Saya pernah percaya bahwa kerja keras akan menemukan jalannya sendiri menuju kebahagiaan. Barangkali, keyakinan itu terbentuk dari nasihat yang sejak kecil akrab di telinga: siapa yang rajin bekerja akan menuai hasilnya, siapa yang bersungguh-sungguh akan hidup lebih baik.
Keyakinan itu pula yang saya pegang ketika memutuskan untuk mengambil beberapa pekerjaan dari awal kuliah sampai lulus. Dari barista, jualan es teler, packingan grosir, hingga mencoba membuka usaha kecil-kecilan berjualan nasi ayam di Kediri.
Namun, semakin lama saya bekerja, semakin saya menyadari bahwa hidup tidak sesederhana rumus yang dipercaya oleh banyak orang. Kerja keras memang membuat saya bertahan, tetapi tidak benar-benar membawa saya melangkah lebih jauh.
Pada fase itu saya mulai bertanya pada diri sendiri: benarkah kerja keras membuat seseorang bisa hidup dengan layak? Atau jangan-jangan, selama ini kita terlalu sering memuji kerja keras tanpa pernah sungguh-sungguh melihat medan yang dilalui oleh mereka yang bekerja keras?
Pertanyaan itu terus mengganggu saya. Semakin sering saya memperhatikan kehidupan para pekerja, semakin saya menemukan kenyataan yang sama. Mereka bangun sebelum matahari terbit, pulang ketika langit mulai gelap, bahkan ada yang menjalankan lebih dari satu pekerjaan. Akan tetapi, kehidupan layak masih jauh dari jangkauan.
Barangkali, kita terlalu mudah mengatakan bahwa kemiskinan adalah akibat dari kurangnya usaha. Padahal, pengalaman mengajarkan saya bahwa bekerja keras dan kesejahteraan adalah dua hal yang berbeda. Ada persoalan yang jauh lebih besar daripada kemalasan atau kesungguhan. Persoalan itu bernama kebijakan.
Baca juga:
Walking Poor
Sering kali kita mengira persoalan utama generasi anak muda sekarang adalah pengangguran. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Kita sering menemui banyak orang sudah bekerja melampaui waktu dan tenaga, tetapi masih jauh dari hidup sejahtera. Dalam ilmu ekonomi dikenal istilah working poor, yaitu orang-orang yang memiliki pekerjaan tetapi penghasilannya belum mampu memenuhi kebutuhan hidup secara layak.
Indonesia pun tidak luput dari persoalan serupa. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Februari 2026 tingkat pengangguran memang berada di kisaran 4,76 persen, lebih rendah daripada tahun sebelumnya. Namun, pada saat yang sama pekerjaan informal masih mendominasi lebih dari separuh angkatan kerja di Indonesia.
Pengalaman itu ternyata bukan hanya saya yang rasakan. World Bank dalam laporan Indonesia Poverty Assessment menyebutkan bahwa Indonesia berhasil menciptakan banyak lapangan kerja, tetapi belum cukup banyak pekerjaan yang mampu membawa masyarakat pekerja Indonesia naik ke kelas menengah.
Dengan kata lain, jutaan orang Indonesia memang bekerja, tetapi bekerja tanpa kepastian upah, perlindungan sosial, maupun jaminan berkelanjutan.
Kenyataan itu perlahan mengubah cara pandang saya. Selama ini saya percaya bahwa pekerjaan adalah tangga menuju kehidupan yang lebih baik. Namun, ketika seseorang harus menghabiskan hampir seluruh penghasilannya hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, atau membayar kontrakan, maka pekerjaan akan kehilangan fungsinya sebagai salah satu sarana mobilitas sosial.
Yang lebih mengkhawatirkan, keadaan seperti ini kerap dinormalisasi. Keluhan pekerja sering dibalas dengan nasihat agar bekerja lebih keras, seolah persoalannya ada pada individu. Padahal, ketika upah tidak bisa mengejar biaya hidup, kerja keras hanya menjadi cara untuk bertahan, bukan jalan menuju taraf kehidupan yang lebih baik.
Barangkali, kita akan mulai mengerti dan berhenti menganggap kerja keras sebagai satu-satunya jawaban atas persoalan kesejahteraan. Sebab, masyarakat tidak lagi membutuhkan lebih banyak pekerjaan, tetapi juga pekerjaan yang memberi upah yang layak, perlindungan sosial dan kesempatan untuk memperbaiki taraf hidup.
Kerja Keras dan Janji yang Tak Pernah Tiba
Bekerja seharusnya memberi harapan bahwa hari esok lebih baik daripada hari ini. Namun, harapan itu memudar karena upah pekerjaan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan yang datang tiap hari dan bulan.
Alih-alih menabung, membeli rumah, atau melanjutkan pendidikan, banyak pekerja justru sibuk memastikan saldo rekening tidak habis sebelum tanggal gajian tiba. Mobilitas sosial yang selama ini kita harapkan melalui kerja keras akhirnya berjalan di tempat. Kita tetap bekerja setiap hari, tetapi kesempatan naik kelas terasa semakin sulit dijangkau.
Baca juga:
Pada akhirnya, saya sedang tidak mengajak orang untuk berhenti bekerja keras. Saya hanya ingin mempertanyakan ulang keyakinan yang selama ini kita terima begitu saja: bahwa bekerja keras selalu sebanding lurus dengan kehidupan yang lebih baik.
Ketika seseorang sudah mengerahkan seluruh tenaga, waktu, bahkan masa mudanya untuk bekerja tetapi tetap kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup, persoalannya tidak lagi berada pada individu, melainkan pada sistem yang gagal menghargai nilai kerja manusia.
Barangkali, sudah saatnya kita berhenti menjadikan bekerja keras sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan seseorang. Masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar lapangan pekerjaan, mereka membutuhkan pekerjaan yang memungkinkan mereka hidup dengan bermartabat.
Ukuran sebuah negara bukan hanya seberapa banyak rakyatnya bekerja, tetapi seberapa banyak dari mereka yang dapat hidup layak dari hasil kerja kerasnya.
Editor: Prihandini N
