Memperdebatkan Iran dan Syiah: Dari Asrama ke Dunia Maya

Janeska Mahardika Latopada

3 min read

Sekira 15 tahun yang lalu, asrama mahasiswa Sulawesi Tengah yang ada di Jogja punya cerita sendiri. Saya memiliki teman seorang Marxis dan seorang Syiah Imamah. Sungguh keberegaman yang indah dan begitu berkesan.

Asrama bukan lagi sekadar tempat bernaung bagi mahasiswa rantau seperti saya. Lebih dari itu, ia bagai kampus anarkistik yang tak dapat di jumpai di kampus pada umunya.

Masa-masa mahasiswa memang masa di mana pencarian jati diri menggebu-gebu. Ide dan gagasan yang berhamburan di luar sana mereka serap, dan coba dimaknai kembali kemudian dijadikan identitas baru bagi mereka.

Kadang kampus tak cukup memadai untuk memfasilitasi tipikal-tipikal mahasiswa model begini. Mahasiswa butuh referensi dan panutan yang layak, nyentrik, alternatif dan berwibawa.

Asrama akhirnya menjadi tempat alternatif. Tempat yang menyediakan ruang komunikasi dan kebebasan berekspresi tingkat tinggi.

Tak heran, saat debat anarkis terjadi, berjejer gagasan tokoh-tokoh dimuntahkan untuk menyanggah pelbagai argument. Mulai dari komunisme Marx, Revolusi Islam Khomeini, hingga gerakan Zapatista.

Semua tokoh dan idea di atas memiliki cara pandang yang berbeda. Memiliki proposal berbeda. Dan metode yang berbeda. Hanya satu persamaan mereka: membela kaum lemah.

Baca juga:

Saat debat, beberapa anak asrama dan dua kawan saya ini menenteng buku-buku andalanya. Meski saya tidak begitu percaya mereka telah mengkhatamkannya apalagi memahaminya. Buku-buku itu terlihat sebatas senjata yang dipamerkan untuk mengancam lawan debat.

Tapi buku-buku itu emang bisa buat pingsan sih kalau buat nimpuk kepala lawan debat. Lihat saja Das Capital Karl Marx atau Bayang Tak Berwajah Subcomandante Marcos (hard cover) yang diterjemahkan Rony Agustinus kayak apa tebalnya?

Baca juga:

Kecuali buku Falsafatuna karya cendikiawan Syiah, Muhammad Baqir Sadr. Buku ini gak begitu tebal tapi juga gak tipis. Untuk ukuran buku filsafat ok lah. Yang lebih ok bukan hanya halamanya, tapi juga isinya yang menjelaskan rasionalitas Islam dengan argument kausalitasnya.

Lebih dari itu, Falsafatuna dijadikan teman Syiah saya untuk megkritik gagasan materialisme Marx terutama soal dialektika dan kontradiksi. Sederhananya, Falsafatuna ingin mengatakan bahwa realitas kebenaran itu bisa dibuktikan bukan hanya bersandar pada empirisisme, melainkan juga mistisisme.

Singkat cerita, dua teman saya itu (Si Marxis dan Si Syiah) kebetulan sama-sama kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Mereka sama-sama organisatoris. Sama-sama aktivis minoritas di kampusnya.

Hanya saja, markas tempat teman saya yang Syiah ini, yang kemudian dikenal dengan Iranian Corner dibubarkan oleh pihak kampus. Muhammadiyah menuding bahwa Syiah masuk dalam kategori ajaran sesat, karena mengajarkan teologi.

Seolah dejavu, kini, di ambang perang dunia ke-3. Eskalasi perang Israel-Iran kemarin (13/06/2025) membuat katastropi bukan saja terjadi dalam jual-beli serangan bom dan rudal. Komentar-komentar netizen Indonesia tak kalah sengit dan mencekam. Anti-Syiah pun marak kembali.

