Ada satu konten menarik dari Narasi TV yang tayang pada 16 Maret 2025 lalu. Narasi TV secara khusus mengangkat gerakan dari seorang chef Indonesia keturunan Tionghoa, Michelle Santoso. Beberapa tahun terakhir, Ia aktif memperkenalkan resep makanan Palestina di media sosial miliknya.
Gerakan tersebut lahir dari keprihatinan chef Michelle terhadap bencana kemanusiaan yang terus berlangsung di Palestina. Selain genosida, Ia juga melihat banyak terjadi pencurian resep makanan Palestina oleh Israel. Hal ini menyadarkannya bahwa rakyat Palestina tidak hanya sedang terancam secara fisik, tetapi juga terancam kehilangan identitas budaya.
Israelisasi dan Yahudisasi Kuliner Palestina
Salah satu penanda budaya Palestina yang mengalami “pencurian” adalah makanan. Hidangan-hidangan yang setiap hari menghiasi meja makan warga Palestina, berubah nama dan mendapat tambahan label “Israel”.
Beberapa kuliner khas Palestina dan Arab secara umum, seperti Maqluba, Falafel dan Hummus diklaim sebagai makanan Israel. Maftoul Palestina berubah nama menjadi “Couscous Israel”, dan menjadi salah satu menu utama pada sebuah restoran di Manhattan, Amerika. Pada tahun 2019, surat kabar Israel, Haaretz memuat tulisan berjudul “Shawarma, hidangan khas street food Israel”.
Selain “Israelisasi”, mereka juga menggunakan narasi Yahudisasi (Judaization). Sebuah video di Instagram menampilkan klaim bahwa Couscous, Shawarma, dan beberapa makanan Arab populer lainya sebagai Jewish Food.
Saling adopsi budaya—seperti pertukaran makanan—sebenarnya merupakan hal yang lumrah. Beberapa makanan khas Palestina jika ditelusuri lebih dalam juga tidak murni dari Palestina sendiri. Beberapa kuliner Palestina mempunyai kesamaan dengan resep-resep dari Lebanon, Suriah, Yordania, dan negara-negara Afrika Utara. Couscous dibawa ke Palestina oleh orang-orang Afrika Utara pada abad ke-17, ketika mereka pindah ke Yarussalem saat Perang Salib.
Baca juga:
Ini juga yang menjadi alibi Israel, yaitu apa yang mereka lakukan adalah hasil dari pernyebaran atau akulturasi “alami” antara satu komunitas dengan komunitas lainya. Namun, apa yang dilakukan Israel mempunyai perbedaan yang cukup mendasar, utamanya terkait relasi kuasa dan motif yang melatarbelakanginya.
Menurut Josep Massad, profesor politik Arab Modern dari Columbia University, yang menjadi masalah adalah, Israel dan Palestina bukanlah relasi antartetangga, tetapi relasi antara penjajah dan yang dijajah.
Di dalam penjajahan, hanya ada perampasan. Perampasan ini makin terlihat “direncanakan” dengan dukungan dari pemberitaan media-media pro-Israel dan penyebaran oleh restoran-restoran pro-Zionis, baik yang ada di dalam wilayah pendudukan Israel, maupun yang ada di negara-negara Barat. Menurut Massad, Sangat sulit diterima kalau semua itu terjadi secara alami.
Sedangkan menurut Fadi Kattan, seorang koki Palestina, apropriasi makanan atau adopsi makanan suatu kelompok tanpa memberikan penghargaan, dan bertujuan untuk keuntungan komersial merupakan tindakan yang tidak pantas.
Restoran-restoran Israel mengambil untung dari falafel, knefeh, atau hummus dan tidak “secara jujur” menyebutkan asal-usul makanan tersebut. Kattan tidak keberatan jika para koki Israel memasak makanan Palestina, namun menurutnya, yang menjadi masalah adalah mereka tidak menerangkan asal-usul dari makanan-makanan tersebut.
Dengan kata lain, apa yang dilakukan Israel bukanlah adopsi budaya yang berjalan secara organik, tetapi sebuah perampasan budaya yang sistemik oleh penjajah terhadap budaya negara yang dijajah.
Lalu, sebenarnya apa tujuan dari perampasan budaya yang dilakukan Israel? Apakah hanya selesai pada keuntungan komersial, atau ada tujuan politis lain, apalagi dalam kerangka kolonialisme pemukim?
