Fenomena karier poligami (polygamous career) saat ini sedang ramai diperbincangkan dan semakin populer, khususnya di negara-negara Barat. Di Inggris misalnya, ada seorang pria yang bekerja di Departemen Lingkungan Hidup, Pangan, dan Urusan Pedesaan; Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial; serta dua departemen lainnya. Ia telah memegang pekerjaan-pekerjaan tersebut secara bersamaan dalam dua rentang waktu terpisah.
Konsep karier poligami mencerminkan tren di mana individu tidak lagi bergantung pada satu pekerjaan atau satu perusahaan, melainkan memilih menjalani berbagai pekerjaan, proyek, atau peran profesional secara bersamaan.
Ketidakpastiaan kerja, dinamika karier, peralihan kerja dari manusia ke Artifial Intelligence, dan tuntutan kelayakan ekonomi telah membuat banyak masyarakat di Amerika Serikat dan Eropa tidak lagi mengandalkan satu sumber penghasilan. Mereka merasa perlu menggabungkan pekerjaan tetap dengan bisnis kecil, seperti menjadi pembuat konten digital, berkarya sebagai seniman, atau bahkan menjadi konsultan di bidang yang sama sekali berbeda.
Di Indonesia sendiri, fenomena karier poligami juga mulai tumbuh pesat, terutama sejak pandemi COVID-19 yang mendorong masyarakat untuk mencari alternatif sumber penghasilan. Munculnya platform digital seperti Tokopedia, Shopee, TikTok, dan Instagram memberi ruang bagi siapa pun mulai dari pekerja kantoran hingga ibu rumah tangga untuk menjalankan usaha sampingan.
Banyak karyawan yang kini merangkap sebagai penjual online, content creator, atau bahkan tutor daring. Selain itu, meningkatnya kesadaran akan pentingnya work life balance juga mendorong generasi muda Indonesia untuk mencari pekerjaan yang memberi fleksibilitas waktu dan makna personal, bukan hanya stabilitas finansial.
Baca juga:
Pertanda Bagus atau Buruk?
Perubahan besar dalam dunia kerja di Indonesia juga disebabkan karena tumbuhnya teknologi AI, krisis ekonomi, dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Dengan kemajuan pesat dalam kecerdasan buatan dan otomatisasi, banyak pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh manusia kini digantikan oleh mesin.
Krisis ekonomi juga memaksa perusahaan memilih menggunakan teknologi dibandingkan tenaga manusia karena dalih efisiensi. Hal ini memperburuk risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia, yang semakin sering terjadi, terutama di sektor-sektor yang rentan terhadap otomatisasi, seperti manufaktur dan layanan. PHK massal ini menyebabkan banyak pekerja terpaksa mencari pekerjaan baru, sering kali di sektor yang tidak stabil atau kurang memberikan jaminan keamanan kerja.
Walaupun karier poligami banyak diminati masyarakat, praktek ini banyak dijadikan perdebatan, terutama kaitannya dengan kualitas produk kerja dan kesehatan mental.
Polygamous Career vs Deep Work: Antara Fleksibilitas dan Fokus Mendalam
Peningkatan jumlah pekerja yang menjalani karier poligami sangat berdampak terhadap deep work yang diperkenalkan oleh Cal Newport dalam bukunya Deep Work: Rules for Focused Success in a Distracted World (2016).
Newport mengatakan bahwa dalam dunia yang penuh dengan disrupsi digital dan sosial masyarakat, untuk mencapai produktivitas yang luar biasa, seseorang harus fokus sepenuhnya pada satu pekerjaan penting tanpa gangguan. Konsep ini menekankan bekerja secara mendalam dan penuh konsentrasi dalam waktu terbatas untuk mencapai hasil yang bermakna.
Namun, jika dibandingkan dengan fenomena karier poligami di mana individu membagi perhatian, energi, dan waktu ke banyak peran sekaligus, terlihat ada ketegangan mendasar antara dua konsep ini. Karier poligami menekankan pada diversifikasi aktivitas, multitasking, dan fleksibilitas peran, sementara deep work mengedepankan dedikasi waktu penuh untuk satu aktivitas bernilai tinggi tanpa gangguan.
Dalam karier poligami, seseorang bisa bekerja sebagai karyawan di pagi hari, mengelola toko online di siang hari, menjadi tutor daring di malam hari, dan membuat konten untuk media sosial di akhir pekan. Pola ini membuka banyak peluang namun berisiko membuat seseorang terus berpindah konteks (context switching), yang menurut Newport justru menghambat produktivitas mendalam dan kualitas intelektual pekerjaan.
Sementara itu, deep work mengharuskan pemisahan waktu secara tegas. Blok-blok waktu tanpa interupsi digital, ruang kerja bebas gangguan, dan disiplin tinggi dalam menjaga fokus. Menurut Newport, pekerjaan yang bernilai tinggi seperti menulis, mencipta, atau menyelesaikan masalah kompleks hanya bisa dicapai lewat kedalaman, bukan lewat keterpecahan perhatian.
Tantangan Karier Poligami
Ada beberapa tantangan dari karier poligami, antara lain: pertama, ketidakmampuannya untuk memberi ruang pada pekerjaan mendalam. Kedua, pekerja tidak menikmati dan merasa puas terhadap apa yang dikerjakan. Ketiga, pekerja tidak konsisten dalam mengerjakan sesuatu.
Dorongan ingin mendapatan uang dalam jumlah besar, memaksa seseorang terus berpindah antartugas berbeda. Ini mengakibatkan sulitnya untuk memasuki kondisi mental di mana produktivitas berada pada puncaknya. Di sisi lain, terlalu memaksakan deep work dalam konteks ekonomi informal atau gaya kerja fleksibel bisa juga tidak realistis, terutama ketika seseorang perlu mengelola banyak peran untuk alasan ekonomi.
Oleh sebab itu, James Clear dalam bukunya Atomic Habits, menyarankan pentingnya membangun kebiasaan kecil yang konsisten untuk mencapai perubahan besar dalam hidup. Menurut Clear, perubahan besar berasal dari kebiasaan sehari-hari yang dibangun secara berkelanjutan, bukan dari perubahan yang drastis. Dengan memahami dan mengubah kebiasaan kita, kita dapat meningkatkan kualitas hidup dan pekerjaan kita secara keseluruhan.
Baca juga:
Jika karier poligami menjadi pilihan yang harus Anda jalankan, Anda harus memperhatikan kualitas pekerjaan Anda. Jangan sampai karena ingin mengerjakan semua hal untuk mendapatkan uang, Anda malah mengorbankan kualitas produk yang dibuat, merugikan perusahaan, dan memperburuk citra Anda di mata perusahaan dan klien. Oleh sebab itu, perlu ada kesepakatan dan kejujuran antara Anda dengan perusahaan.
Selain itu, penting bagi Anda untuk memastikan pekerjaan yang Anda jalankan memang Anda minati dan Anda memiliki skala prioritas, sehingga waktu Anda tidak terbuang sia-sia. Anda juga perlu memperhatikan kesehatan fisik dan mental. Jangan sampai uang yang Anda kumpulkan untuk tabungan menikmati hidup di usia tua, malah habis untuk biaya berobat.
Hal yang tidak kalah penting, kenalilah diri Anda. Temukan nilai dan kompetensi yang Anda miliki. Jangan karena memaksakan banyak hal untuk dikerjakan, Anda sendiri tidak nyaman dan merasa teralienasi oleh diri Anda sendiri.
Editor: Prihandini N
