The King’s Warden merupakan film yang berhasil mendapat gelar penonton terbanyak tahun ini di Korea Selatan. Sampai saat tulisan ini dibuat, jumlah penonton film ini di Korea Selatan sudah mencapai lebih dari 16 juta penonton. Angka ini berhasil di dapat hanya dalam waktu sekitar 2 bulan setelah rilis. Apasih yang membuat film ini menjadi begitu diminati rakyat korsel? Tentunya ada banyak hal menarik dari film ini, yuk kita gali sama-sama! Sedikit peringatan bahwa tulisan ini akan mengandung sedikit spoiler.
Berlatarkan kisaran tahun 1457, di era itu, di era itu Joseon merupakan negara yang sering kali dipenuhi konflik, baik konflik yang muncul dari luar maupun dari dalam negeri itu sendiri. Hal itu membuat beberapa daerah sering kali dilanda kelaparan dan kekurangan makanan. Di Provinsi Gangwon, tepatnya di desa Yeongwol yang cukup terpencil, seorang kepala desa bernama Eum Heung-do (diperankan oleh Yu Hae Jin) terjatuh dari tebing saat sedang berburu rusa. Ia diselamatkan oleh orang-orang dari desa tetangga. Di desa itulah, Heung-do menemukan keajaiban yang sudah lama tak ia dapatkan sebelumnya.
Baca juga:
Keajaiban ini bukan lain adalah makanan, nasi putih yang baru dimasak, daging, mulai dari daging ayam, daging babi, sampai daging sapi dan beragam makanan lain yang sejatinya jarang ia temukan. Penemuan ini membuat Heung-do merasa iri sekaligus bersemangat. Iri pada penduduk desa yang bisa hidup dengan layak tanpa harus merasa kelaparan, serta bersemangat untuk bisa mendapatkan hal yang sama dengan mereka.
Setelah mengetahui rahasia penduduk desa tersebut bisa memiliki banyak makanan ketika desa-desa lain dilanda kelaparan, Heung-do bertekad untuk mengikuti cara mereka dan memastikan penduduk desanya juga merasakan kenikmatan yang sama.
Rahasia tersebut bisa dibilang sederhana. Desa tersebut mendapat limpahan makanan berkat adanya tahanan politik di desa mereka. Pada masa itu, para pejabat yang melakukan kesalahan sering kali diasingkan jauh dari ibu kota. Meskipun merupakan kriminal, para pejabat tersebut merupakan kalangan bangsawan yang masih memiliki kuasa, harta, serta nama besar. Tak hanya itu, para pejabat ini juga memiliki ilmu dan waktu luang, mereka bersedia mengajari anak-anak desa, membuat anak-anak desa bisa membaca dan mengikuti ujian PNS di masa itu. Selain itu, saat mereka dilepaskan dari pengasingan dan kembali ke ibu kota, mereka seringkali mengajak beberapa anak paling pintar untuk dipekerjakan di kota. Hal ini membuat kualitas hidup di desa menjadi meningkat.
Dengan harapan besar dan semangat yang kuat, Heung-do pergi ke kantor administrasi terdekat, berniat merayu kepala penjaga sipir supaya membawa penjahat yang diasingkan ke desanya. Ia sudah menyiapkan argumentasi, alasan kuat, kenapa desanya layak dijadikan tempat pengasingan.
Usahanya berhasil, seorang penjahat dari ibu kota diasingkan di desa mereka. Heung-do dan penduduk desa lain berpesta, mempersiapkan rumah, makanan dan segala macam kebutuhan untuk si bangsawan tanpa nama. Hati mereka dipenuhi harapan, impian, akan hidup yang lebih baik.
Awalnya, segala sesuatu terlihat berjalan dengan baik, pejabat datang, bukan kakek-kakek yang sudah berjanggut, namun seorang anak muda belasan tahun yang dipanggil Nonsan-Gun. Penduduk desa sempat bingung, tak habis pikir akan apa kejahatan yang mungkin dilakukan anak semuda itu. Namun, mereka memutuskan untuk fokus melayani sang bangsawan. Mereka memasakan makanan paling enak untuk sang bangsawan, meski mereka sendiri sangatlah berkekurangan. Mereka tetap berusaha memberikan yang terbaik, menyajikan yang terbaik, berharap perubahan besar akan terjadi pada hidup mereka.
Sayangnya, harapan mereka seakan pupus, saat mereka mengetahui bahwa bangsawan itu, tak lain dan tak bukan, adalah mantan raja yang baru saja dilengserkan. Hal ini mengubah segalanya.
