Menjadi Kartini Seutuhnya

sajad khawarismi maulana musthofa

3 min read

Kartini tidak pernah meminta untuk dikenang. Ia tidak pernah ingin menjadi sekadar nama yang kita sebut tiap 21 April. Ia tidak mencari pujian atau penghargaan. Ia hidup dalam keheningan, menghadap dinding-dinding adat yang mengekang, memandang jauh ke depan, menatap mimpi yang hanya bisa diwujudkan melalui tulisan.

Dari balik tembok pengasingannya, Kartini menulis surat. Surat yang menjadi lebih dari sekadar kata-kata. Ia menulis untuk sebuah dunia yang ia tahu akan tetap membelenggu dirinya, namun ia tidak diam. Surat-surat itu adalah perlawanan. Sebuah perlawanan terhadap ketidakadilan yang tak kasat mata, yang telah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, zaman bergerak. Surat-surat Kartini kini telah lama dibaca oleh banyak orang. Suara-suara perempuan yang dulu terbungkam kini mulai terdengar. Tapi suara itu semakin teredam dalam gemuruh informasi, dalam kebisingan digital yang tak pernah berhenti. Pertanyaannya, apakah semangat Kartini masih hidup? Atau apakah kita hanya mengenang Kartini dalam ritual-ritual kosong yang tidak pernah menuntun kita kepada perubahan?

Baca juga:

Pendidikan: Jalan Pencerahan yang Masih Terhalang

Di masa Kartini, pendidikan adalah hak yang begitu sulit dijangkau, bahkan bagi sebagian besar laki-laki, apalagi perempuan. Dunia pendidikan, yang seharusnya menjadi jalan keluar dari kegelapan, justru menjadi milik segelintir orang. Kartini, dalam tulisannya, menunjukkan bagaimana pengaruh budaya, tradisi, dan bahkan kolonialisme yang lebih rapat mengikat daripada tembok-tembok batu. Ia mengerti bahwa tanpa pendidikan, perempuan akan tetap berada dalam ketidakberdayaan.

Kini, kita hidup dalam dunia yang berbeda. Pendidikan tidak lagi dibatasi oleh gender. Tapi apakah akses itu benar-benar merata? Apa artinya pendidikan jika hanya menghasilkan pemikir-pemikir yang terjajah oleh angka dan gelar? Apakah pendidikan kita hanya melahirkan manusia-manusia yang siap menjalani rutinitas tanpa pertanyaan, ataukah kita bisa mengasah pikiran kritis, membebaskan diri dari dogma, dan berani bertindak berdasarkan pengetahuan?

Menjadi Kartini di dunia pendidikan hari ini bukan sekadar menuntut hak perempuan untuk belajar. Itu sudah menjadi kewajiban kita semua. Hal yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita memanfaatkan pendidikan untuk membongkar struktur sosial yang masih menganggap sebagian orang tak pantas menerima pengetahuan.

Pendidikan harus menjadi senjata untuk melawan ketidakadilan, bukan sekadar alat untuk mengejar status. Dan dalam pendidikan, kita harus mampu mempertanyakan, bahkan mengguncang, sistem yang ada. Karena tanpa itu, kita hanya akan menjadi bagian dari roda yang terus berputar tanpa arah.

Digitalisasi dan Kegelisahan Sosial yang Menyebar

Hari ini, suara kita bisa menyebar lebih cepat dari yang pernah dibayangkan Kartini. Dunia digital membuka ruang yang luas. Facebook, Twitter, Instagram, dan segala macam platform telah menjadi ladang bagi setiap orang, terutama perempuan, untuk berbicara, berbagi, dan melawan. Jika hidup di hari ini, Kartini mungkin akan melihat dunia yang lebih bebas, namun juga lebih cacat.

Di balik kemajuan teknologi ini, ada banyak suara yang terbungkam, banyak ketidakadilan yang tersembunyi dalam tiap unggahan dan cuitan. Apa yang dulunya hanya bisa diungkap lewat surat, kini bisa viral dalam hitungan menit. Tetapi, seperti yang kita tahu, tak semua yang viral membawa perubahan. Banyak di antara kita yang terperangkap dalam narasi yang diproduksi oleh algoritma. Dunia maya yang katanya bebas, justru menjadi medan pertempuran yang penuh dengan kebisingan. Orang-orang tak lagi mendengarkan, mereka hanya berteriak. Seolah-olah kita mencari keadilan dalam sebuah dunia yang menganggap semuanya hanya sebuah pertunjukan.

Menjadi Kartini di era digital berarti tidak hanya menulis atau berbicara, tetapi berani melawan kebisingan itu. Berani mempertanyakan kenyataan yang dibangun oleh algoritma dan budaya digital. Berani untuk tidak menjadi bagian dari hiruk-pikuk tanpa makna. Kartini tidak akan menyerah hanya karena zaman berubah. Perjuangan harus tetap dilanjutkan, di dunia maya, di dunia nyata, dan di setiap sudut tempat kita berada.

Feminisme yang Seharusnya Tidak Eksklusif

Feminisme adalah kata yang kadang terdengar asing bagi sebagian orang, seolah-olah itu adalah perjuangan untuk perempuan-perempuan yang elit, yang terpelajar, yang bisa berbicara di forum-forum internasional. Padahal, feminisme adalah tentang hak yang paling dasar: hak untuk tidak diperlakukan sebagai warga kelas dua, hak untuk bisa menentukan jalan hidup sendiri tanpa dibatasi oleh tradisi, adat, atau norma yang menindas.

Baca juga:

Kartini tidak membicarakan feminisme dengan istilah-istilah berat atau dalam seminar-seminar akademis. Ia berbicara tentang keadilan dalam bentuk yang paling sederhana. Ia berbicara tentang hak untuk belajar, bebas dari ikatan yang membelenggu dan menjadi manusia seutuhnya.

Di era sekarang, kita melihat banyak perempuan yang merasa dihakimi hanya karena menuntut hak mereka. Banyak yang takut berbicara tentang ketidaksetaraan karena takut dilabeli ekstrem atau bahkan antipati terhadap laki-laki. Feminisme yang sejati bukanlah gerakan yang menuntut kebencian, tetapi perjuangan yang mendasar untuk setiap orang untuk diperlakukan dengan adil.

Menjadi Kartini seutuhnya adalah tentang melampaui batas-batas itu. Memahami bahwa feminisme tidak hanya milik perempuan terpelajar atau mereka yang berada di posisi kekuasaan. Feminisme adalah perjuangan setiap perempuan—dari mereka yang ada di ruang kelas hingga mereka yang bekerja di pasar, dari mereka yang menulis di jurnal akademik hingga mereka yang berbicara di dapur rumah tangga.

Menjadi Kartini yang Tidak Pernah Diam

Kartini bukan sekadar sejarah. Ia adalah cerminan dari perlawanan yang tak pernah berhenti. Dalam dunia yang terus berubah, ia tetap mengingatkan kita bahwa perlawanan bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi tentang keteguhan untuk terus berjalan, untuk terus berjuang meskipun jalan itu penuh kerikil.

Menjadi Kartini seutuhnya berarti tidak hanya mengenakan kebaya atau menunggu momen untuk diingat. Itu berarti melangkah dengan berani, merespons ketidakadilan dengan tindakan, dan memperjuangkan hak kita untuk hidup seutuhnya. Bukan hanya untuk kita, tapi untuk dunia yang lebih baik. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

sajad khawarismi maulana musthofa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email