mencicipi sebagai pelayan kafe, Sartre menemukan maksud dari yang autentik. Ia harus bersikap luwes dan menanyakan beberapa kata monoton seperti “Selamat datang” atau “Sudahkan Anda memesan?” Di situlah Sartre merasakan perasaan yang mengganjal. Ia berlagak seperti bukan dirinya sendiri. Sartre terpaksa untuk menjadi keinginan orang lain.

Kendati demikian, dengan perasaan penuh kesadaran, Jean Paul Sartre meluangkan waktu di saat ia bekerja dengan merenungkan aspek-aspek menjadi manusia yang autentik. Maka, ia menyiratkan beberapa sumbangsih ide berupa naskah drama berjudul Pintu Tertutup, yang sebenarnya menceritakan mengenai pelayan kafe yang berkesadaran untuk menjadi yang autentik, di mana ditulis Sartre saat sela senggang setelah menyiapkan hidangan untuk pelanggan.

Baca juga:

Sebuah adagium terkenal dari Jean Paul Sartre tersirat dalam naskah dramanya dalam Pintu Tertutup (Pustaka Jaya, 1976) diterjemahkan oleh Ajip Rosidi, yaitu “yang lain ialah neraka”. Kalimat itu mengundang permenungan. Seakan-akan individu dikerangkeng oleh obyektivitas lainnya pula.

Menurut A. Sudiarja (2020), realitas manusia tak pernah luput dari pengobyekan. Hal itu muncul dari realitas ‘tatapan’ (look/ le regard) yang tak dapat dipungkiri dimiliki oleh setiap insan. Sartre membagi tiga etape untuk memaknai manusia yang autentik. Pertama, Sartre mengenalkan “ada untuk diri” dan “ada dalam diri”, dan posisi ketiga beruapa “ada untuk yang lain” (being for other).

“Ada untuk yang lain” menurut Sartre sebagaimana dijelaskan oleh Sudiarja (2020) bahwa bukanlah tindakan sosial atau perilaku altruis sebagaimana dibayangkan dalam berbagai aliran etika, melainkan sekadar ketersediaan bahwa individu merima ‘tatapan’ dan menjadi obyek bagi lainnya.

Sartre kemudian menekankan kepada proses menjadi autentik, di mana menjadi autentik itu bermula dari kejujuran, terbuka dan tanpa tedheng aling-aling. Tak hanya itu, manusia yang autentik bagi Sartre yaitu seseorang yang memiliki keberanian untuk memilih kebebasannya secara penuh, menjalankan pilihan-pilihan hidupnya guna membangun makna dari diri sendiri.

Namun, hal itu tak terberi bagi yang tercerabut atau tidak autentik. Bagi Sartre orang yang tidak autentik adalah manusia yang tidak menyadari dirinya. Ia dapat pula bertingkah sebagai kemunafikan, pura-pura suci, berlagak sok baik dan merasa minder atas pilihan hidup yang tengah ia lakoni.

Mempelajari gagasan Jean Paul Sartre, kita dapat menekankan kepada kesadaran untuk bersikap. Di dunia yang bising, menurut Sartre harus dimulai dari sang perenung untuk mengamati dirinya sendiri guna menjadi manusia yang bebas dan autentik. Mereka berhak untuk menjadi apa yang ia yakini dan menjadi apa yang ia tentukan.

Baca juga:

Gagasan demi gagasan disuguhkan Sartre, meskipun banyak pelbagai jalan buntu di saat mengaplikasikannya. Ruang kita bukan hanya pada diri kita. Kita bersua kemudian menemukan batasan-batasan yang ditentukan oleh konsesnsu kelompok. Syahdan, Sartre pun bergeming bahwa kehendak pribadinya akan berhadapan dengan mereka yang riskan, membatasi, mengurung, bahkan menghilangkan setitikpun atas keinginan menjadi (being to be).

Ujaran untuk mengurangi bahkan menghilangkan kehendak untuk bersikap dan menjadi seperti apa yang menyeruak dalam benak, disitulah seorang yang sadar menyikapi bahwa semakin pohon bertumbuh semakin keras pula derap angin menghantamnya.

Saripati gagasan Sartre acap kali membikin siapapun untuk berlama-lama mengamati dan menyigi setiap kata dalam karyanya. Dari situlah kemudian kita diajak menyadari, siapakah kita, akan kemana dan menjadi apa. Pilihan ada di tangan kita, dan tak ada pilihan yang luput dari resiko. Jadilah autentik, meskipun pelik, konon itu terhormat. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

M. Ghaniey Al Rasyid
M. Ghaniey Al Rasyid Penulis Lepas dan Arsiparis yang Tinggal di Kota Surakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email