Ancaman Depopulasi di Tengah Narasi Bonus Demografi

Pasa Hobi

2 min read

Saat ini, beberapa negara di dunia masih dibayang-bayangi oleh ancaman depopulasi. Terlihat di Asia bagian Timur, depopulasi menjadi penyakit tahunan yang masih sulit diatasi. Dari negara Cina—penduduk terpadat di dunia saat ini—sampai negara Korea Selatan.

Dalam policy brief PBB bidang ekonomi dan sosial edisi April 2023 dijelaskan bahwa populasi Cina telah mencapai puncak dan mulai menurun sejak tahun 2022. Oleh karena itu, PBB memperkirakan penurunan tersebut akan terus berlangsung, sehingga India akan menyandang gelar negara dengan penduduk terpadat di dunia.

Penurunan Total Fertility Rate (TFR)

Total Fertility Rate (TFR) adalah jumlah anak rata-rata yang dilahirkan oleh seorang perempuan dalam masa reproduksinya di suatu wilayah. TFR menjadi acuan untuk melihat kondisi demografis di sebuah negara. Negara dikatakan stabil secara demografis bila memiliki angka TFR sebesar 2.1 dalam jangka waktu yang lama.

Pada tahun 2022, angka TFR Cina hanya menyentuh sebesar 1.2 dan menjadi salah satu terendah di dunia. Korea Selatan pada tahun 2023 tercatat hanya memiliki angka TFR sebesar 0.72.

Badan Pusat Statistika (BPS) melansir bahwa TFR Indonesia dari tahun 1971-2020 terus mengalami penurunan. Pada tahun 2020—data mutakhir—angkat TFR Indonesia menyentuh 2.18. Melihat data tersebut kondisi Indonesia tampaknya masih terbilang aman. Namun, apakah demikian?

Bila melihat tren jumlah kelahiran penduduk Indonesia cenderung mengalami penurunan sepanjang tahun 2013 sampai 2023. Terbaru, BPS memproyeksikan jumlah kelahiran di Indonesia tahun 2023 (4,62 juta) mengalami penurunan sebesar 0,6% dari tahun sebelumnya.

Baca juga:

Bukan hanya penurunan jumlah kelahiran, Indonesia juga mengalami penurunan jumlah pernikahan. Berdasarkan laporan tahunan BPS terjadi penurunan jumlah pernikahan dalam lima tahun terakhir (2020-2024). Penurunan terbesar terjadi antara tahun 2022 sampai 2023, yaitu sebesar 128,039 jumlah pernikahan.

Salah satu alasan penurunan jumlah angka kelahiran dan pernikahan adalah kemunculan tren chidfree di kalangan generasi muda produktif Indonesia.

Fenomena Childfree

Chidfree mengacu pada individu dewasa atau pasangan yang memilih untuk tidak memiliki anak, baik secara biologis maupun melalui proses adaptasi. Childfree merupakan murni pilihan hidup yang tidak berkaitan dengan penyakit fertilitas.

Dalam kajian DATAin BPS Edisi 2023 menganalisis fenomena childfree di Indonesia menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2022. Kajian ini berfokus pada perempuan usia 15-29 yang pernah menikah, tetapi belum pernah melahirkan anak dalam keadaan hidup.

Menurut hasil Susenas, presentase perempuan memilih hidup childfree di Indonesia tahun 2022 sekitar 8 persen, hampir setara dengan 71.000 orang. Artinya terdapat 8 orang diketahui memilih hidup childfree di antara 100 perempuan usia produktif yang pernah kawin.

Terjadi peningkatan terhadap presentase perempuan childfree lulusan perguruan tinggi di Indonesia. Hal ini mengindikasikan terjadi asosiasi antara level pendidikan dengan paradigma baru terhadap kepemilikan anak.

Selain itu, keputusan untuk childfree bukan hanya disebabkan peningkatan kondisi pendidikan, melainkan dilatarbelakangi oleh keputusan finansial individu atau pasangan.

Ketakutan akan Masa Depan

Ekonomi masih menjadi faktor utama generasi muda untuk menentukan masa depannya, salah satunya mempunyai keturunan. Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Banyak pekerjaan rumah yang masih belum selesai, bahkan terbengkalai, seperti pengangguran dan pemutusan hubungan kerja (PHK).

BPS melaporkan hitungan Agustus 2024 bahwa angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) tercatat sebanyak 7,47 juta orang pengangguran.

Di lain sisi, PHK masih menjadi masalah tahunan. Menurut Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mencatat sebanyak 60 ribu buruh telah mengalami PHK sepanjang Januari hingga awal Maret 2025. Sementara itu, Kemnaker melaporkan sekitar 18 ribu tenaga kerja mengalami PHK pada dua bulan pertama 2025.

Baca juga:

Ketakutan generasi muda Indonesia akan ketidakpastian ekonomi di Indonesia terlihat jelas dalam gerakan #kaburajadulu. gerakan tersebut merupakan ekspresi pesimis terhadap kondisi ekonomi saat ini. Penurunan Index Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini merupakan salah satu bukti bahwa ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Ketidakpastian ini memengaruhi keputusan pasangan muda Indonesia untuk tidak memiliki anak, sebab kesejahteraan finansial masih menjadi tolak ukur utama. Hal ini disebabkan anak merupakan tanggung jawab besar.

Sebagai orang tua, mereka tentu harus memikirkan kesejahteraan anak, baik secara pendidikan, gizi, dan sebagainya. Bila belum bisa menyejahterakan diri sendiri, bagaimana bisa mengemban tanggung jawab besar sebagai orang tua?

Dengan demikian, Indonesia saat ini sedang mengalami jumlah populasi yang ideal, tetapi dibayang-bayangi oleh ancaman depopulasi dengan menurunnya angka kelahiran dan pernikahan. Ketidakpastian ekonomi, seperti pengangguran dan PHK masih menjadi momok utama. Childfree merupakan bukti nyata kesejahteraan finansial memengaruhi keputusan pasangan untuk tidak memiliki anak.

Tampaknya narasi “bonus demografi” perlu dievaluasi oleh pemerintah, sebab depopulasi merupakan ancaman nyata yang sudah terjadi di dunia khususnya Asia bagian Timur.

 

 

Editor: Prihandini N

Pasa Hobi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email