Lee Hong Hwi naik tahta sebagai Raja di usia 12 tahun menggantikan ayahnya. Ia menjadi raja ke-6 dalam sejarah kerajaan Joseon. Sayangnya, kepemimpinannya tidak bertahan lama. Baru sekitar 2 tahun menjabat, ia dilengserkan secara paksa oleh pamannya, Pangeran Suyang. Pangeran Suyang naik tahta menjadi Raja baru, sedangkan Hong Hwi kehilangan segalanya. Orang-orang terdekatnya dieksekusi dengan keji, sementara ia diasingkan dan diisolasi dari dunia luar.
Mantan raja jauh berbeda dengan menteri atau penjahat lainnya. Mantan menteri yang diasingkan berpotensi untuk dipulihkan jabatannya dan dikembalikan ke ibu kota. Namun, mantan raja tidak. Terlebih, jika ada sedikit saja kesalahan, warga desa bisa dituduh sebagai pengkhianat dan yang berkomplot dengan mantan raja. Pemberontakan atau pengkhianatan adalah kejahatan tertinggi di Joseon. Hukumannya jelas adalah kematian, tak hanya untuk si penjahat tapi juga seluruh keluarganya. Hal ini berarti seluruh warga desa terancam kehilangan nyawa jika ada sedikit saja kesalahan.
Hilangnya harapan dan kemungkinan terjadinya hal buruk, tidak membuat warga desa menjadi jahat kepada Hong Hwi. Mereka tetap memberikan pelayan terbaik untuk Hong Hwi. Hal ini pun kemudian membuat Hong Hwi perlahan-lahan membuka diri kepada warga desa khususnya Heung-do. Hubungan yang kuat terjalin antara warga desa dan Hong Hwi, mereka saling membantu, mengisi hidup masing-masing dan membuat segala sesuatunya menjadi lebih mudah satu sama lain. Sayangnya, keharmonisan ini diganggu, dipecah belah, hingga berakhir sebagai tragedi.
Plot Rapi dan Karakter Kuat
Salah satu hal menonjol dari film ini adalah bagaimana plotnya disusun dengan sangat rapi. Genre historikal seringkali dipandang sebagai cerita yang berat dan membingungkan, terlebih jika konflik politiknya lebih dominan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi The King’s Warden, meskipun, pada dasarnya, konfliknya cukup berat karena mencakup pemberontakan dan penurunan tahta. Sutradara Jang Han Jun berhasil mengemas film ini dengan menyenangkan dan sederhana sehingga mudah dipahami.
The King’s Warden memiliki jalan cerita yang jelas, dibuka dengan scene yang menegangkan dan menyayat hati, kemudian berganti dengan scene yang penuh komedi. Setiap adegan dalam film merupakan pengisi yang memiliki fungsi masing-masing dan membawa rasa tersendiri bagi keseluruhan cerita. Adegan-adegan warga desa yang penuh kehangatan serta canda tawa dan adegan-adegan para petinggi negara yang penuh ketegangan dan kekhawatiran. Masing-masing adegan memberikan kesan mendalam dan membawa dampak yang kuat bagi keseluruhan cerita.
Tak hanya itu, setiap karakter di dalam film juga memiliki kekuatannya masing-masing. Lee Hong Hwi (diperankan oleh Park Ji-Hoon) seorang anak remaja yang baru saja kehilangan seluruh hidupnya, tak punya harapan ataupun tujuan hidup. Ia diasingkan, di tempat yang jauh, hanya bersama seorang dayang Mae hwa (diperankan oleh Jeon Mi Do). Hong Hwi yang sejatinya sudah berada di titik terendah dalam hidupnya. Saat itu, satu-satunya yang ia harapkan adalah kematian, pergi menyusul orang-orang terkasih yang hidupnya hilang karena dirinya. Rasa bersalah karena tak bisa melindungi mereka terus menerus menghantui dirinya, menjelma menjadi mimpi buruk yang tak kunjung usai.
Heung-do dan penduduk desalah yang berhasil menarik Hong Hwi keluar dari keterpurukan. Kehangatan hati, kepedulian serta kejujuran mereka membuat Hong Hwi merasa masih memiliki orang-orang yang peduli padanya. Tak hanya itu, Hong Hwi juga kembali menemukan harapan dan keinginan untuk melanjutkan hidup untuk melindungi orang-orang itu.
