Pendidikan: Jalan Pulang Menuju Kemanusiaan

Purnawan Andra

3 min read

Apa gunanya pendidikan jika justru membuat kita kehilangan kemampuan untuk merasa? Pertanyaan ini mungkin terdengar sentimentil, namun relevan dalam konteks pendidikan Indonesia hari ini.

Di tengah dinamika kebijakan kurikulum yang terus berubah, tekanan capaian nilai, serta tuntutan dunia kerja yang pragmatis, kita seakan melupakan bahwa inti dari pendidikan adalah memanusiakan manusia.

Buku Pendidikan yang Membebaskan karya Pandu Wijaya Saputra hadir sebagai pengingat reflektif akan hal itu. Tanpa terjebak dalam retorika nostalgia, buku ini mengajak kita kembali mempertanyakan: apakah sistem pendidikan kita benar-benar mendidik, atau sekadar menjejalkan informasi yang tak pernah benar-benar hidup dalam praktik keseharian?

Perspektif Budaya

Salah satu hal yang paling mencolok dari buku ini adalah keberaniannya untuk bicara tentang pendidikan dari perspektif budaya. Bukan budaya dalam artian adat-istiadat atau tradisi lokal, tetapi kebudayaan sebagai cara hidup, sebagai cara berpikir dan merespons dunia. Pandu menulis bahwa pendidikan seharusnya menjadi jalan kebudayaan yang membebaskan manusia, bukan mengekangnya dalam sistem yang kaku dan seragam.

Mari kita lihat realitasnya. Di banyak sekolah, kreativitas guru dibatasi oleh aturan administratif dan kurikulum nasional yang minim ruang improvisasi. Guru yang ingin mengaitkan pelajaran matematika dengan tradisi lokal atau lingkungan sekitar seringkali kesulitan karena buku teks dan sistem evaluasi tidak mendukung pendekatan tersebut.

Di sisi lain, siswa yang memiliki kecerdasan praktis—yang pandai bercocok tanam, memainkan alat musik tradisional, atau memahami ritme alam—tidak dianggap unggul karena tidak bisa mengerjakan soal-soal ujian nasional. Sistem ini tidak mengenali keunikan sebagai potensi, tetapi sebagai penyimpangan dari standar.

Buku ini juga menyoroti bagaimana pendidikan kita secara tidak sadar menciptakan ketergantungan pada institusi formal. Orang tua menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada sekolah, dan sekolah merasa cukup dengan menyampaikan materi sesuai silabus.

Baca juga:

Padahal, pendidikan sejati tidak pernah berhenti di ruang kelas. Ia hidup dalam percakapan sehari-hari, dalam kerja-kerja kolaboratif keluarga, dalam relasi sosial yang membentuk karakter dan etika.

Dalam konteks ini, Pandu menyodorkan gagasan “sekolah sebagai laboratorium budaya”. Bayangkan jika sekolah menjadi tempat anak-anak belajar menenun dari pengrajin lokal, memahami siklus tanam dari petani desa, atau menganalisis cerita rakyat sebagai bagian dari pelajaran bahasa.

Ini bukan romantisme masa lalu, melainkan bentuk nyata dari pendidikan kontekstual yang membuat anak-anak merasa bahwa apa yang mereka pelajari berkaitan langsung dengan hidup mereka.

Namun, tantangan pendidikan kita tidak hanya soal isi kurikulum. Budaya senioritas yang melembaga, kekerasan simbolik di lingkungan pendidikan, serta kurangnya ruang aman bagi siswa untuk bertumbuh secara utuh juga menjadi sorotan penting dalam buku ini.

Pandu mengangkat kisah Ekalaya dari Mahabharata—seorang murid berbakat yang ditolak oleh guru hanya karena ia bukan dari kasta utama—sebagai simbol bagaimana sistem pendidikan kita masih diskriminatif. Ini tercermin dalam sulitnya akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari daerah terpencil, atau mahalnya biaya pendidikan yang membuat sekolah menjadi hak istimewa.

