Menelusuri jejaring sosial membuat saya semakin menyadari banyak orang terkadang saling membagikan berbagai macam perspektifnya terkait makna kehidupan, entah mencari atau mendadak menemukan hingga melahirkan perspektif baru. Salah satunya melalui musik, ia tak jarang berperan menjadi latar kehidupan para penikmatnya hingga mewarnai kehidupan kompleks itu sendiri.
Secara personal, hal yang sama juga membawa sayamerasakan lagi-lagi musik adalah salah satu pelengkap untuk kedinamisan langkah hidup. Akhir-akhir ini salah satu karya dari musisi Korea Selatan menuntun saya menemukan hakikat menjalani hidup sesungguhnya, yaitu Band Indie-Rock bernama The Rose, yang beranggotakan empat orang diantaranya, Woosung/Sammy, Dojoon/Leo, Hajoon/Dylan dan Taegyeom/Jeff.
Baca juga:
Band dengan sentuhaan Soft Rock–nya yang konsisten mengusung konsep kehidupan personalnya, namun ketika sudah mengudara pasti akan bersifat universal, membuat mereka tak jarang meramu karyanya setelanjang mungkin hingga banyak menuangkan kejujuran di dalamnya. Dalam lagunya yang berjudul Nebula, mereka merepresentasikan kebebasan memilih yang sangat dibutuhkan di setiap perjalanan hidup— setelah intro melankolis, disusul vokal Dojoon membuka lirik dengan kesan yang cukup introspektif:
Counting stars i closed my eyes
Menghitung bintang, ku pejamkan mataku
Searching for answers of life
Mencari jawaban atas kehidupan
Saw shapes and patterns of the old
Terlihat bentuk dan pola dari masa lalu
They pulled me in closer to a world never told
Menarikku mendekat ke dunia yang tak pernah diceritakan
Menggambarkan bagaimana kehidupan yang selalu diliputi tanda tanya besar, hal-hal diluar kendali pun sering bersemayam di sudut kepala. Dojoon membuka lirik tersebut seolah memberi pengakuan bagaimana manusia memang berada di dunia yang tidak pernah diceritakan sebelumnya hingga seringkali merasa hilang arah dan memori masa lalu terkadang menjadi satu-satunya kompas ketika tersesat.
Lagu ini dirilis pada tahun 2025 melalui Album WRLD, album dengan isi yang cukup manusiawi yang justru mengundang orang-orang untuk memperlambat waktu agar terus menjelajah rasa syukur ditengah kehidupan yang berjalan begitu cepat, terbukti pada chorus di lagu ini, bagian paling krusial yang berisi:
Let go of yourself. Yeah, they call me out
“Lepaskan dirimu”. Ya, mereka memanggilku keluar
But i’m holding on pieces of my soul
Namun aku tetap bertahan pada serpihan jiwaku
To the things i love, to the years i love
Pada hal-hal yang ku cintai, pada tahun-tahun yang ku cintai
The Rose seakan menciptakan sebuah ruang istirahat sejenak untuk menyampaikan– jangan pernah melupakan rasanya kembali pulang pada diri sendiri, untuk bernafas sebelum memulai kembali. Alih-alih terus mencari jawaban kehidupan, sejatinya, mulailah mencintai hal-hal kecil dan menerima semua memori– baik atau buruk adalah salah satu cara yang lebih baik untuk memulai menghargai hidup itu sendiri.
Namun, lagi-lagi realita manusiawi ini kembali disampaikan oleh Woosung pada verse ke-dua, perjalanan mencari jati diri memang selalu indentik dengan rasa kesendirian yang cenderung seringkali membuat tanda tanya besar di kepala bagaimana ingin memulai menghargai hidup sedang kehidupan itu sendiri belum bisa dinikmati?
Stepping through the stones unknown
Melangkah melewati bebatuan yang tak diketahui
I’m floating but i’m alone
Aku melayang, namun sendirian
Knocking ‘til the truth unfolds
Mengetuk hingga kebenaran terungkap
Perasaan valid yang muncul akibat kekacauan hidup, hampir semua orang merasakan hal tersebut. Berantakan—tapi itulah kehidupan yang sementara, yang dikejar hingga setengah sengsara. Pengakuan tersebut membawa saya masuk ke dalam ruang hampa yang tenang, validasi yang mendekap untuk membentuk keberanian agar terus bernapas di dalam ketidakpastian.
Baca juga:
Nebula secara harfiah ialah sebuah ruang jauh di angkasa yang seringkali disebut sebagai tempat terjadinya kehancuran bintang-bintang sekaligus terciptanya bintang-bintang baru— The Rose memang selalu memiliki banyak cara untuk bebas dalam mengekspresikan dirinya pada musik tak heran mereka memilih menggaungkan Nebula sebagai ajakan memperlambat waktu. Kehidupan boleh berantakan dan tidak sempurna tetapi dikeluarkannya tetap harus indah.
Hingga pengulangan lirik “To the years i love” sebanyak tujuh kali di akhir lagu adalah validasi yang kembali dipertegas bahwa terkadang melamban bukanlah sesuatu yang buruk. Itu seperti memberi cara lain untuk benar-benar merasakan hidup. Mencari jati diri tanpa kehilangan diri sendiri bukan melewatinya dengan tergesa-gesa. Menerima dan mencintai tahun-tahun yang telah membangun tumpukan memori, kegagalan, hingga kebahagiaan sebagai satu kesatuan hingga akhirnya bisa melahirkan kehidupan baru kembali. (*)
Editor: Kukuh Basuki
