Penulis lepas yang menaruh minat pada isu sejarah, politik, dan budaya populer. Senang menulis di media-media online alternatif. Instagram: @farhan.m.adyatma

Memaknai Estetika Lebih dari Sekadar Klinik Kecantikan dan Vaporwave

Farhan M. Adyatma

3 min read

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata “estetika”? Apakah itu adalah sesuatu yang indah? Sebuah klinik kecantikan? Atau mungkin juga sebuah patung dari era Yunani-Romawi yang diberi nuansa warna pink dan ungu (vaporwave)?

Jika dilihat secara etimologis, kata “estetika” berasal dari kata sifat dalam bahasa Yunani yaitu “aesthetikos” yang memiliki arti “berkenaan dengan persepsi”. Bentuk kata bendanya sendiri adalah “aesthesis” yang memiliki arti “pencerapan indrawi”.

Definisi dari “estetika” sendiri ternyata juga diperdebatkan oleh para pemikir estetika sepanjang zaman. Jadi, tidak ada atau setidaknya belum ada definisi absolut mengenai apa itu estetika.

Jika melihat estetika sebagai disiplin keilmuan, itu bisa dilacak sejak abad ke-18. Alexander Gottlieb Baumgarten dalam karyanya yang berjudul Meditationes philosophicae de nonnullis ad poema pertinentibus (1735) atau yang dalam bahasa Indonesia berarti Meditasi Filosofis tentang Beberapa Hal berkaitan dengan Puisi, Baumgarten membagi pengetahuan menjadi dua jenis yaitu cognitio intellectiva dan cognitio aesthetica (hlm. 2).

Baca juga:

Dalam buku Sejarah Estetika (2016), Martin Suryajaya mendefinisikan estetika secara luas dan longgar sebagai “filsafat kesenian”, alih-alih sebagai “filsafat keindahan”. Oleh karena itu, buku setebal 915 halaman ini mencakup banyak kajian di luar estetika sebagai “filsafat keindahan”. Kajian-kajian yang dimaksud adalah seperti refleksi tentang nilai estetis, pengalaman estetis, seni yang non-estetis atau bahkan kontra-estetis, hubungan seni dengan masyarakat, dan masih banyak lagi. Hal itu juga yang membuat buku Sejarah Estetika ini begitu tebal.

Menarik Jauh Mundur Kajian Estetika

Karena estetika diartikan sebagai  “filsafat kesenian”, Martin Suryajaya menarik jauh mundur sejarah filsafat seni hingga ke era prasejarah. Dalam era prasejarah ini, dimulai dari zaman Paleolitik Rendah (2,6 juta tahun SM) hingga zaman besi (1000 tahun SM).

Di sini, perkakas batu dianggap sebagai karya seni pertama. Perkakas batu ini antara lain ditemukan di Ngarai Olduvai, Afrika, karena itulah perkakas batu tersebut disebut sebagai “teknologi Oldowan”. Teknologi Oldowan ini kemudian berkembang menjadi teknologi Acheulean yang antara lain berkembang di Saint-Acheul, Prancis (hlm. 10).

Contoh teknologi Oldowan dan Acheulean yang diberikan adalah berupa gambar kapak batu. Di era sekarang, kapak batu dikategorikan sebagai kerajinan dan bukan seni—khususnya seni murni. Nyatanya, dikotomi antara “kerajinan (craft)” dan “seni (art)” baru ada pada abad ke-20. R.G. Collingwood adalah salah satu orang yang berusaha memberi garis tegas antara “kerajinan (craft)” dan “seni (art)” pada tahun 1938. Hal serupa juga dilakukan oleh Martin Heidegger. Heidegger memisahkan tekhne—istilah Yunani untuk “seni”—dari “teknik” untuk menjamin autentisitas atau keaslian “karya seni” dibandingkan dengan “kerajinan” (hlm. 13).

100 Tahun Kajian Estetika

Buku yang diterbitkan pada tahun 2016 ini terdapat 24 bab di dalamnya. Namun, jika dilihat dari porsi pembahasan, terlihat bahwa mayoritas pembahasan ada pada kajian estetika akhir abad ke-19 hingga akhir abad ke-20—hampir sekitar 100 tahun.  Dari bab XVII (17) hingga bab XXIII (23), yang dibahas adalah kajian Estetika Modern, Estetika Kontemporer, Estetika Marxis, Estetika Fenomenologis, dan Estetika Pascamodern.