Sebagaimana penduduk desa mempengaruhi kehidupannya, Hong Hwi sendiri juga membawa warna baru bagi penduduk desa. Melalui sosok Hong Hwi, penduduk desa menemukan bahwa bangsawan yang selama ini hidup dalam kemudahan dan kekayaan ternyata juga bisa peduli pada mereka. Hal ini ditunjukan dengan bagaimana Hong Hwi selalu membagi makanan yang dikhususkan untuknya dengan para warga yang mengantar makanan itu. Di sini, makanan menjadi simbol kebersamaan, kepemilikan, serta kesetaraan.
Tak hanya itu, orang-orang dari berbagai daerah juga mendatangi desa mereka hanya untuk memberikan hormat kepada sang mantan raja. Mereka membawa berbagai macam makanan, pakaian dan barang lain. Barang-barang ini kemudian diberikan Hong Hwi kepada warga desa, dengan lantang ia katakan bahwa itu semua adalah milik mereka. Tak berhenti di situ, Hong Hwi juga bersedia menjadi guru bagi Tae-san, putra Heung-do. Tae-san kemudian mengajari anak desa yang lain membaca dan menulis. Sesuatu yang bahkan tak berani mereka impikan sebelumnya.
Semua hal ini membuat warga desa melihat Hong Hwi dengan cara yang berbeda. Dari anak muda yang diasingkan berubah menjadi raja berwibawa yang peduli kepada rakyat jelata. Hubungan yang kuat pun terbangun di antara mereka. Hong Hwi menjadi bagian dari penduduk desa, kedekatan mereka diperlihatkan dalam adegan-adegan sederhana, kegiatan sehari-hari yang menghapus semua dinding dan batasan antara bangsawan dan rakyat biasa. Kekuatan hubungan ini kemudian membuat adegan-adegan setelahnya menjadi semakin menyedihkan. Sebuah akhir tragis yang mengobrak-abrik hati.
Adalah sebuah ironi yang indah, bagaimana hubungan ini kemudian menjadi pemantik bagi Hong Hwi untuk merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika melihat warga desa, khususnya Heung-do, kesusahan dan keluarganya berada di posisi yang sulit, Hong Hwi memutuskan untuk berjuang merebut kembali tahtanya, hanya supaya ia bisa melindungi orang-orang ini. Semangat Hong Hwi untuk berjuang muncul dari keinginan melindungi orang-orang terdekatnya, bukan untuk dirinya, bukan untuk kemudahannya, bukan untuk hasrat pribadinya.
Emosi dan Totalitas Akting
Alur cerita yang solid ini juga didukung dengan akting yang sangat memadai dari seluruh jajaran pemain. Mulai dari pemeran utama seperti Yu Hae Jin, Park Ji-Hoon, Yoo Ji-Tae dan Jeon Mi Do, sampai para aktor yang muncul sebagai cameo seperti Ahn Jae Hong dan Lee Jun Hyuk. Semuanya memberikan penampilan yang menggugah hati dan penuh penghayatan.
Park Ji Hoon misalnya, ia berhasil memperlihatkan keputusasaan dan penderitaan Hong Hwi di awal cerita dengan sangat apik. Matanya seakan berbicara, kesedihannya terpancar dari sana. Kesedihan yang perlahan-lahan terkikis dan berganti dengan harapan serta semangat hidup. Namun, bahkan, dalam limpungan semangat itu ada kepahitan yang bisa dengan jelas kita rasakan. Park Ji-Hoon sukses memperlihatkan sosok seorang raja muda yang kehilangan semangat hidup, namun tidak wibawanya.
Sedikit not too fun fact, saat ditawari membintangi film ini, Ji-Hoon baru saja menyelesaikan syuting Weak Hero Class 2. Karakter yang ia perankan yaitu Yoon Sieun dituntut memiliki bentuk badan yang cukup sekal, sedangkan karakter Hong Hwi dituntut memiliki berat badan yang kecil, karena Hong Hwi sendiri dikisahkan menolak makan selama berhari-hari. Untuk bisa memenuhi kebutuhan ini, Ji-Hoon menurunkan berat badannya secara drastis. Namun karena tak bisa berolahraga, karena olahraga akan membentuk massa otot, yang dianggapnya tidak cocok dengan karakter Hong hwi, ia menurunkan berat badan dengan hanya makan apel. Ia pun berhasil menurunkan berat badan sebanyak 15 kilogram dalam kurun waktu 2 bulan. Ini hanya salah satu cerita dari banyak dedikasi yang dituangkan para aktor The King’s Warden.
