Teolog partikelir yang menulis kadang-kadang, dan suka ngopi

Tinggal Meninggal: Kepalsuan untuk Menjadi “Autentik”

Heski Dewabrata

4 min read

Sebagai manusia, tidak jarang keberadaan kita cenderung diabaikan oleh khalayak ramai. Tidak jarang juga, agar eksistensi kita dapat diakui, kita cenderung mencoba berbaur dengan khalayak di sekitar kita bagaimana pun caranya. Tanpa disadari, hal ini membuat “diri” kita menjadi mati karena kita telah dibentuk oleh apa yang ada di sekitar kita, dan melupakan siapa “diri” kita sebenarnya.

Hal ini saya temukan ketika menonton Tinggal Meninggal (2025) melalui platform Netflix. Film ini, bagi saya, mencoba untuk menyingkap keber-ada-an manusia di dunia dan bagaimana eksistensi manusia dibentuk seiring perjalanannya di dunia. Saya melihat bayang-bayang Heidegger dalam film ini yang menggelitik saya untuk menganalisis film ini lebih lanjut.

Dengan tambahan elemen breaking the 4th wall, film ini mengajak kita untuk mengikuti kehidupan seorang manusia yang berada di persimpangan dalam setiap pilihan-pilihan yang harus dia pilih. Secara tidak langsung, karakter Gema (diperankan oleh Omara Esteghlal) menggambarkan manusia yang terus bereksistensi, dan kita sebagai penonton ikut andil dalam proses eksistensi tersebut.

Keterlemparan Sebagai Manusia

Dalam Being and Time, Martin Heidegger membahasakan manusia sebagai Dasein. Menurut saya, kosakata dasein dipilih Heidegger untuk menghindari konsepsi-konsepsi terhadap manusia sehingga terdengar lebih netral. Heidegger melihat manusia sebagai subjek yang terlempar ke dunia yang asing bagi dirinya dan ia tidak mengetahui sama sekali dunia tersebut. Hal inilah yang membuat manusia terus ber-“eksistensi” sebagai dasein yang terlempar ke dunia. Konsep ini ia bahasakan sebagai In-der-Welt-sein atau Being-in-the-world.

Baca juga:

Konsep ini terpotret dalam film melalui perjalanan hidup Gema di masa kecilnya hingga kehidupan dewasanya. Gema terlempar ke dunia (lingkungan) yang tidak ia mengerti, bahkan kondisi keluarganya sendiri ia tidak mampu memahaminya. Hal ini membuat ia menjada subjek yang belum “sadar” dan mengalami keterasingan. Setiap momen dalam hidupnya membuat ia menjadi terasing dan selalu menyendiri. Hal ini dikarenakan ia tidak mampu mengenal “diri”nya dan cenderung hanya menuruti kemauan orang di sekitarnya.

Tidak heran, jika ia terus-menerus mencari “pengakuan” dari orang-orang disekitarnya. Hal ini ia lakukan karena sejak kecil ia tidak pernah mendapatkannya. Karena itu ia menjadi terasing dari dunia bahkan dirinya sendiri.

Dalam konsep Heideggerian, ketika manusia membuat pilihan karena orang lain, ia akan kehilangan autentisitasnya. Hal ini dapat menuntun pada inautentisitas dan cenderung terseret ke dalam Das Man. Konsep Das Man sendiri sebenarnya mengacu pada kumpulan massa. Dan konsep ini menggambarkan kondisi atau cara hidup seseorang ketika dirinya cenderung mengikuti apa yang “ramai” di kalangan massa. Kondisi itu terlihat ketika sesorang membuat pilihan berdasarkan norma-norma di lingkungan, tren sosial, atau “standar” yang dibuat publik, sehingga ia cenderung mengikuti apa yang sudah “diseragamkan” oleh publik. Hal ini lah yang membuat manusia atau Dasein kehilangan autentisitas.

Kematian sebagai Elemen Hegemonik

Salah satu elemen yang menggelitik saya dalam film ini ialah mengenai kematian. Dalam film ini, kematian menjadi bentuk inciting incident yang membuat Gema mendapatkan tujuan awalnya, yakni perhatian dan pengakuan keberadaannya dari orang di sekitarnya. Namun, Gema menjadi berada di ambang antara autentisitas dan inautentisitasnya.

Di satu sisi berusaha untuk mendapat pengakuan keberadaannya dari Das Man atau teman-teman di kantornya, di sisi lain Gema menggunakan kematian sebagai elemen untuk mencari perhatian merupakan cara autentiknya. Bahkan melalui film ini, saya melihat bahwa kematian yang dipalsukan merupakan elemen yang digunakan Gema untuk mengontrol orang-orang di sekitarnya. Hal ini memperjelas kondisi post-truth di era sekarang, yakni ketika kebenaran faktual tergeser oleh keyakinan pribadi.