Di sini, perlu dipahami bahwa “modern” dan “kontemporer” itu berbeda. Istilah “modern” bermakna “baru saja” (modo), sedangkan istilah “kontemporer” bermakna “sezaman” atau mengacu pada sesuatu yang sedang berlangsung. Karena estetika adalah suatu ranah kajian filsafat, estetika mengikuti kaidah pembabakan dalam sejarah filsafat yang menempatkan abad ke-20 sebagai era kontemporer. Era Modern sudah kadung secara umum diartikan sebagai suatu era pemikiran dari abad ke-17 hingga akhir abad ke-19 (hlm. 469).

Baca juga:

Berbicara sedikit tentang Estetika Marxis, Karl Marx sejatinya tidak pernah secara eksplisit membahas estetika. Marx tidak pernah menulis satu buku pun yang membahas seni maupun estetika. Oleh karena itu, keberadaan Estetika Marxis ditopang oleh banyak tokoh-tokoh pemikir maupun seniman lain selain Karl Marx itu sendiri, misal seperti Georgi Plekhanov, György Lukács, Theodor Adorno, dan lain-lain.

Selain tokoh-tokoh perseorangan, ada juga kelompok seniman di Rusia yang berkumpul dalam Proletkult (Proletarskaya Kultura). Proletkult muncul sejak Revolusi Oktober 1907 dan memiliki upaya untuk merumuskan apa yang disebut sebagai “kebudayaan proletar”. Proletkult sendiri jika diartikan dalam bahasa Indonesia artinya adalah “kebudayaan proletar”. Anatoly Lunacharsky—pendiri Proletkult—dan Alexander Bogdanov menjadi dua sosok yang cukup penting sebagai perumus teori dalam Proletkult (hlm. 557).

Bukan Sekadar Buku Pengantar

Kalau dilihat sekilas, buku Sejarah Estetika ini terlihat seperti buku pengantar, khususnya buku pengantar sejarah yang spesifik membahas tentang sejarah kesenian dari A sampai Z. Namun, jika dilihat lebih dalam lagi, terlihat bahwa buku Sejarah Estetika ini berusaha untuk mengaitkan pemikiran satu tokoh dengan tokoh lainnya secara dialektis. Buku ini ditulis oleh Martin Suryajaya dengan menunjukkan pertentangan di antara banyak pemikiran estetika dari berbagai tokoh.

Selain itu, buku ini tidak membahas riwayat hidup tokoh serta pemikiran lain selain tentang estetika dari tokoh tersebut. Kecuali jika pemikiran di luar tentang estetikanya itu diperlukan untuk menjelaskan pemikiran estetikanya. Langkah ini tepat untuk dilakukan agar pembaca tidak terbebani oleh pembahasan yang tidak relevan dengan sejarah estetika.

Pada bab XXIV (24) yang merupakan penutup, pembaca akan disuguhkan pembahasan yang isinya adalah kembali memaknai estetika. Ada empat kemungkinan makna “estetika” secara umum: (1) estetika sebagai prinsip-prinsip soal keindahan, (2) estetika sebagai disiplin perawatan kecantikan, (3) estetika sebagai filsafat tentang pencerapan indrawi, dan (4) estetika sebagai filsafat seni. Dalam buku Sejarah Estetika, makna “estetika” yang digunakan adalah pada pengertian keempat, yaitu estetika sebagai filsafat seni (hlm. 840-841).

Pada akhirnya, buku Sejarah Estetika ini menjadi buku yang mengisi celah besar pustaka kajian estetika di Indonesia. Buku ini tidak ditujukan untuk membangun pemikiran baru tentang estetika, melainkan ditujukan untuk menuntaskan survei sejarah pemikiran estetika dengan harapan menjadi landasan yang kuat jika memang ada yang ingin membangun pemikiran baru tentang estetika. Secara umum, buku ini diharapkan bisa membuat pembaca lebih memahami kompleksitas perkembangan seni dan kaitannya dengan wacana estetika. (*)

Editor: Kukuh Basuki

Farhan M. Adyatma
Farhan M. Adyatma Penulis lepas yang menaruh minat pada isu sejarah, politik, dan budaya populer. Senang menulis di media-media online alternatif. Instagram: @farhan.m.adyatma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email