Pernahkah Kukatakan Padamu
Pernahkah kukatakan padamu,
tubuhmu adalah hujan merah—
aku, jiwa yang berjalan dalam kabut
menciummu seperti petir dalam pelukan?
Kita berjumpa di tubuh yang terluka,
di antara reruntuhan kota yang bernyanyi.
Kau, seluas bulan yang hilang dalam debu,
dan aku—tulang yang mati tanpa kenangan.
Kita adalah pecahan cermin tua,
yang terhempas di jalan raya,
terbakar oleh matahari yang terbuka,
berkata, kita tidak bisa kembali.
Kasih, setiap sentuhan kita adalah riuh,
api yang menyala di bawah tanah hitam,
bibir kita berbisik dalam keheningan—
seperti gurun yang menangis
di malam yang patah.
(2025)
–
Ketika AKU Menciummu
ketika AKU menciummu
waktu menunduk di antara bibir kita—
sehelai embun gugur dari kelopak pagi
yang belum sempat diberi nama
bibirku berhenti
seperti doa yang gugup di tengah badai
sebelum puisiku dipungut
oleh tangan musim yang tak pernah setia
AKU menciummu seperti tanah mencium hujan
yang hanya datang sekali
sebelum tanah itu retak
dan mengucapkan kata selamat tinggal
dengan bunga-bunga yang belum mekar
malam itu
kulihat bibirmu:
sebuah kota kecil yang terbakar asmara
di mana cinta berjalan tanpa peta
dan kehancuran tak bisa ditolak
kau tak tahu—
satu ciumanmu bisa menjadi keadilan
bagi seluruh keheningan bibirKu
dan AKU takut
tak akan pernah melihatmu lagi
seperti bulan takut kehilangan laut
maka AKU mencium
dengan seluruh ketakutan
dengan seluruh hidupku
yang menolak musnah
dan AKU ingin—
menciummu berkali-kali
hingga ciuman
tak lagi menjadi keajaiban
melainkan menjadi
rumah yang sunyi
dan selalu terbuka
untuk rinduku yang tak selesai
(2025)
–
AKU Gugur di Tubuhmu
kalau aku gugur di tubuhmu
jangan kuburkan aku dengan doa
cukup peluk aku dalam gerakmu
yang terakhir itu
seperti kafan yang tak selesai dijahit
oleh napasmu yang letih
mengurusi dendam dan rindu yang tak genap jadi alamat
kalau kamu hidup, jangan
menjual kursi plastik biru
yang pernah kita duduki
saat kita menafsirkan
rintik hujan sebagai ciuman gagal,
dan dunia sebagai celah sempit
di antara dua kantong belanja
membeli sepotong kain murahan
dari pasar yang terbakar separuh
dan benang yang tak cocok warnanya
karena cinta tak butuh kecocokan—
hanya kantong kresek
penuh sisa-sisa
di suatu Indonesia yang memintal
surga dari baliho rusak dan jalan berlubang
kita menatap langit yang patah
dengan mata yang mendelik
bukan karena takjub, tapi karena lelah
menunggu gairah yang jatuh
lebih cepat dari peluh di keningmu
yang dipenuhi laporan keuangan
aku gugur
bukan seperti pahlawan
dalam buku pelajaran
tapi seperti ciuman di malam mabuk
yang tak sempat jadi puisi
atau alasan untuk pulang
dan lupa
jangan ucapkan selamat tinggal
untuk darahku
untuk tubuhku yang
kauraba sambil mengantuk
dan menghitung sisa pulsa listrik
lihatlah pesawat itu
kau yang membuatnya terbang tinggi
dari halaman rumah kita yang sempit
kau pikir itu malaikat?
bukan. itu hanya harapan
yang kauikat dengan tali cucian
dan kaulempar ke langit
yang tak menjanjikan apa pun
kalau aku harus gugur
mari kita buat dongeng
tanpa akhir bahagia
biarkan ini jadi kitab suci yang lengang
penuh catatan kaki dan coretan lipstik
tafsiran terakhir adalah tubuhmu
yang kutinggalkan
masih hangat
masih mencari
masih merasa aku ada
di sela kain murahan
dan cinta yang tak selesai dijahit
(2025)
–
Aku Ingin Seorang Perempuan
aku ingin seorang perempuan
yang membuka roknya seperti
membuka peta
tak karena cinta,
tetapi karena kabel listrik
sudah menggantung di antara lutut kita
dan hujan turun di dapur
di mana celana dalamnya
berubah menjadi handuk perang
yang mengampuni jari-jariku
seperti negara mengampuni penyusup,
jari yang pernah masuk ke museum sunyi
di antara dua paha kuning,
dengan bau logam dan jeruk
yang meledak seperti granat kecil
di balik tirai gorden
yang melupakan aku
saat aku tidur dengan tubuh lain,
tubuh tanpa aksara,
di atas ranjang bekas revolusi
dengan bantal penuh debu koran lama
tetapi mencintaiku kembali
saat kuucapkan namanya
di punggung perempuan
yang diam seperti pos perbatasan
aku ingin kamu menangis
bukan seperti kekasih
tapi seperti wastafel tua
yang meneteskan air
dari kenangan yang tak bisa dicuci—
napas terakhirku tersangkut
di antara dadanya,
yang sudah dipakai menyusui
tiga puisi gagal dan
satu anak tak dikenal
jika kau pohon,
aku burung plastik
yang jatuh dari tiang listrik
menyusun sarang dari kabel charger,
kartu SIM mati, dan bra tipis
di cabang tubuhmu yang
tak pernah benar-benar diam
jika pohon itu aku
kau buah yang pecah saat disentuh
dengan lidah yang
menyebut namamu
di antara gigi—
seperti menyebut berhala
yang ditulis ulang dalam
bau kemaluan
aku adalah penggembala
yang kehilangan kambing
dan arah kiblat
memasuki guamu
yang berbau air mani, kopi basi,
dan suara nyamuk dari masa kecil
kau gema suaraku
yang memantul-mantul
di dinding kamar mandi
apartemen murah
dengan pintu yang tak bisa dikunci
aku adalah balkon apartemen
yang menyambutmu dengan
tisu bekas
dan bir yang tumpah
dan aku mulut rusak
yang menciummu di lift mati
di bawah CCTV
yang tak pernah dimatikan
dan aku selimut pinjaman
yang membungkus tubuhmu
dengan percakapan
tentang negara-negara yang
kita telanjangi di siang hari
jadilah kasur, cermin,
dan karpet rongsok
jadilah semua yang berdebu,
yang pernah disentuh tubuh
karena denganku kau utuh
seperti orgasme terakhir
yang tidak disambut cinta
dan denganmu aku utuh
seperti kota yang tertidur
tapi tetap menyala
dengan nama-namamu
yang tertinggal
di balik lipatan leherku
aku ingin seorang perempuan
yang membuka roknya seperti
membuka peta
tak karena cinta,
tapi sebaliknya.
(2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