Literasi

Satu hal yang menarik adalah perhatian Pandu terhadap literasi. Di tengah kemajuan teknologi informasi, minat baca anak-anak justru merosot. Buku ini tidak hanya menyalahkan siswa, tetapi juga sistem dan budaya yang tidak menyediakan ruang nyaman untuk membaca.

Literasi, dalam pandangan Pandu, bukan hanya soal kemampuan mengeja kata, tetapi kemampuan “niteni”—mengamati, mengolah, dan memaknai informasi secara kritis. Dalam era banjir hoaks dan disinformasi, kemampuan ini sangat krusial. Tapi ironisnya, pendidikan kita justru lebih mendorong hafalan daripada penalaran.

Di sinilah pentingnya peran guru dan orang tua. Buku ini menekankan bahwa guru tidak boleh menjadi mesin pengajar, melainkan fasilitator yang membuka ruang eksplorasi. Begitu pula orang tua, yang tidak cukup hanya menuntut nilai tinggi, tetapi perlu terlibat dalam proses pendidikan sebagai penanam nilai dan teladan.

Pandu menyebut bahwa melibatkan anak dalam pekerjaan rumah, mengajak mereka berdialog, bahkan membiarkan mereka mengamati proses kehidupan di sekitarnya—adalah bentuk pendidikan yang sejati.

Pendidikan juga, sebagaimana ditekankan buku ini, mesti menyentuh aspek rasa. Rasa tidak pada cerapan indra, tapi pada kualitas emotif, nilai makna kemanusiaan. Sayangnya, pendidikan seni dan sastra di sekolah masih dianggap pelengkap, bukan kebutuhan.

Baca juga:

Padahal, lewat puisi, teater, dan musik, anak-anak belajar merasakan, mengungkapkan, dan memahami emosi—yang semua itu esensial dalam membentuk manusia yang empatik dan beradab. Ini menjadi ironi besar ketika kita menghadapi krisis empati, kekerasan verbal di media sosial, dan alienasi sosial di kota-kota besar.

Kelebihan lain dari buku ini adalah caranya menghubungkan sejarah, budaya, dan pendidikan dalam narasi yang puitis namun tetap tajam. Mengutip pengalaman STOVIA, Sumpah Pemuda, atau nilai-nilai Pramuka, Pandu membangun jembatan antara masa lalu dan masa kini untuk menunjukkan bahwa pendidikan tidak boleh tercerabut dari akar sejarah dan konteks sosialnya.

Namun, buku ini juga bukan tanpa kekurangan. Formatnya sebagai kumpulan esai membuat beberapa gagasan terasa terpotong atau kurang mendalam. Tapi di sisi lain, format ini justru membuat buku ini terasa seperti percakapan—sebuah dialog panjang tentang keresahan dan harapan, bukan doktrin yang menggurui.

Pertanyaannya, bagaimana kita menindaklanjuti gagasan-gagasan ini? Tentu tidak cukup hanya dengan membaca. Kita perlu ruang-ruang konkret—sekolah percontohan berbasis budaya, kurikulum lokal yang diberi ruang formal, pelatihan guru yang tidak hanya teknis tetapi juga filosofis, serta kebijakan publik yang mendengar suara dari bawah.

Pendidikan yang membebaskan bukanlah utopia. Ia sangat mungkin terwujud jika kita bersedia memikirkan ulang apa makna belajar, siapa yang disebut terdidik, dan untuk apa sekolah ada.

Dan mungkin, langkah awalnya sesederhana ini: berhenti mengukur anak-anak kita dari nilai ujian, dan mulai melihat mereka sebagai pribadi yang sedang tumbuh, mencari makna, dan ingin merasa berguna bagi dunianya.

Dalam arus zaman yang makin tergesa dan makin gaduh ini, pendidikan yang membebaskan bukanlah slogan usang, melainkan panggilan mendesak untuk mengembalikan ruh kemanusiaan ke jantung proses belajar. Ia menuntut kita merawat bukan hanya akal, tetapi juga rasa dan nurani—sebab yang hendak dibentuk bukan sekadar manusia produktif, melainkan manusia yang utuh, yang mampu berpikir jernih, merasa dalam, dan bertindak bijak di tengah dunia yang makin kehilangan arah.

 

 

Editor: Prihandini N

 

Purnawan Andra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email