Fun fact lainnya, adegan penutup dalam film ini sebenarnya tidak ada di dalam script. Sutradara Jang Han Jung melihat foto Ji-Hoon yang sedang mencuci tangan di sungai. Saat itu, Sutradara Han Jung tidak melihatnya sebagai Ji-Hoon, namun sebagai Raja Dajong. Foto itu menimbulkan perasaan duka sekaligus sayang di dalam hati sutradara Han Jung. Ia ingin memperlihatkan rasa kasih seorang ayah yang melihat anaknya bermain dengan bebas, sekaligus rasa rindu yang dirasakan Raja Dajong terhadap Hanyang (Ibu Kota) yang ia tinggalkan melalui adegan itu. Jadilah adegan itu ia masukan ke dalam film.
Ini adalah salah satu bukti lain bahwa Park Ji-Hoon berhasil memproyeksikan sosok Raja Dajong dengan sangat baik. Tak hanya sutradara dan pemain lain, penikmat film di Korea Selatan juga ikut terhanyut dalam penampilannya.
Baca juga:
Tak hanya Ji-Hoon, pemain lain juga sangat totalitas dalam menjalankan perannya. Yu Hae Jin berhasil memerankan sosok Heung-do dengan penuh totalitas. Di awal, ia memperlihatkan seorang kepala desa yang cukup keras kepala dan penuh ide gila. penampilan yang dipenuhi unsur komedi dengan dialog segar serta perilaku yang nyeleneh. Sosok itu kemudian tumbuh menjadi sosok yang lebih bijak. Unsur komedi dalam cerita berubah menjadi unsur tragedi. Ia memperlihatkan dilema yang berat antara keinginan melindungi keluarga dan warga desanya dengan keinginan melindungi Hong Hwi. Keduanya sama-sama berharga bagi Heung-do, dan Yu Hae Jun berhasil memperlihatkan sebuah pergolakan batin yang menyesakan dalam memilih jalan yang sulit.
Plot cerita yang rapi ini dibangun sehingga terlihat seakan sederhana, ini semua bisa dilakukan berkat akting pemainnya yang tak main-main. Mereka berhasil meyakinkan penonton, membuat penonton terhanyut dalam emosi yang mereka rasakan. Sebagaimana para pemain di dalam film, ada rasa kasih sayang tumbuh di dalam hati para penonton terhadap Raja Dajong.
Ikatan Budaya yang Kuat
Salah satu faktor yang bagi saya merupakan pendukung penting kesuksesan The King’s Warden di Korea Selatan adalah adanya ikatan budaya yang kuat di dalam film tersebut. Raja Dajong merupakan raja yang dianggap memiliki hidup sangat tragis. Tak banyak media baik film atau drama yang memperlihatkan kisahnya. Tak hanya itu, kisah Raja Dajong sendiri sempat terhapus dari sejarah. Barulah, sekitar 500 tahun setelah kematiannya, kisah Raja Dajong diangkat ke layar lebar. Kisahnya direpresentasikan dengan tegas dan jelas dari perspektif yang berbeda.
Perlu diingat bahwa The King’s Warden tidak hanya memperlihatkan ketragisan hidup raja Dajong, namun juga mengangkat sisi manusiawinya. Ia digambarkan sebagai sosok anak laki-laki yang kembali menemukan semangat hidup berkat orang-orang sekitar yang peduli dan percaya padanya.
Film ini meningkatkan perasaan keterikatan penonton terhadap Raja Dajong. Melihat bagaimana Raja Dajong tertawa serta hidup berdampingan dengan warga desa membuat penonton menyadari bahwa anak lelaki yang belum genap 17 tahun ini seharusnya mampu menjalani hidup dengan bebas dan lepas. Dajong tak hanya raja muda yang kehidupannya berakhir tragis, namun juga lelaki biasa yang memiliki mimpi dan rasa kasih sayang terhadap sesama.
Selain itu, dengan akhir cerita yang tragis, The King’s Warden juga memberikan ruang bagi warga Korea Selatan untuk berduka. Berduka bagi raja muda yang kehidupannya hancur karena intrik politik yang diciptakan orang dewasa. Mereka menjadi memiliki ruang untuk menangisi masa depan Raja Dajong yang direnggut secara paksa. Kesemua itu adalah pengalaman emosional yang membuat film ini menjadi lebih berarti bagi warga Korea Selatan.
Dalam salah satu wawancaranya, sutradara Jang Han Jun mengungkapkan bahwa review yang paling ia suka adalah kalimat, “Penonton masuk ke dalam bioskop sebagai penonton, namun keluar sebagai rakyat Raja Dajong.”
Saya juga berpikir serupa. Pada akhirnya, kita semua, berakhir mengasihi Raja Dajong. (*)
Editor: Kukuh Basuki
