Pelajaran Hidup dari Pesantren: Lebih dari Sekadar Cium Tangan

Afriadi Ramadhan

2 min read

Pondok saya dulu punya cara mengajar yang berbeda. Bukan karena kurikulumnya yang padat, bukan karena bangunan asrama yang elite. Bukan juga hanya karena diktat kitab kuning yang expert, kajian hadis yang dalam, atau diskusi fikih yang intens. Bagi saya, yang paling membekas justru manhaj—cara berpikir dan memaknai hidup yang dibentuk lewat keseharian di asrama.

Di asrama saya, para guru tidak hanya mengajarkan cara membaca tulisan, tapi juga cara membaca kehidupan.

Baca juga:

Salah satu pelajaran paling berkesan terjadi pada suatau malam. Sebuah momen yang masih segar di kepala saya, padahal kejadiannya sudah enam tahun lalu. Waktu itu saya masih siswa kelas satu. Masih polos, masih kagok.

Hari itu, kenakalan santri sedang kumat. Bikin pelanggaran di asrama. Tapi, ya, semua asrama di dunia juga pasti punya masalah. Yang membuat berbeda adalah bagaimana cara menyikapinya.

Malam Sunyi di Masjid

Langit malam sudah gelap sempurna. Salat Isya dan zikir sudah usai, tapi tak satu pun dari kami yang beranjak dari masjid. Kami duduk diam, tertunduk. Ustaz pembina kami berdiri mendekati mihrab. Saya tidak akan menyebut namanya—bukan karena lupa, tapi karena menghormatinya.

Beberapa menit berlalu. Tak ada amarah yang pecah. Hanya kesunyian yang berbicara lebih keras daripada suara.

Lalu ia mulai mengutarakan perasaannya. Tenang, pelan, tapi jujur. Membahas pelanggaran dengan wibawa, bukan dengan nada tinggi sampai menampakkan urat lehernya. Hingga sampai pada kalimat:

Di depanku, kamu mencium tanganku. Tapi di belakang, kamu tertawa-tawa melanggar peraturan asrama. Bukankah itu sama saja dengan mengkhianatiku?

Boom. Kena tepat di ulu hati. Saking membekasnya, saya masih ingat dengan jelas sampai sekarang. Bahkan suasana dan di mana posisi saya duduk malam itu juga masih tersimpan.

Saat itu, saya sadar: belajar Islam bukan soal cium tangan guru, bukan soal sarung rapi atau pepatah Arab yang hafal di luar kepala. Islam adalah tentang integritas. Tentang siapa kita saat tidak dilihat oleh siapa-siapa.

Simbol Tanpa Makna hanya Tipuan

Ustaz saya waktu itu sedang berbicara tentang kejujuran. Tentang ketulusan yang tak butuh panggung. Ia tak sedang mengamuk—ia sedang berharap. Bahwa kami tak tumbuh jadi manusia pencitraan. Karena Islam tidak pernah merayakan kepalsuan.

Saya bersyukur ikut hadir malam itu. Karena itu adalah pelajaran yang akan saya bawa seumur hidup.

Kalau boleh jujur, budaya formalitas sering sekali menipu. Dulu saya mengira ketakwaan bisa diukur dari simbol—seberapa islami gaya bicara atau seberapa banyak juz Al-Quran yang dihafal.

Ternyata itu semua belum tentu cukup. Imam Ibn Qayyim pernah bilang:

Agama ini dibangun atas kejujuran. Siapa saja yang jujur, dia akan selamat.”

Di dunia yang penuh gimik dan pencitraan, semakin sedikit orang yang benar-benar jujur. Sudah default masyarakat untuk menilai hanya dari bungkus. Yang dibayar bukan isi, tapi merek. Yang dipuja bukan karakter, tapi citra.

Dan saya? Saya pun tak luput dari itu. Kadang masih tergoda untuk tampak baik, bukan benar-benar menjadi baik.

Tapi di asrama, semua topeng cepat luntur. Kami hidup terlalu dekat untuk bisa berpura-pura lama.

Tidur sekamar berempat, mandi harus antre, makan harus berbagi. Saya bisa saja tampak alim di depan ustaz, tapi saya tidak bisa menipu teman sekamar saya. Mereka tahu siapa saya ketika bangun kesiangan, atau saat sembunyi-sembunyi ambil jatah ayam kecap dobel.

Baca juga:

Pahit memang, saya mengaku bukan santri suci. Banyak pelanggaran yang pernah saya buat, meski saya sendiri tak pernah membenarkannya. Satu hal yang saya sadari bahwa saya bisa memilih untuk memperbaiki diri. Hari demi hari terus mengistigfarkan diri. Karena akhlak itu tidak tumbuh dari hafalan, tapi dari kebiasaan.

Rasulullah SAW pernah bersabda:

Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.
(HR. Ahmad)

Satu hadis yang yang to the point dan membuat saya paham: akhlak bukan pelengkap yang sepele, melainkan inti agama yang sangat penting.

Meski begitu, belajar akhlak bukan perkara yang gampang. Dia itu tumbuh pelan-pelan. Mulai dari ke teman, ke guru, ke orang tua, hingga akhlak ke Allah. Kalau tidak istiqamah dan serius, tidak bakalan jadi.

Dan malam itu saya belajar kalau sekedar cium tangan bukan jaminan ketulusan akhlak.
Karena agama tidak hanya ingin kamu tahu pelajaran—tapi menyerap nilainya ke dalam perilaku keseharian.

Tak Tercatat, Tapi Selalu Teringat

Pelajaran malam itu tidak pernah saya catat di buku. Tapi ia tertulis jelas di kepala saya.

Jujur, saya masih sering terpeleset. Kadang lupa. Kadang belok. Tapi kalimat pembinaku malam itu selalu menarik saya untuk kembali ke arah yang benar.

Dan yang selalu saya pikirkan adalah, kalau setelah lulus pun, saya hanya sibuk mengejar citra dan validasi, lalu apa artinya tiga tahun saya di asrama? (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

Afriadi Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email