Teman, ingatan, cerminan. Tiga kata ini melekat dalam benak saya selama membaca novel Tube (튜브) karya Sohn Won-pyung. Saya menemukan teman, ingatan, juga cerminan dari kehidupan Kim Seong-gon Andrea. Karya terbaru Won-pyung yang diterbitkan Grasindo (Gramedia Widiasarana Indonesia) ibarat buku pemulihan jiwa dan renungan hidup. Won-pyung dengan mulus dan tanpa bertele-tele mengajak pembaca memulihkan jiwa sekaligus melakukan permenungan sepanjang buku. Terdengar berat dan cukup menguras emosi, tapi setidaknya perjuangan Kim Seong-gon mampu menggerakkan kita untuk berintrospeksi.
Tanpa keterpaksaan kita langsung larut dalam kisah Kim Seong-gon, malah sejak prolog. Kita adalah saksi atas upaya-upayanya mengubah hidup menjadi lebih baik serta percobaan bunuh diri yang berkali-kali gagal. Won-pyung secara gamblang menyuruh lihat bagaimana kehidupan menguji Kim Seong-gon lewat usaha, bisnis, karier, dan rumah tangganya. Semangat, keputusasaan, kefrustrasian, kemarahan, kekesalan, kekecewaan, kesedihan, semua emosinya terpancar jelas hingga dalam momen-momen itu kita turut merasakan, dan pada beberapa titik dapat memaklumi pilihan dan keputusan yang ia ambil.
Baca juga:
- Menyoal Fenomena Bunuh Diri di Indonesia
- Saat Dunia adalah Neraka dan Bunuh Diri Dianggap Penyelamatnya
Sayangnya, setiap kali mencoba dan gagal lalu bangkit lagi, ia melupakan satu hal paling penting untuk dilakukan, yaitu introspeksi. Tidak selaras dengan ucapan Glenn Gould pada halaman 12 dalam film dokumenter yang ditonton Seong-gon, “‘Jangan pernah berpikir untuk berusaha melakukan sesuatu tanpa melakukan introspeksi.'” Ia justru kerap menyalahkan orang lain serta enggan mengakui kesalahan dan menurunkan ego, “Alih-alih mengakui kesalahannya, dia malah melawan dengan mengarang logika padahal dia tahu bahwa dirinya salah.” (Halaman 5)
Tidaklah heran melihat rumah tangganya gagal. Kalau saya berada di posisi Ran-hee, istri Kim Seong-gon, pun tentu tidak tahan dengan sikap dan kebiasaannya—yang sama sekali tidak menunjukkan perubahan. Hubungan tidak akan berhasil jika hanya salah satu yang berjuang, ‘kan? Berbicara nasib buruk, siapa pun tentu pernah mengalami nasib buruk dan merasa putus asa. Nasib-nasib buruk yang menimpa Kim Seong-gon kiranya pernah kita alami kendati tidak persis sama. Menyimak kisahnya tidak hanya membikin saya menemukan teman, tetapi juga memulangkan ingatan akan kesusahan dulu—terutama dua tahun ke belakang.
Serangkaian kesulitan dan kegagalan saat itu membawa saya pada banyak nasib baik yang tidak pernah terduga sebelumnya. Begitu pula dengan Kim Seong-gon. Nasib-nasib buruk yang ia alami berganti ke nasib baik, dan kian membenarkan narasi dalam buku O: Sebuah Novel (Gramedia Pustaka Utama, 2016) karya Eka Kurniawan, “Kadang-kadang nasib buruk, dengan keajaiban semesta, malah membawa siapa pun ke nasib baik.” Kenyataannya, hidup memang tidak melulu menghadirkan nasib buruk ataupun nasib baik. Kemampuan bertahan dan kesediaan berintrospeksi diperlukan dalam membuat perubahan.
Mengutip Eka Kurniawan dalam buku yang sama, “Hidup adalah serangkaian percobaan. Selebihnya biarkan nasib bicara.” Kutipan ini amat tepat dan sejatinya hidup kita dimulai dari satu percobaan ke percobaan lain. Seperti Kim Seong-gon yang membuka pusat perbelanjaan setelah mengundurkan diri dari pekerjaannya. Sayangnya, nasib baik tidak berpihak kepadanya dan ia pun menemui kegagalan. Banyak percobaan lain yang ia lakukan sebelum pernikahannya kandas dan percobaan bunuh diri yang gagal, hingga mencapai titik kesadaran untuk bangkit kembali serta memperbaiki hidup.
