Peneliti Pusat Studi Sosial IMM DIY @ramadp__

Tidak Ada Idul Fitri Tahun Ini

Ramadhanur Putra

2 min read

Hari raya Idul Fitri tidak bisa dilepaskan dari dua sejarah penting yang terjadi pada umat Islam. Pertama, peristiwa perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadan tahun ke – 2 Hijriah. Kedua, digantinya hari dua hari raya umat Jahiliyah (Nairuz dan Mahrajan).

Perang Badar adalah salah satu perang yang diikuti secara langsung oleh Rasulullah. Dalam perang ini, jumlah pasukan umat Islam kalah jauh dibandingkan kaum kafir Quraisy, dengan perbandingan tiga banding satu. Meskipun kalah jumlah, keyakinan kaum muslimin untuk menumpas kezaliman, penindasan, ketidakadilan, dan diskriminasi terhadap agamanya telah membangkitkan semangat juang dalam peperangan itu.

Sedangkan hari raya umat Jahiliyah, Nairuz dan Mahrajan adalah hari raya yang penuh dengan hiburan, foya-foya, dan kemubaziran. Umat Jahiliyah selalu melakukan pesta pora dalam dua hari raya tersebut. Sehingga, ketika Islam datang, Rasulullah melarang umat Islam untuk mengikuti dua hari raya itu dan menggantinya dengan ‘Idain (Idul Fitri dan Idul Adha).

Idul Fitri, secara bahasa memiliki arti ‘kembali ke fitrah’, dengan membawa pemaknaan bahwa hari itu adalah hari raya untuk berbuka setelah sebulan penuh berpuasa. Secara spiritual, Idul Fitri memberi arti kemenangan, sebagai ujung pengembaraan seorang hamba setelah ‘menahan/imsaak’ selama bulan Ramadan. Kemenangan itu hanya bisa didapatkan jika para hambanya dapat menahan dari dari haus, lapar, dan nafsu kemungkaran.

Baca juga:

Begitu juga secara historis, kemenangan Idul Fitri hanya dapat kita rasakan jika kita bisa lepas dari birahi kekuasaan, tabiat menindas, perilaku sewang-wenang, dan ketidakadilan. Sebagaimana kemenangan yang diraih oleh umat Islam atas penindasan kaum kafir Quraisy dan kemenangan yang digantikan oleh Rasulullah dari kemenangan semu hari raya Nairuz dan Mahrajan yang dirayakan oleh umat Jahiliyah.

Idul Fitri Bagi Penguasa

Namun, Idul Fitri yang akan kita lalui tahun ini seperti tercabut dari makna spiritual dan historisnya. Idul Fitri agaknya hanya menyajikan kemenangan bagi penguasa. Sebuah kemenangan semu yang tiada artinya.

Selama bulan Ramadan ini, penguasa telah menunjukkan keberingasan dan mempersiapkan kemenangan untuk mereka sendiri. Salah satunya adalah di sahkannya Revisi Undang-Undang TNI yang tergesa-gesa dan berpotensi menghidupkan kembali dwifungsi ABRI yang sudah lama dikubur sejak era reformasi.

Baca juga:

Kebijakan pemerintah dalam pengesahan undang-undang ini tentunya menuai banyak penolakan. Aksi demonstrasi telah digerakkan oleh massa di berbagai kota di Indonesia. Tak hanya itu, aksi penolakan terhadap undang-undang ini juga telah banyak menelan korban.

Namun, pemerintah sepertinya tidak memiliki nurani sedikitpun. Aksi penolakan yang telah bergulir selama 10 hari terakhir Ramadan ini tidak diacuhkan sama sekali. Bahkan, pemerintah juga tengah bersiap untuk melakukan revisi terhadap undang-undang Polri.

Lalu, intimidasi terhadap media jurnalisme besar di Indonesia, yaitu Tempo, telah menjadi isu yang cukup diperhatikan oleh masyarakat di momen Ramadan kali ini. Bagaimana tidak? Teror yang diluncurkan pada media Tempo, berupa pengiriman kepala babi dan bangkai tikus ini telah mengancam kebebasan pers Indonesia. Meskipun pelaku dari aksi teror terhadap media Tempo ini belum ditemukan, tapi ini berhasil menambah kegaduhan yang mengancam demokrasi bangsa kita hari ini.

Kemudian, hal yang paling memilukan dari dua kejadian pada bulan Ramadan ini adalah bagaimana pemerintah memberikan respon. Hingga hari ini, pemerintah tidak menunjukkan sikap serius dalam merespon kegelisahan masyarakat. Pemerintah sebagai pemilik kekuasaan hanya mengolok-olok apa yang menjadi tuntutan masyarakat. Rakyat hanya dianggap hewan ternak yang digembala. Tidak perlu di dengar dan sesekali perlu dipecut jika tidak berjalan sesuai dengan arah yang dinginkan oleh tuannya.

Dominasi kekuasaan dan kontrol yang dipertontonkan oleh penguasa seolah menunjukkan sikap bahwa merekalah yang menjadi pemenang. Padahal, mereka hanya sedang membunuh demokrasi. Sikap masa bodoh ini menujukkan bahwa merekalah yang akan merayakan hari raya Idul Fitri, hari kemenangan. Idul Fitri bagi penguasa, sebuah kemenangan yang semu. Sebab, dalam negara demokrasi, tidak ada kemenangan sejati selain kemenangan atas rakyatnya sendiri.

Tidak Ada Idul Fitri Tahun Ini

Idul fitri dalam negara demokrasi harusnya menjadi hari kemenangan bagi rakyatnya. Sebuah kemenangan yang tidak hanya bermakna spiritual, namun juga kemenagan yang sejalan dengan spirit historisnya.

Kemenangan bagi rakyat adalah saat mereka benar-benar bisa lepas dari kerangkeng kekuasaan yang menindas. Kemenangan yang menyangkut pemenuhan atas hak-haknya sebagai rakyat dalam sebuah negara demokrasi.

Hal ini bisa kita lihat dari keadaan sosial politik yang terjadi di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir. Bagaimana kekuasaan telah mendominasi dan menjerumuskan rakyatnya dalam situasi terpojok serta tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga, rakyat tidak mendapatkan kemenangan apapun di hari raya Idul Fitri ini, kecuali hanya kemenangan semu bagi penguasa.

Penguasa harus benar-benar dapat merefleksikan diri pada peringatan hari raya Idul Fitri ini. Jika tidak, artinya pemerintah tengah mempersiapkan kegaduhan yang luar biasa dan bisa terjadi kapan saja nanti. Cepat atau lambat, rakyat akan memberikan perlawanan yang lebih besar dan berlipat ganda. Bangsa ini bisa saja akan mengalami chaos dan korban pasti akan berjatuhan lebih banyak. Apabila tidak ada Idul Fitri tahun ini bagi rakyat, maka bersiaplah jika rakyat akan merebut kemenagan itu nanti. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Ramadhanur Putra
Ramadhanur Putra Peneliti Pusat Studi Sosial IMM DIY @ramadp__

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email