Lifelong learner. Managing Editor at Suara Kebebasan and National Coordinator of SFL Indonesia. IR graduate researching on social movements and democracy.

Dunia yang Kita Bangun Tanpa Kita Sadari

Iman Amirullah

2 min read

Pernahkah kita berhenti sejenak dan berpikir, betapa banyak hal dalam keseharian kita seperti bahasa, kebiasaan, norma sosial, pasar dan transaksi, dan lainnya, yang berjalan lancar tanpa ada yang pernah merancangnya? Ada ide yang menarik bahwa sebagian besar tatanan sosial kita justru muncul bukan dari blueprint rakitan tangan negara, melainkan dari interaksi spontan antar-individu.

Inilah yang disebut “spontaneous order”, sebuah cara pandang yang mengingatkan kita bahwa peradaban tidak selalu dibangun oleh penguasa dan birokrat, tetapi oleh manusia biasa, seperti kita semua yang menjalani hidupnya secara membosankan. Untuk membahas ini, tulisan Norman Barry, seorang penulis dan profesor ilmu politik di Universitas Buckingham untuk portal Libertarianism.org dengan judul The Tradition of Spontaneous Orders menjadi bacaan yang menarik untuk memahaminya.

Kita hidup dalam dunia di mana banyak orang percaya bahwa masyarakat harus “dirancang” secara “top-down”. Kita dididik untuk membayangkan bahwa ketertiban hanya mungkin terjadi jika ada tangan otoriter yang mengatur, mengendalikan, memastikan semuanya berada di “jalur yang benar”. Rasanya wajar saja, karena negara modern dibangun di atas semua asumsi itu.

Namun, sejarah panjang kita menunjukkan kebalikannya. Sejak masa ketika manusia belum mengenal negara, mereka sudah mampu membangun aturan dan kebiasaan yang menjaga harmoni sosial. Bahasa muncul karena manusia saling berkomunikasi. Norma muncul karena manusia butuh hidup berdampingan. Tidak ada satu pun otoritas pusat yang menulis pedomannya.

Baca juga:

Bahkan dalam komunitas-komunitas kecil, seperti kampung, pasar tradisional, atau jaringan pedagang lintas daerah, aturan informal sering jauh lebih efektif daripada regulasi resmi yang datang kemudian. Penulis merekomendasikan kawan-kawan untuk mencoba membaca buku Dayak Mardaheka: Sejarah Masyarakat Tanpa Negara di Pedalaman Kalimantan (2021), karya Bima Satria Putra, untuk memahami bagaimana sejarah peradaban umat manusia justru lebih banyak dijalankan secara “anarki” atau negara pada level “micro”.

Ambil contoh pasar. Setiap hari jutaan orang mengambil keputusan berdasarkan informasi kecil yang mereka ketahui: harga cabai di pasar dekat rumah, kebutuhan pelanggan, stok beras di gudang. Dari keputusan-keputusan kecil inilah harga terbentuk, pasokan menyesuaikan permintaan yang ada, dan kemudian disusul oleh distribusi atas produk yang memiliki permintaan.

Tidak ada sebuah “badan dunia” yang memerintah semua itu. Namun anehnya, justru keteraturan muncul, dan sering kali lebih efisien daripada sistem yang dirancang melalui birokrasi. Kita melihat penyesuaian terus menerus yang bekerja layaknya sel-sel pada tubuh manusia. Bahkan ketika terjadi guncangan, seperti gagal panen atau lonjakan permintaan mendadak, pasar biasanya bereaksi lebih cepat daripada keputusan rapat pejabat.

Pemikiran modern yang percaya pada rasionalisme kadang melihat hal ini sebagai ancaman: Bagaimana mungkin sesuatu bisa berjalan tanpa direncanakan terlebih dahulu?

Tapi “spontaneous order” dapat menjawabnya dengan mengajukan pertanyaan balik, mengapa kita begitu yakin bahwa rencana negara lebih cerdas daripada jutaan pengalaman nyata manusia? Bukankah dari komunikasi sehari-hari pengetahuan sosial tersebar? Bukankah tiap orang punya informasi yang tak mungkin dirangkum oleh seorang perencana, betapa pun cerdasnya?

Kesombongan intelektual sering membuat kita lupa bahwa masyarakat bukan mesin yang bisa dibongkar-pasang, melainkan jejaring interaksi manusia yang hidup, berubah, dan bergerak sesuai konteksnya masing-masing.

Teori “spontaneous order” bukan glorifikasi terhadap “kebetulan” atau pembelaan membabi buta terhadap anarki. Ia justru mengingatkan bahwa masyarakat adalah jejaring kompleks yang berevolusi. Tradisi bisa salah; norma bisa menindas; kebiasaan bisa stagnan, namun perubahan sosial yang paling bertahan lama hampir selalu datang dari bawah, yaitu melalui adaptasi panjang, evolusi, bahkan mungkin revolusi. Sebaliknya, intervensi yang tergesa-gesa justru sering merusak pola yang selama ini bekerja secara alamiah. Kita semua pernah melihat contoh ketika kebijakan yang diklaim “solutif” justru menambah masalah, karena tidak memahami cara masyarakat sebenarnya hidup.

Dalam kenyataan sehari-hari, kita melihat spontanitas ini bekerja dalam bentuk paling humanis. Bahasa “binan” lahir sebagai upaya kelompok queer untuk beradaptasi untuk dapat berkomunikasi secara lebih aman dengan anggota komunitasnya di tengah represi dan tekanan sosial.

Tren-tren media sosial lahir dari kehendak manusia untuk mengekspresikan dirinya di media sosial. “Citizen Journalism” lahir sebagai upaya merebut kembali kebebasan berbicara dan berekspresi. Komunitas baru terbentuk karena orang-orang merasa nyaman satu sama lain, bukan karena ada aturan formal. Pola-pola ini menunjukkan satu hal sederhana, manusia selalu mencari cara untuk membuat hidup lebih tertata, bahkan tanpa diminta.

Baca juga:

Gagasan “spontaneous order” menawarkan cara pandang yang lebih rendah hati dalam melihat masyarakat. Bahwa tidak semua hal butuh diatur. Bahwa tidak semua masalah butuh regulator. Bahwa manusia, dengan segala ketidaksempurnaan mereka, justru mampu menciptakan pola kehidupan yang stabil ketika diberi ruang untuk bergerak bebas. Kebebasan di sini bukan sekadar slogan, tetapi mekanisme sosial yang memungkinkan kreativitas dan adaptasi tumbuh.

Pada akhirnya, ini merupakan ajakan untuk kembali percaya kepada manusia. Percaya bahwa ketika ruang dibiarkan terbuka, ketika interaksi tidak dibatasi secara berlebihan, masyarakat justru menemukan caranya sendiri untuk berjalan. Bukan berarti negara tidak perlu hadir, tetapi kehadirannya seharusnya tidak menghapus spontanitas yang menjadi nafas kehidupan sosial.

Inilah keteraturan yang paling manusiawi. bukan yang dibangun oleh tangan penguasa, tetapi oleh jutaan tangan kecil yang bahkan tidak tahu bahwa mereka sedang membangun dunia. (*)

 

Editor: kukuh Basuki

Iman Amirullah
Iman Amirullah Lifelong learner. Managing Editor at Suara Kebebasan and National Coordinator of SFL Indonesia. IR graduate researching on social movements and democracy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email