Program pendidikan di barak militer bagi anak “nakal” yang dicanangkan oleh Dedi Mulyadi manarik perhatian pengguna media sosial. Para orang tua berbondong membuat konten parodi, memvideokan anak-anak mereka yang akan dilaporkan kepada Kang Dedi untuk dimasukkan ke barak militer jika tak mau menurut dan sulit dinasehati.
Dengan bermodal kamera gawai, orang tua berhasil buat anak-anak patuh dengan mantra ajaib berbunyi “Lapor Kang Dedi…”, sampai-sampai mereka tersedu-sedan ketakutan. Ramainya produksi dan konsumsi konten Lapor Kang Dedi membikin citra Kang Dedi begitu menakutkan di mata anak.
Tak terbayang jika fenomena ini bertahan terus-menerus sampai generasi selanjutnya. Bagaimana jadinya jika satu dasawarsa mendatang propaganda ketakutan ini semakin merambah luas dan tumbuh menguat dalam kultur pendidikan di lingkungan keluarga? Bagaimana psikis si anak ketika dewasa? Apa jadinya generasi bangsa akibat fenomena “Lapor Kang Dedi”?
Langkah Gegabah Mendisiplinkan Siswa
Saya merasa pemberlakuan program siswa “nakal” masuk barak merupakan langkah gegabah dari pembuat regulasi. Tidak adanya riset yang mendalam sebelum pemberlakuan putusan tersebut mengindikasikan kalau pemerintah tergesa-gesa dan seolah mengambil jalan singkat untuk mengatasi permasalahan patologi sosial pada remaja ini.
Baca juga:
Seperti diketahui bersama, saat usia remaja rentan terjadi perubahan kondisi psikis. Kendati mereka sudah mengenal nilai baik dan buruk, benar dan salah, mereka dalam tahap pembentukan identitas
diri. Masa-masa itu mereka penuh rasa penasaran dan ingin mencoba hal-hal baru dalam hidup yang dianggap menyenangkan.
Pada masa transisi menuju kedewasaan ini, peranan orang tua menjadi titik krusial untuk mengarahkan potensi anak ke arah yang baik. Sebagai seorang yang mendampingi tumbuh kembang anak, seharusnya orang tua lebih memahami karakter spesial anaknya dibanding orang lain, baik itu gurunya, apalagi tentara yang jelas-jelas tidak ada sangkut pautnya, tidak punya korelasi dan tupoksi soal pendidikan
anak.
Semestinya pada situasi ini orang tua lebih mempererat lagi kedekatan dengan sang anak. Memang, relasi anak dan keluarga, anak dengan satuan pendidikan, dan anak dengan masyarakat saling berkelindan. Acap kali orang tua merasa telah mendidik anak dengan baik, namun ketika anak beranjak remaja dan berelasi dengan ruang lingkup yang lebih luas, mereka jadi tergulung arus lingkungan yang mereka masuki.
Bagus kalau lingkungan itu positif dan dapat memotivasi anak ke jalan yang lebih baik, namun bagaimana jika yang ia masuki merupakan lingkungan negatif, maka siap-siaplah orang tua menghadapi bencana emosional yang luar biasa. Lantas apa yang dilakukan jika hal itu terjadi? Lagi-lagi “Lapor Kang Dedi”?
Dalam buku Pengembangan Model Dukungan Psikologis Awal (2018) yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dijelaskan kalau pada proses transisi anak ke remaja, pertumbuhan psikososial anak dalam kondisi puncaknya. Mereka membutuhkan partner yang bisa saling mendukung, memahami, dan setara.
Hubungan pertemanan lebih emosional dibanding dengan keluarga. Mereka memandang temannya sebagai panutan, sahabat yang akrab dan berharga bagi mereka. Seharusnya orang tua bisa memosisikan diri seolah sahabat anak, sehingga anak bisa lebih terbuka mengenai keresahan dan konflik yang dilaluinya.
Orang tua mesti menanggalkan relasi top-down atas si anak. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi jika hubungan hierarkis sudah dibentuk sejak dini lewat perintah dengan ancaman “Lapor Kang Dedi” demi mendominasi dan mengontrol tingkah anak sejak dini.
Louise Bates Ames melalui karyanya Don’t Push Your Preschooler: Family Circle Magazine (1971)
menyarankan kepada orang tua agar menghargai proses keajaiban dalam pertumbuhan anak, jangan sampai ada waktu yang terbuang, dan hindari pandangan kalau perkembangan anak bergantung semata- mata lewat cara orang tua mendidik. Pada usia dini, anak memiliki dunianya sendiri, mereka tumbuh dan berkembang berdasar potensi bawaannya masing-masing, tugas orang tua adalah mengarahkan potensi bawaan tersebut.
Baca juga:
Ki Hajar Dewantara merancang pola didik pada anak seharusnya didesain sesuai kodrat anak-anak, yaitu bermain, kemudian secara perlahan membimbingnya menuju adab. Bukan lewat intervensi yang represif. Sistem yang diusung Ki Hajar itu disebutnya sebagai sistem among, perpaduan antara nature (kodrat) dan nurture (iradat).
Apakah Mengirimkan Anak ke Barak Perlu?
Lingkungan militer bukanlah tempat yang tepat untuk anak mengenyam pendidikan. Ekosistem totaliter (satu komando) yang menuntut kepatuhan bukanlah cara mendidik anak yang baik. Ki Hajar Dewantara padahal sudah memberikan saran alternatif untuk pendidikan nasional yang seharusnya diterapkan lebih egaliter dan partisipatoris.
Mengutip pandangan Paulo Freire dalam bukunya Pendidikan Kaum Tertindas (2022), pendidikan seharusnya berjalan dengan cara membebaskannya dari segala jenis kungkungan, intimidasi daneksploitasi.
Dalam tren “Lapor Kang Dedi”, saya malah menilai itu pembalikan dari pengertian Freire. Bahkan, sistem pendidikan nasional yang diberlakukan dengan asas keseragaman, relasi guru-murid, dan ruang kelas, Freire (2022) menganggap itu sebagai bentuk dehumanisasi, perampasan kebebasan manusia.
Lantas, apa jadinya para siswa dengan labelisasi “nakal” yang diungsikan ke suatu tempat dengan atmosfer lebih ketat, tanpa kompromi, penuh doktrinasi, sedangkan teman-teman sebayanya bebas berpikir dan beraktivitas?
Bagaimana jika mereka merasa teralienasi? Bukankah itu selayak penjajah? Bukankah penjajahan juga disebut praktik dehumanisasi? Entahlah, mungkin saya harus “Lapor Kang Dedi”.
Editor: Prihandini N