Sumbernya dari narasi kontroversi Felix Siaw yang viral di YouTube. Membuat perpecahan setidaknya ada dua kubu yang terlihat.

Meski mereka sama-sama membela Palestina, namun sesungguhnya berbeda. Ada barisan bela Palestina yang mendukung Iran dan ada barisan bela Palestina yang menyangkal Iran.

Tapi, alasan mereka yang menyangkal Iran terlihat irasional. Mereka telah lama menuduh peran Iran membela Palestina sebagai penerapan aqidah taqiyah (berpura-pura) yang dipahami keliru.

Eskalasi tuduhan taqiyah ini terus menerus diamplifikasi, tak terkecuali soal perang Iran-Israel (13/06/2025) yang diakibatkan oleh penyerangan fasilitas nuklir dan pembunuhan tokoh-tokoh penting Iran.

Kelompok penyangkal itu tidak melihat peristiwa ini berakar dari posisi Iran yang teguh membela Palestina bahkan sejak berdirinya Revolusi Islam Iran 1979.

Mereka yang menyangkal itu tidak melihat serangan fasilitas nuklir Iran oleh Israel akibat kekhawatiran Israel pada Iran atas nuklirnya. Logika kolonialis macam Israel tak ingin negara-negara Arab, Islam, dan negara yang mendukung Palestina memiliki fasilitas apalagi senjata nuklir. Tapi, di sisi lain Israel telah memiliki senjata nuklir.

Barisan yang menyangkal, terutama melihat peristiwa tukar-menukar serangan Iran-Israel kemarin teguh dengan kedangkalannya, dikuatkan oleh pernyataan viral di youtube oleh influencer pembenci Iran paling vokal: Ustadz Felix Siaw.

Felix mengatakan, “Apakah Iran menyerang Israel karena dia pro dengan Palestina? Jawabanya tidak! Karena Iran nyerang Israel karena dia diserang duluan, sederhana, gitu kan ya?”

Analisis ini gak salah sih. Tapi mengandung simplifikasi serius. Felix dan para pendukungnya menutup mata atas gagasan Khomeini sejak Revolusi Islam 1979 yang mencanangkan peringatan Hari Al-Quds sedunia di setiap Jumat terakhir Ramadhan sebagai bentuk solidaritas yang nyata.

Faktanya Iran memberi bantuan pasokan senjata kepada front muqawamah. Dari yang beraliran kanan seperti Hamas, PIJ, hingga para pejuang PFLP yang berhaluan Marxis.

Masih ragu sama Iran? Noh, parlemen Iran bahkan secara bulat mendukung kebijakan alokasi dana negaranya untuk pembebasan Palestina.

Felix Siaw serta pendukungnya harus bisa menjawab pertanyaan di bawah ini. Apakah bentuk serangan Israel ke fasilitas nuklir Iran bukan tanpa alasan? Apalagi alasan yang lebih rasional kalau bukan Israel merasa terancam terhadap Iran yang membela Palestina karena memiliki nuklir?

Nyatanya, selain Yaman, Iran adalah negara yang paling vokal memusuhi Israel-Amerika hingga hari ini. Iran, negara yang paling ngotot membela Palestina. Tidak pemimpinya, legislatifnya, bahkan rakyatnya pun dari yang konservatif hingga liberal semuanya mendukung seruan Ayatollah Ali Khamenei untuk membela Palestina.

Saya gak begitu bego-bego amat, apalagi bimbang dengan cara pandang Felix dan para pembelanya. Saya sendiri Sunni. Tapi merasa geli aja ketika saudara Muslim di Indonesia yang melihat Iran sekadar teatrikal hanya karena mazhabnya Syiah.

Komentar-komentar para pendengung yang ngaco memang buat kita sering-sering ngelus dada. Beruntung banget saya punya pengalaman tinggal di asrama yang memiliki beragam teman. Dari organisastoris Marxis hingga Syiah yang condong ke Iran. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

Janeska Mahardika Latopada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email