Tekad dan kegigihan Kim Seong-gon dalam mengubah hidupnya tak hanya tampak semasa ia masih muda, tetapi juga saat berusia 40 tahunan. Sebelum mendapat ide membuat sesuatu yang mengutamakan makna di atas segalanya, banyak upaya, tujuan, maupun hal yang ia lakukan. Tidak semua hal besar, upaya kecil seperti membenarkan postur tubuh pun ia coba. Boleh dibilang Proyek Sedotan—aplikasi interaktif yang mencocokkan tantangan dan dukungan anonim—adalah puncak dari upayanya memperbaiki hidup. Sebab, dari kejadian-kejadian selama membuat proyek inilah ia dapat berdamai dengan diri dan kehidupannya.
Lewat novel Tube (튜브), Won-pyung membawa kita menyelam ke sebuah laut lepas yang airnya sesekali tampak tenang, namun pada momen tertentu sebaliknya. Pasang surut airnya kelihatan jelas dari kehidupan Kim Seong-gon yang naik turun. Selain perjuangannya memulihkan hidup, bagian paling menarik dan memenasarankan adalah perubahan yang terjadi pada Ran-hee dan hubungannya dengan sang suami. Apa Ran-hee berubah karena sikap Kim Seong-gon? Bagaimana hubungan mereka pada akhirnya? Apakah mereka kembali hidup bersama? Jujur saja, saya amat kepo dengan perubahan hubungan mereka.
Tiga pertanyaan besar itu timbul dalam benak saya tatkala membaca kehidupan rumah tangganya. Meski Won-pyung kurang menyoroti perubahan Ran-hee dan upayanya mempertahankan kehidupan rumah tangganya yang gagal, tiga pertanyaan tersebut terjawab melalui beberapa adegan yang tak mudah ditebak dan membikin kita memafhumi perubahan karakter Ran-hee dan pilihannya. Won-pyung berhasil membikin saya merasa punya kedekatan dengan para tokoh. Tidak hanya melalui nasib yang dialami, tetapi juga sikap dan kepribadiannya. Dalam beberapa kejadian, saya menemukan kesamaan pemikiran ataupun tindakan.
Kiranya pas jika saya memandang novel ini sebagai buku pemulihan jiwa dan renungan hidup. Kehidupan Kim Seong-gon mampu menarik saya merenungi hidup sendiri. Selama mengikuti perjalanan hidupnya, perasaan saya tervalidasi lagi dan jiwa saya turut dipulihkan. Semacam mendapat dorongan dan nasihat selepas berkonsultasi serta betul-betul menemukan teman senasib; sama seperti Kim Seong-gon. Di tengah-tengah proses memulihkan diri dan hidup, ia berjumpa lagi dengan Han Jin-seok, mantan karyawan yang dulu bekerja di restoran pizza miliknya. Mereka berbagi nasib yang sama—tenggelam dalam keputusasaan dan kehilangan cahaya dalam hidup.
Bagi Seong-gon, pertemuannya dengan Jin-seok tidak menyenangkan, namun lama-kelamaan keduanya menjadi dekat dan saling mendukung pemulihan hidup masing-masing. Memiliki teman seperjuangan di masa-masa sulit niscaya menyenangkan terutama ketika semangat sedang menurun atau butuh teman cerita. Hal ini tergambar jelas dalam hubungan keduanya. Selain tema cerita dan isu yang diangkat amat dekat dengan kita, selipan makanan dan minuman, bahasa gaul, kode peger, dan istilah dalam bahasa Korea sangat menarik bagi pembaca seperti saya yang tidak tahu banyak soal Korea. Contohnya, istilah hyeonpi yang berarti bertemu secara langsung dan bertengkar.
Baca juga:
Novel Tube (튜브) boleh dibilang buku yang bisa dibaca setiap kali kita membutuhkan teman saat suasana hati lagi buruk atau mengalami hal tidak menyenangkan. Di lain sisi, buku ini bukan bacaan yang bisa dinikmati oleh orang yang keadaan mentalnya tidak stabil. Terlepas dari usia, apa yang Kim Seong-gon alami bisa terjadi pada siapa saja, dan hanya kita satu-satunya orang yang dapat mengubah hidup. Pilihannya cuma dua, yakni bangkit dan terus mencoba atau tenggelam dalam keputusasaan. Seperti pesan dari Sohn Won-pyung pada halaman 213, “Bagaimanapun, kita harus berdiri dengan kekuatan kita sendiri. Dalam hal ini, usaha kita akan selalu indah dan berharga, selama tidak merugikan orang lain.” (*)
Editor: Kukuh Basuki
