Netflix kembali meluncurkan serial baru yang beberapa hari terakhir sangat ramai diperbincangkan di hampir seluruh platform media sosial. Serial ini berjudul Adolescence, sebuah drama remaja yang jauh dari kata klise. Alih-alih menampilkan cinta-cintaan remaja atau konflik keluarga biasa, serial ini dengan berani menyajikan sisi gelap pertumbuhan remaja laki-laki muda di era internet – dunia yang seolah tak berwajah, tapi punya suara keras, beracun, tajam, dan sistematis.
Dalam serial Adolescence, kita dapat melihat bagaimana seorang anak laki-laki bisa berubah menjadi sosok yang mengancam, bukan karena ia tumbuh jahat sejak lahir, tetapi karena ia tumbuh dalam sistem dan lingkungan yang membentuknya demikian.
Baca juga:
- Penis, Maskulinitas, dan Kekuasaan Simbolik
- Bayang-Bayang Maskulinitas Dominan dalam Wacana Ketubuhan Queer
Pemeran utama dalam serial ini, Jamie, adalah seorang anak laki-laki yang digambarkan sering terabaikan. Di sekolah, ia bukan siapa-siapa. Di rumah, ia hanyalah figuran dalam rutinitas keluarga yang sibuk. Tapi di internet, Jamie menemukan tempat. Ia menemukan teman dan kelompok yang mendengarkannya – bukan untuk mengobati luka, kesepian, tetapi untuk memperkuat kemarahannya.
Toxic Masculinity dalam Bentuk Paling Sederhana
Yang membuat serial ini begitu menghantui adalah bentuk kesederhanaannya. Adolescence tidak menggunakan efek dramatis berlebihan atau karakter jahat yang dibuat-buat. Jamie terasa nyata. Ia bisa jadi anak tetangga, teman, bahkan mungkin versi masa lalu dari orang yang kita kenal.
Serial ini dengan gamblang menunjukkan bagaimana toxic masculinity tidak selalu muncul dalam bentuk teriakan atau bahkan kekerasan fisik. Namun, kadang ia bersembunyi di balik lelucon seksis yang dianggap “wajar”, atau nasihat-nasihat kuno seperti “laki-laki harus kuat dan tidak cengeng.”
Sedikit demi sedikit, semua itu mempengaruhi pola pikir Jamie – dan ketika ia mulai mencari makna lebih dalam tentang siapa dirinya. Internet hadir sebagai wadah terbuka yang memberikan keinginannya dan memberinya narasi-narasi baru: bahwa laki-laki adalah korban peradaban modern, bahwa perempuan adalah musuh alami yang menghambat dominasi mereka.
Dunia Digital: Wadah Tempur Baru Remaja Laki-Laki
Di era kiwari, hadirnya internet bukan sekadar tempat untuk mencari hiburan. Bagi banyak remaja, terutama laki-laki, internet adalah ruang pertumbuhan. Namun, yang tidak diketahui adalah bahwasanya tidak semua yang tumbuh di sana adalah hal baik.
Adolescence begitu menyoroti bagaimana dunia digital memberi wadah bagi ide-ide misoginis, kelompok incel, dan forum-forum seperti manosphere untuk menyebar luas. Dengan algoritma yang memperkuat apa yang kita ingin cari, seorang anak seperti Jamie yang sedang kesepian dan marah akan terus disajikan konten yang memperkuat persepsi dan pemahamannya: bahwa dunia telah berbuat tidak adil bagi laki-laki, bahwa maskulinitas sedang “dihancurkan”, dan bahwa satu-satunya solusi atau jalan keluar adalah dengan mengambil kendali – bahkan jika itu harus menyakiti orang lain.
Yang lebih mengerikan, banyak dari konten semacam ini dikemas secara “inspiratif”. Jamie tidak sedang menonton konten yang mengajak membunuh atau menyakiti. Tetapi ia menonton “motivator pria” yang berbicara soal “alpha male”, “mengontrol wanita”, dan “mengambil alih hidup”. Dan dari sanalah bibit-bibit kekerasan mulai tumbuh, bukan dari darah maupun senjata, tapi melalui kata-kata dan validasi.
Narasi Lelaki yang Sempit dan Seringkali Membebani
Serial Adolescence juga membongkar realitas bahwa laki-laki muda sering kali tidak diberi ruang untuk gagal, menangis, atau mengakui bahwa mereka tidak baik-baik saja. Jamie tidak punya siapapun untuk diajak bicara.
Baca juga:
Setiap kali ia terlihat lemah, ia disuruh “tegar”, dituntut untuk “jadi laki-laki sejati.” Namun, tak seorang pun yang memberitahu bagaimana sebenarnya menjadi laki-laki sejati itu.
Maskulinitas sempit inilah yang kemudian menjadi faktor utama bagi toxic masculinity, yaitu di mana ketika perasaan tidak diberi ruang dan tempat, maka ia akan berubah menjadi sebuah kemarahan. Dan saat kemarahan itu tidak diarahkan, ia akan mencari target – dan sering kali, yang jadi korban adalah kaum perempuan, kelompok yang dianggap “lebih diutamakan”, “lebih didengarkan”, dan “lebih berkuasa” di mata Jamie dan kelompok-kelompok ekstrem di mana ia tumbuh.
Apa yang Dapat Kita Lakukan?
Adolescence bukan hanya ingin membuat kesan takut dan sedih kepada para penonton. Serial ini tidak lain adalah sebuah panggilan akan refleksi kolektif. Kita tidak bisa lagi membiarkan dunia digital mendominasi dan mendikte anak-anak kita.
Kita tidak bisa hanya mengajari mereka untuk tidak membenci perempuan, melainkan kita juga harus mengajari mereka cara mencintai diri sendiri dengan sehat, bagaimana cara mengontrol emosi dengan baik, dan memberikan pemahaman bahwa menjadi laki-laki tidak harus berarti menjadi dominan.
Jamie bukan satu-satunya, dan tidak juga menjadi yang terakhir – kecuali kita mulai membuka ruang untuk diskusi terkait kesehatan mental anak laki-laki, soal kesepian, dan bagaimana menjadi manusia yang utuh tanpa membangun identitas di atas kebencian terhadap orang lain. Jamie mungkin fiksi, tapi dunia yang membentuknya sangat nyata. (*)
Editor: Kukuh Basuki