Eliminasi dan Eksploitasi Identitas dalam Kolonialisme Pemukim
Menurut Patrick Wolfe, kolonialisme pemukim (settler colonialism)—seperti apa yang dilakukan Israel di tanah Palestina—pada intinya adalah menghancurkan untuk kemudian menggantikan penduduk asli (settler colonialism destroys to replace). Ini misalnya dilakukan oleh pendatang Eropa (imigran kolonial) yang datang, kemudian menggantikan kepemilikan dan pengelolaan tanah suku Indian di Amerika Utara atau suku Aborigin di Australia.
Proses penggantian dilakukan dengan yang disebut Wolfe sebagai “the logic of elimination”—yaitu usaha melarutkan eksistensi masyarakat asli agar pendatang dapat menggantikan mereka secara permanen.
Genosida dan pengusiran menjadi cara yang paling terlihat, utamanya di Palestina. Jikapun penduduk asli dipertahankan, mereka akan diperlakukan secara rasis (apartheid), dipaksa meninggalkan keaslian identitasnya, dan selalu dituntut untuk hidup sesuai dengan kemauan pendatang.
Selain terhadap penduduk asli (secara fisik), jejak kebudayaan Palestina juga mengalami eliminasi. Misalnya Ibranisasi nama-nama kota untuk menghapus jejak peradaban Arab-Palestina. Juga pohon zaitun kuno ditebang untuk menghilangkan kekhasan tanah Palestina sebagai penghasil minyak zaitun.
Upaya semacam ini sangat terlihat dalam gelombang awal penjajahan Israel. Hal ini sejalan dengan pernyataan bapak Zionisme, Theodor Herzl, yang mengatakan “jika aku ingin membangun gedung baru, maka aku harus menghancurkan yang lama dahulu sebelum membangun”.
Selain penyingkiran, imigran kolonial juga punya pekerjaan rumah ideologis: yaitu menutupi kenyataan bahwa mereka berasal dari mother land yang berbeda dari tanah yang mereka jajah. Karena itu, eliminasi tidak hanya melalui penghancuran yang menghilangkan, tetapi juga melalui apropriasi/perampasan simbol-simbol kebudayaan lokal.
Baca juga:
Inilah yang menjadi landasan ideologis dari perampasan makanan Palestina. Selain berusaha memisahkan rakyat Palestina dari identitasnya, secara bersamaan mereka juga mengambil alih identitas tersebut sebagai bahan baku dalam proses “rebranding” identitas pemukim yang baru. Identitas baru yang dikonstruksi agar tampak berbeda dari mother land tempat para pemukim berasal.
Contoh lain yang dilakukan Israel adalah, setelah mengusir penduduk Palestina dari Jaffa (saat Nakba 1948), Israel memoles ulang kota tersebut sebagai “kota wisata” dengan arsitektur khas Arab.
Seperti halnya makanan Palestina, simbol-simbol kebudayaan Arab yang diaplikasikan dalam arsitektur kota Jaffa bukanlah bentuk penghormatan terhadap nilai kelokalan, tetapi sebuah eksploitasi kebudayaan—baik demi keuntungan komersil maupun demi kepentingan ideologis Israel.
Fenomena seperti ini bukan hanya terjadi di Israel. Di Asutralia, strategi yang sama juga dilakukan dengan mengadopsi simbol-simbol Aborigin—seperti motif-motif seni dan nama-nama tempat—sebagai identitas nasional “baru”, yang sebelumnya “sangat Eropa”.
Hal ini menunjukan pola yang sama dalam kolonialisme pemukim: menghapus penduduk asli, lalu kemudian mengeksploitasi sebagian warisan budayanya untuk menutupi identitas asli para “imigran kolonial”.
Sehingga, gerakan yang dilakukan oleh Chef Michelle Santoso adalah salah satu bentuk perlawanan kultural sangat bermakna. Dengan membagikan resep-resep makanan Palestina di media sosial, sejatinya Ia tengah membangun pagar untuk menghadang upaya sistematis Israel dalam menghapus identitas Palestina. Secara bersamaan menantang upaya Israel dalam menancapkan supremasinya di tanah Palestina.
Referensi Utama:
Levine, Mark. Overthrowing Geography: Jaffa, Tel Aviv, and the Struggle for Palestine, 1880–1948. Berkeley and Los Angeles: University of California Press, 2005.
Wolfe, Patrick. (2006). Settler colonialism and the elimination of the native. Journal of Genocide Research, 8(4), 387-409.
Editor: Prihandini N
