Epos penciptaan manusia adalah cerita paling purba dalam sejarah manusia dan juga agama. Yang sering kali diulang-ulang dan tercatat di berbagai kitab suci, adalah dosa pertama Adam dan Hawa karena memetik buah dari pohon larangan. Sejak itu pula, anak cucu Adam-Hawa menanggung dosa nenek moyang untuk hidup di dunia yang penuh dengan berbagai tipu daya sesama.
Sebagai makhluk sosial yang terus-menerus bersiasat dengan tipu daya, manusia berinteraksi dengan berbagai hal, baik dengan sesama manusia maupun merespons sebagai hal yang dirasakannya. Mulai dari merespons eksistensi diri hingga merespons segala hal yang diamati. Antara diri yang privat dan yang sosial hingga terlihat oleh semua orang berkelindan satu sama lain dalam kumpulan puisi Menidurkan Bahaya karya Kristal Firdaus (2025). Daus, sapaan akrabnya, mencoba meracik apa yang dirasakannya, mulai dari berbagai memori yang tak hanya tampil sebagai kenangan, tetapi juga menjelma dosa hingga berbagai keinginan-harapan besar yang menjelma doa.
Baca juga:
Dosa-dosa yang ditampilkan tampak samar sekaligus sublim dan diilustrasikan seperti dosa yang Ibrahim lakukan ketika melawan Raja Namrud atau dosa Musa saat menolak tunduk terhadap Fir’aun. Dalam taraf ini, dosa-dosa tersebut laksana berjihad di tengah kendali kuasa terhadap apa yang sedang berlaku dan baku. Walaupun begitu, dosa-dosa yang sering disebut tersebut berkelindan berbagai harapan yang tak dapat dipenuhi oleh tokoh “aku lirik” dan ia menganggapnya sebagaimana dosa atas sebuah laku yang tak dapat dipenuhi oleh para nabi.
Selain itu, “aku lirik” dalam kumpulan ini juga menampilkan berbagai harapan yang menjelma doa. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, harapan menjadi imajinasi manusia untuk terus bertahan dari keadaan yang barangkali tak diuntungkan. Standar norma masyarakat yang seolah tak lagi bisa digugat hingga kondisi lingkungan yang membuat kita selalu berpikir cara untuk bertahan hidup. Dan melalui doa, aku lirik menyelami dan terus merawat diri untuk bertahan. Doa bukan sikap akhir dari berbagai sikap pasrah, tetapi sebuah perlawanan senyap dari ruang paling intim antara seorang hamba dan Penciptanya.
Dalam sebuah masyarakat yang konservatif, dosa sering kali didefinisikan untuk menghukum berbagai hal yang dianggap tidak sesuai dengan norma sosial dan juga agama yang berlaku. Definisi yang kemudian berkembang menjadi tafsir tersebut membuat apa yang disebut dosa cenderung kaku sekaligus ketakutan sekelompok orang yang status quo-nya tidak mau digoyahkan. Masyarakat lalu menggunakan norma sosial-agama tersebut sebagai jalan pendisiplinan.
Pendisiplinan dalam kacamata Michel Foucault seperti seorang narapidana yang perilakunya selalu diawasi sipir di atas panopticon. Masyarakat dengan tafsir sosial dan agama yang cenderung tertutup kemudian menggunakannya untuk memantau berbagai gejala yang tidak sesuai dengan norma yang telah ditentukan. Subjek-subjek yang mengalami pendisiplinan tersebut kemudian dikategorikan sebagai dosa dalam kacamata agama dan bahkan dikategorikan sebagai kriminal dalam kacamata hukum. Dalam taraf ini, dosa kemudian disebut kriminal yang bisa mengantarkan seseorang ke jurang neraka maupun sel penjara.
Walaupun begitu, “aku lirik” pun dengan penuh kerelaan untuk bergelimang dosa:
“tetapi aku rela jadi bahan bakar neraka
agar mereka tahu dari kacamata dosa
cinta tetap bisa menyala.”
