Ekosufisme: Jalan Sunyi Merawat Bumi

N.A. Tohirin

4 min read

Di tengah semakin parahnya kerusakan lingkungan, manusia modern kerap terjebak pada solusi teknis yang seolah mampu menyelesaikan persoalan ekologis. Pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang reboisasi, perusahaan besar memamerkan program penghijauan, ilmuwan merancang teknologi energi terbarukan. Tetapi di balik semua itu, bumi tetap saja semakin rapuh.

Hujan deras menyebabkan banjir bandang, tanah longsor melumat permukiman di pegunungan, hutan-hutan tropis kita terpangkas habis untuk sawit dan tambang, sementara laut penuh dengan plastik dan limbah.

Semua ini memperlihatkan bahwa krisis lingkungan bukan hanya soal teknis, melainkan juga soal mental, soal krisis batin manusia. Ada kerakusan yang bersemayam, ada rasa cukup yang terkikis, ada relasi spiritual dengan alam yang terputus.

Mengenal Ekosufisme

Di sinilah hadir satu tawaran jalan yang jarang terdengar, tetapi sesungguhnya dekat dengan tradisi kita: ekosufisme. Istilah ini mungkin terdengar akademis, padahal maknanya sederhana. Ekosufisme adalah cara memandang alam dengan kesadaran spiritual sufistik, yakni melihat bumi, air, udara, tumbuhan, dan seluruh makhluk hidup sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Tuhan.

Dengan bahasa yang lebih mudah, ekosufisme berarti menghayati bahwa menjaga lingkungan bukan hanya urusan teknis atau hukum, tetapi juga bagian dari ibadah, bagian dari laku hidup yang penuh syukur dan kasih sayang.

Baca juga:

Al-Qur’an sendiri berulang kali menegaskan hubungan erat manusia dengan alam. Dalam surat Al-A’raf ayat 56, Allah berfirman: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” Ayat ini jelas menunjukkan bahwa menjaga kelestarian bumi adalah kewajiban spiritual, bukan pilihan.

Dalam surat Ar-Rum ayat 41 juga disebutkan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Ayat ini terasa sangat relevan hari ini, ketika bencana ekologis yang menimpa kita sesungguhnya adalah cermin dari keserakahan manusia itu sendiri.

Para ulama klasik yang mengajar lewat kitab-kitab kuning pun tidak sedikit yang menyinggung hubungan manusia dengan alam. Dalam Ihya’ Ulumuddin, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa seluruh makhluk, termasuk hewan, tumbuhan, bahkan benda mati, bertasbih kepada Allah meski manusia tidak memahaminya. Maka, menyakiti alam berarti sama dengan menghalangi tasbih makhluk kepada Sang Pencipta.

Ulama pesantren seperti KH Hasyim Asy’ari dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim menekankan pentingnya akhlak yang meluas tidak hanya pada sesama manusia tetapi juga pada ciptaan Allah yang lain. Dalam tradisi fiqih pun, konsep hurmah al-hayat (kesucian kehidupan) tidak hanya berlaku pada manusia, melainkan juga pada makhluk hidup lainnya. Semua itu memperlihatkan bahwa tradisi keilmuan Islam sejak lama sudah menekankan pentingnya relasi harmonis antara manusia dengan alam.

Ekosufisme dan Budaya Lokal

Ekosufisme lahir dari kesadaran bahwa krisis lingkungan modern berakar dari hilangnya kesadaran spiritual terhadap alam. Pemikir kontemporer Seyyed Hossein Nasr menyebut bahwa manusia modern telah menjadikan alam semata objek ekonomi, kehilangan kesadaran sakral.

Dengan pola pikir seperti ini, gunung hanyalah tambang, hutan hanyalah komoditas, sungai hanyalah saluran pembuangan. Padahal, bagi para sufi, semua itu adalah kitab terbuka yang memperlihatkan keindahan Tuhan. Ibn ‘Arabi menyebut alam sebagai tajalli, penampakan dari wujud Ilahi. Maka, ketika manusia merusaknya, yang hancur bukan hanya ekosistem, melainkan juga relasi ruhani dengan Sang Pencipta.

Di Indonesia sendiri, sebenarnya tradisi ekosufisme sudah lama hadir dalam budaya lokal. Masyarakat Jawa mengenal sedekah bumi, sedekah laut, dan slametan desa sebagai ungkapan syukur kepada Allah sekaligus peringatan bahwa manusia hanya numpang hidup di alam.