Heidegger sendiri juga mengenalkan konsep Sein-zum-tode yang mempunyai arti berjalan menuju kematian. Momen di mana dasein mempunyai kesadaran dalam pengambilan keputusan dalam hidupnya ialah ketika ia sadar bahwa ia berjalan menuju kematian.

Melalui kesadaran akan kematian, manusia mulai memikirkan eksistensinya. Hal ini lah yang membuat manusia akan benar-benar memikirkan mana yang harus dipilih dan konsekuensi dari pilihan-pilihannya. Di momen ini manusia akan benar-benar sadar terhadap pilihan mana yang benar-benar atas dasar kesadarannya sendiri dan pilihan yang sebenarnya berdasarkan tren, norma sosial, dan “penyeragaman”. Dan di momen ini, manusia akan sadar untuk menjadi autentik di dunia, dan tidak memilih berdasarkan “keseragaman”.

Baca juga:

Heidegger juga melihat kematian bukan sebagai “akhir”. Secara tubuh mungkin manusia mati, namun secara subjek, ia tetap hidup dalam “memori-memori” yang hidup di dalam orang lain. Dapat dikatakan bahwa kematian tubuh adalah hal yang pasti, tetapi subjek tetap hidup dalam “tubuh” orang lain melalui momen-momen pertemuan selama ia hidup. Karena kesadaran akan kematian inilah yang membuat manusia menjadi angst, hingga pada akhirnya ia menyadari keterbatasan dan kebebasannya sebagai manusia. Dan karena kesadaran ini juga, Dasein yang autentik akan berupaya untuk membuat makna dalam kehidupannya agar ia siap menghadapi dan mengantisipasi kematian.

Kesadaran seperti inilah yang saya temui dalam karakter Gema. Namun, saya melihat bahwa kesadaran Gema mempunyai keunikan. Gema menyadari bahwa kematian dapat menjadi alat kontrol untuk teman-temannya agar perhatian selalu tertuju ke Gema.

Pertama, kematian ayahnya yang benar-benar mati. Kedua, ia memanipulasi kematian ibunya. Lalu, kakek neneknya, mesikpun memang mereka benar-benar telah mati. Dan terakhir karena kehabisan target kematian, ia menyadari bahwa ia telah membentuk memori dengan teman-temannya dengan sangat baik, sehingga ia yakin bahwa teman-temannya tidak akan “membunuh” Gema dalam memori yang disimpan oleh mereka. Di momen yang tepat inilah Gema “membunuh” dirinya sendiri karena ia sadar bahwa ia teman-temannya akan perhatian dan tidak akan “membunuh” Gema dalam memori mereka. Hal inilah yang membuat saya melihat bahwa “kematian” dalam film ini menjadi alat kontrol yang digunakan oleh Gema untuk mengendalikan perhatian dari teman-temannya.

Mencari Autentisitas

Film ini, bagi saya, menunjukkan bagaimana autentisitas dan inautentisitas yang menjadi kabur di era sekarang. Di ruang digital, pada kenyataannya, autentisitas dan inautentisitas terkesan menyatu dan tidak dapat ditebak. Orang mungkin bisa menjadi autentik di ruang digital, tetapi di dunia corporeal-nya, nyatanya, ia “seragam” dengan Das Man yang lain, begitu pun sebaliknya. Hal ini yang terlihat pada bagian akhir film ketika Gema masuk pada return point-nya.

Ia pada akhirnya menyadari bahwa apa yang ia lakukan dikendalikan oleh norma publik, keyakinan lingkungan, dan sebagainya. Dan momen kembalinya “diri” Gema terlihat pada momen permintaan maaf pada teman-temannya. Pada bagian ini ditunjukkan bahwa sebenarnya Gema merupakan sosok observer yang peduli dengan memperhatikan kebutuhan masing-masing temannya yang mereka sendiri tidak menyadari bahwa mereka membutuhkannya. Ia pun mendapat perhatian dari temannya dengan cara yang autentik dan tidak terikat dengan norma publik, tren, dan sebagainya. Dan ini tentu berbeda dengan cara gema di bagian awal film.

Di bagian akhir film, sisi autentisitas dan inautentisitas semakin kabur ketika masing-masing temannya ternyata juga menyimpan kebohongan. Dan ini menunjukkan bahwa teman-temannya pun tidak autentik. Apa yang mereka lakukan juga pada akhirnya adalah upaya agar mereka terlihat autentik dengan cara yang tidak autentik. Hal ini dikarenakan mereka melakukan hal-hal “autentik” tersebut hanya agar terlihat keren, padahal mereka sendiri bukanlah orang yang seperti itu. Mereka melakukan itu hanya agar dapat sesuai dengan keyakinan orang lain, agar terlihat “autentik”, meskipun dilakukan dengan cara yang inautentik. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Heski Dewabrata
Heski Dewabrata Teolog partikelir yang menulis kadang-kadang, dan suka ngopi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email