(Mu’jizat, 19)
Menidurkan Bahaya Sosial-Lingkungan
dalam buku ini terdapat beberapa puisi hadir untuk merespons kondisi sosial yang teramati dalam kehidupan sehari-hari. Dari memori makanan tanpa sesuatu yang khas dan eksotik hingga isu sosial yang laten di Kalimantan Timur seperti sawit dan batubara.
Puisi “Kebun Bapa: Kilo 15” menampilkan sebuah adegan seorang anak dan yang mendatangi kebun bapaknya karena hanya di hari itulah, ia libur dan bisa pergi ke kebun. Puisi ini menggambarkan bagaimana orang-orang pernah berkebun di dekat hutan. Di dalamnya ada tanaman sawit yang bisa merusak tanah dalam jangka panjang.
Selain itu, tema sosial juga hadir dalam puisi “Wajah Samarinda Menjelma Kedai-kedai Kopi”. Puisi itu merekam kemunculan warung kopi modern sebagai tempat-tempat baru yang sekaligus menjadi rumah bagi kelompok kreatif di Samarinda. Rekaman tersebut sekaligus menandai sebuah waktu yang cukup mapan bagi tumbuhnya warung kopi tersebut menjadi “tradisi” dan tongkrongan anak muda.
Rekaman atas kota tersebut juga tampil dalam puisi berjudul “Teluk Lerong” yang menjadi tempat asri di pinggiran sungai Mahakam. Dari sudut ini, siapa pun yang berdiam bisa menerawang arus sungai terpanjang kedua di Indonesia tersebut. Mereka menjadi saksi atas sungai tersibuk di Indonesia dengan kapal tongkang batubara hilir-mudik mengeruk kekayaan dan merusak bumi etam. Dan tanpa tedeng aling-aling, akhir puisi ini pun meramal atas nasib sungai Mahakam:
“Kelak orang-orang kami habis
Mungkin sungai ini tak coklat lagi
Melainkan merah
Tapi siapa yang peduli, tuan.
Tapi siapa yang peduli, Tuhan
Sungai ini mendarah
Memanggil kami-kami selanjutnya.”
(Teluk Lerong, 50)
Pada titik inilah, dosa-dosa yang awalnya amat personal kemudian menjadi dosa struktural. Perusahaan-perusahaan oligarki yang mengeruk batubara tersebut telah melakukan dosa sosial-lingkungan yang sangat berdampak dengan kehidupan orang-orang di Kalimantan Timur. Perusahaan berlimpah uang, sementara orang-orang di sini bersimbah darah. Darah yang dihisap atas nama kerja maupun atas pembangunan dengan debu-debu jalanan yang berkepanjangan.
Baca juga:
Selain itu, rekaman beberapa tempat seperti beberapa titik di Samarinda hingga Tanjung Redeb disajikan penuh harapan dan doa. Kota-kota yang semakin berubah dan masalah laten tetap menjadi perbincangan. Menganggap itu usaha paling minimal untuk tetap waras sekaligus kritis.
Meski demikian, penyair dalam kumpulan puisi ini tidak berpretensi untuk menjadi seorang aktivis. Ia hanya merekam berbagai peristiwa yang berdampak langsung dalam kehidupan sehari-harinya dari jarak paling sederhana. Sebab, yang personal adalah kenyataan politik yang dialami sehari-hari oleh masyarakat Samarinda. Banjir, hilir-mudik batubara, dan debu jalanan berbaur dengan kalimat tahmid dan azan yang dikumandangkan di setiap sudut masjid.
Karena itu, daripada menantang bahaya yang dapat merugikan diri dan juga orang-orang terdekatnya, ia pun memilih untuk menidurkan bahaya sebagai sebuah langkah paling kompromis yang dapat diraihnya melalui kata-kata. Bukan semata menyatakan kalah, tetapi untuk memberi batas dan berusaha meraih ruang paling intim antara diri dan semesta. Sebab, di sanalah, kita tak lagi merasa kalah ataupun merasa menang di tengah dunia yang sama sekali tak berpihak. (*)
Editor: Kukuh Basuki