Di Bali, filosofi Tri Hita Karana menekankan harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam. Suku-suku di Kalimantan dan Papua punya ritual penghormatan terhadap hutan yang mereka anggap sakral. Semua ini adalah bentuk kesadaran ekologis yang sekaligus spiritual. Sayangnya, modernisasi membuat tradisi ini terpinggirkan, bahkan dianggap kuno.

Krisis ekologi yang kita hadapi sekarang sebetulnya adalah cermin dari krisis batin manusia. Jalaluddin Rumi, penyair sufi besar, pernah menulis bahwa bumi adalah cermin, dan manusia adalah pantulannya. Jika bumi rusak, itu pertanda hati manusia kotor. Jika hati manusia penuh syukur, penuh kasih, maka bumi akan ikut lestari.

Ekosufisme mengajarkan laku sufistik dalam kehidupan sehari-hari: qana’ah (merasa cukup), zuhud (hidup sederhana), dan tawazun (menjaga keseimbangan). Orang yang qana’ah tidak akan rakus merusak hutan demi keuntungan sesaat. Orang yang zuhud tidak akan memuja konsumerisme yang membuat bumi kelelahan. Orang yang tawazun akan selalu mempertimbangkan keberlanjutan generasi berikutnya.

Persoalannya, dunia modern terlalu bising dengan jargon pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Negara melihat hutan, laut, dan tambang sebagai sumber devisa. Perusahaan melihat alam sebagai aset. Bahkan masyarakat sendiri kerap terjebak pada gaya hidup konsumtif yang menyumbang sampah plastik, limbah rumah tangga, dan polusi.

Semua sibuk berlari, lupa bahwa bumi tempat berpijak semakin lemah. Padahal, Al-Qur’an sudah mengingatkan bahwa Allah menciptakan bumi dengan keseimbangan. Dalam surat Ar-Rahman ayat 7-8, disebutkan: “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan), supaya kamu jangan merusak keseimbangan itu.” Ayat ini bukan hanya tentang keadilan sosial, tetapi juga keadilan ekologis.

Menghidupkan Nilai Ekosufisme di Tengah Modernisme

Ekosufisme hadir sebagai jalan alternatif yang mengingatkan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari iman. Ia tidak mengajak semua orang masuk ke tarekat, melainkan menghidupkan nilai-nilai sufistik dalam keseharian.

Menanam pohon bukan sekadar aksi sosial, tetapi bagian dari ibadah. Mengurangi sampah plastik bukan hanya gaya hidup sehat, tetapi juga bentuk syukur. Menghargai air, udara, dan tanah bukan sekadar kewajiban ekologis, tetapi juga kewajiban spiritual.

Baca juga:

Dalam konteks ini, pesantren sebagai pusat tradisi kitab kuning punya peran penting. Dari kitab-kitab klasik, para santri diajarkan akhlak kepada sesama manusia, hewan, dan alam. Jika nilai-nilai ini diperkuat, pesantren bisa menjadi pusat gerakan ekosufisme di Indonesia.

Sudah ada contoh, misalnya pesantren yang mengembangkan pertanian organik, energi ramah lingkungan, hingga gerakan penghijauan. Semua ini memperlihatkan bahwa spiritualitas Islam tidak pernah lepas dari ekologi, tinggal bagaimana kita menghidupkannya kembali.

Ekosufisme memang jalan sunyi, tidak sepopuler jargon teknologi hijau atau wacana energi baru. Tetapi justru dari jalan sunyi inilah manusia bisa menemukan kembali harmoni dengan alam. Ia bukan anti-modernitas, bukan pula romantisisme masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa teknologi tanpa jiwa akan melahirkan peradaban timpang, dan bumi bisa sembuh hanya jika manusia mau menyembuhkan dirinya terlebih dahulu.

Pada akhirnya, ekosufisme mengingatkan kita bahwa bumi ini bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan anak cucu. Kita hanya tamu yang singgah sebentar. Sebagaimana doa-doa para kiai kampung yang selalu menyelipkan syukur pada hujan, angin, dan bumi yang menumbuhkan padi, ekosufisme mengajak kita kembali pada kesadaran lama: bumi ini sakral, dan merawatnya adalah bagian dari jalan menuju Tuhan.

Dan terakhir, jika meminjam sebuah bahasa yang sering dikaitkan dengan Suku Indian Cree dan juga ditemukan dalam buku The Geography of Bliss oleh Eric Weiner, yang mengkritik ketamakan manusia terhadap sumber daya alam demi keuntungan ekonomi, kira-kira begini: Ketika pohon terakhir ditebang, ikan terakhir ditangkap, dan sungai terakhir tercemar, barulah manusia menyadari bahwa ia tidak dapat memakan uang.

 

 

Editor: Prihandini N

N.A. Tohirin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email