Suka gadoin tempe mentah.

Andai Saya Terlahir sebagai Masyarakat Suku Baduy

Muhammad Ridwan Tri Wibowo

2 min read

Ketika seorang teman bertanya, “Apa yang kamu ketahui tentang masyarakat Suku Baduy?” saya langsung terbayang oleh kehidupan mereka yang damai dan sederhana. Jauh dari hiruk-pikuk dunia modern.

Setiap musim tanam, mereka ramai-ramai pergi ke ladang dan menanam padi huma. Kegiatan ini dilakukan bukan semata-mata untuk kepentingan diri sendiri, tetapi untuk kepentingan seluruh warga kampung. Contohnya, jika ada yang mengalami gagal panen, warga lain dengan sukarela akan memberikan bantuan. Kebersamaan inilah yang menciptakan kehidupan mereka begitu damai. Tidak terlintas dalam pikiran mereka akan bahaya mati kelaparan.

Sembari menunggu panen, mereka menanam jahe dan kencur di kebun belakang rumah. Hasilnya mereka perjualkan ke pasar luar desa. Berjualan tanpa ambisi untuk kaya raya. Yang penting cukup untuk bertahan hidup dan berbagi dengan sesama.

Rumah-rumah di sana pun sangat sederhana. Terbuat dari bambu dan kayu. Atapnya sendiri terbuat dari daun kelapa atau alang-alang. Kemudian, di setiap kampung, dibangun di dekat sumber air, sehingga kebutuhan akan air akan tercukupi. Dari paparan saya tersebut, menunjukan bahwa hidup mereka begitu selaras dengan alam.

Baca juga:

Membayangkan Hidup di Sana

Bayangan yang pertama muncul di kepala saya adalah menikah muda. Yang pastinya, saya berharap bisa menikahi seseorang yang sudah saya kenal sejak kecil. Mungkin di usia 18 atau 19 tahun. Atau bahkan lebih muda. Kemudian, beberapa tahun ke depan, sudah dikaruniai dua anak. Laki dan perempuan–biar lengkap.

Terasa seperti mimpi yang indah, bukan? Yaps!

Mungkin kalian bertanya-tanya: Kenapa saya–orang yang selalu bilang tidak mau menikah atau tidak mempunyai anak–bisa-bisanya berkhayal untuk menikah muda? Mungkin saya jawab di sini.

Sebenarnya menikah dan mempunyai anak adalah impian saya sejak kecil. Namun, ketika saya tumbuh remaja itu semua berubah. Mengapa demikian? Karena saya mulai tahu kalau dunia kini kacau balau. Gampangnya, hampir semua hal ini di dunia ini diperjual-belikan, dan harga juga mahal. Dari kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Mungkin, alangkah baiknya, kalau saya ceritakan ketakutan saya.

Ayah sudah meninggal dunia. Ibu bekerja sebagai pelayan warteg. Abang saya tidak lulus SMA. Kalian bisa bayangkan sendiri, ijazah SMP berguna untuk apa? Menjadi pekerja serabutan adalah nasib yang sulit dihindari baginya.

Saya sendiri, kini telah menginjak kepala dua. Tabungan tidak ada. Karier? Ya, gini-gini saja! Mau pacaran saja kadang kepikiran gini, “Buat diri sendiri saja empot-empotan. Makan kadang cuma dua kali sehari. Mau pacaran. Hadeh! Nyusahin orang iya!”

Itu saja masih di tahap ingin pacaran. Apalagi di tahap ingin menikah? Apalagi ke tahap ingin punya anak? Saya tidak sanggup membayangkannya. Maka, menghayal bisa terlahir sebagai masyarakat Suku Baduy adalah hal yang menarik bagi saya.

Saya membayangkan. Di sana, saya bisa hidup bersama istri dan anak-anak tanpa memikirkan tekanan materi. Tidak ada tuntutan akan rumah yang ideal. Tidak ketakutan mati kelaparan karena biaya bahan pokok yang semakin melonjak, diiringi biaya pendidikan yang melambung tinggi. Atau ketakutan-ketakutan anak meminta barang-barang mahal. Contoh anak menginginkan dibelikan Vespa Matic, Iphone, dan barang-barang branded lainnya. Di sana, ketakutan seperti ini tidak akan terjadi.

Anak Bukanlah Beban

Seperti yang sudah katakan tadi: saya memimpikan punya anak dua. Sebenarnya, kalau saya memimpikan punya empat anak, juga tidak masalah.

Di kota-kota, bahkan desa-desa yang sudah terserap dalam lubang hitam modernisme, mungkin mempertanyakan mimpi saya di atas. Soalnya, anggapan “anak adalah beban”, kerap kali saya temukan di unggahan X dan Instagram saya.

Baca juga:

Selain itu, anggapan itu juga kadang-kadang mampir dalam percakapan beberapa teman-teman saya di kehidupan nyata. Sebenarnya, saya Ingin sekali membantahnya. Saya ingin berkata bahwa di kehidupan lain, seperti kehidupan di masyarakat adat, mungkin pepatah “banyak anak, banyak rezeki” sangat relevan bagi masyarakat di sana. Misalnya, bagi masyarakat suku Baduy, salah satu contohnya.

Dalam hemat saya, masyarakat yang masih bergantung pada pertanian dan kerajinan tangan, sangat membutuhkan sang penerus (dibaca: anak). Kehadiran anak adalah simbol harapan.

Memiliki anak di sana, bukanlah beban. Anak dipandang begitu berharga karena mereka mampu membantu pekerjaan sehari-hari orang tuanya. Contohnya, anak laki-laki di sana bisa membantu di ladang, sementara anak perempuan di sana bisa membantu menenun dan menumbuk padi. Jadi, setiap anak memiliki peran penting untuk memperkuat produktivitas keluarga mereka.

Ini tidak seperti kita yang hidup cuma jadi beban keluarga. Sampai kuliah pun, saya banyak melihat teman-teman saya, yang hidupnya masih ditopang orang tuanya. Mungkin, ini nanti juga berlaku bagi saya ketika lulus kuliah nanti. Ya, semoga itu tidak terjadi. Kalau misalnya terjadi, saya berharap, saya tidak lama terjebak dalam keadaan seperti itu.

Nah, memiliki sejumput khayalan “dilahirkan sebagai masyarakat Suku Baduy”, menyadarkan saya bahwa sebenarnya kebahagiaan itu memang sederhana. Yaitu, hidup selaras dengan alam, lalu di kelilingi oleh kebersamaan. Tabik! (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Muhammad Ridwan Tri Wibowo
Muhammad Ridwan Tri Wibowo Suka gadoin tempe mentah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email