Kartini dan Realita Kini: Apakah Perempuan Sudah Benar-Benar Setara?

Aulia Ramadhanti

2 min read

Setiap tahun, peringatan Hari Kartini selalu menjadi momentum untuk mengingat kembali perjuangan perempuan dalam meraih kesetaraan, khususnya dalam bidang pendidikan. Nama Kartini sering digaungkan sebagai simbol emansipasi perempuan Indonesia. Namun, sebagai penulis dan juga bagian dari perempuan di era modern ini, saya merasa penting untuk tidak hanya merayakan, tetapi juga merefleksikan: apakah pendidikan perempuan saat ini benar-benar telah dipandang sama pentingnya dengan pendidikan laki-laki?

Secara kasat mata, kita hidup di zaman yang jauh lebih maju dibandingkan masa Kartini. Akses pendidikan terbuka luas, perempuan dapat bersekolah hingga jenjang tertinggi, bahkan memiliki kesempatan yang sama untuk berkarier. Namun, dalam pandangan saya, kesetaraan tersebut belum sepenuhnya tercapai. Masih ada sisa-sisa pola pikir lama yang menempatkan perempuan dalam posisi yang tidak sepenuhnya setara, terutama dalam hal prioritas pendidikan.

Baca juga:

Saya melihat bahwa anggapan pendidikan perempuan tidak terlalu penting kini hadir dalam bentuk yang lebih halus, tidak lagi terang-terangan seperti di masa lalu. Misalnya, masih ada pandangan bahwa perempuan tidak perlu menempuh pendidikan tinggi karena pada akhirnya akan berfokus pada keluarga, mengurus anak di rumah, dan ujung-ujungnya mengurus dapur. Pernyataan seperti ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya mengandung bias yang cukup kuat. Seolah-olah peran domestik menjadi batas utama bagi perempuan, sehingga investasi pendidikan dianggap tidak terlalu mendesak.

Menurut pandangan saya, cara berpikir seperti ini justru mempersempit makna pendidikan itu sendiri. Pendidikan bukan semata-mata alat untuk mendapatkan pekerjaan, melainkan fondasi untuk membentuk cara berpikir, memperluas wawasan, dan meningkatkan kualitas hidup seseorang. Ketika perempuan tidak diberi kesempatan yang sama dalam pendidikan, maka yang hilang bukan hanya peluang ekonomi, tetapi juga kesempatan untuk berkembang sebagai individu yang utuh. Selain itu, pendidikan perempuan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada keluarga dan masyarakat secara luas. Seorang ibu yang berpendidikan, misalnya, memiliki peran besar dalam membentuk generasi yang cerdas dan berdaya di masa depan.

Saya juga meyakini bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam membangun kemandirian perempuan. Dengan pendidikan, perempuan memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri, memahami hak dan kewajibannya, serta berani mengambil keputusan. Tanpa pendidikan yang memadai, perempuan lebih rentan terhadap ketidakadilan, baik dalam lingkup keluarga maupun masyarakat. Oleh karena itu, bagi saya, pendidikan perempuan bukanlah pelengkap, melainkan kebutuhan yang sangat mendasar.

Di sisi lain, tidak menutup mata bahwa perubahan positif sedang terjadi. Saat ini, semakin banyak perempuan yang mampu menunjukkan kapasitasnya di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga kepemimpinan. Fenomena ini membuktikan bahwa perempuan memiliki potensi yang sama besar dengan laki-laki ketika diberikan kesempatan yang setara. Hal ini juga memperkuat keyakinan saya bahwa hambatan utama bukan terletak pada kemampuan, melainkan pada cara pandang yang masih belum sepenuhnya adil.

Tetapi juga menyadari bahwa tidak semua perempuan berada dalam posisi yang sama. Di beberapa lingkungan atau masyarakat, terutama yang masih memegang kuat nilai-nilai tradisional, perempuan sering kali harus mengalah dalam hal pendidikan. Ada yang harus berhenti sekolah demi membantu keluarga, ada pula yang tidak didorong untuk melanjutkan pendidikan karena dianggap tidak menjadi prioritas, hingga masalah ekonomi. Kondisi ini menunjukkan bahwa perjuangan untuk kesetaraan pendidikan masih belum selesai.

Melalui momentum Kartini, saya memandang bahwa perjuangan beliau seharusnya tidak berhenti pada simbol atau perayaan semata. Semangat Kartini, dalam pandangan saya, adalah tentang keberanian untuk berpikir maju dan menuntut hak yang setara, termasuk dalam pendidikan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus mengkritisi realitas yang ada dan tidak menganggap bahwa kesetaraan sudah sepenuhnya tercapai.

Sebagai penulis, saya berpendapat bahwa perubahan tidak hanya bergantung pada kebijakan atau sistem, tetapi juga pada kesadaran kolektif masyarakat. Kita perlu mengubah cara pandang bahwa pendidikan adalah hak setiap individu tanpa memandang gender. Orang tua, lingkungan, dan institusi pendidikan memiliki peran besar dalam membentuk pola pikir ini. Ketika perempuan didukung untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin, maka sebenarnya kita sedang berinvestasi pada masa depan yang lebih baik. Ketika perempuan mendapatkan hak pendidikan yang setara, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh keluarga dan masyarakat secara luas.

Baca juga:

Pada akhirnya, saya meyakini bahwa pendidikan perempuan memiliki dampak yang luas, tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan. Perempuan yang berpendidikan cenderung mampu memberikan kontribusi yang lebih besar, baik dalam keluarga maupun dalam ruang publik. Mereka tidak hanya menjadi penerima perubahan, tetapi juga menjadi penggerak perubahan itu sendiri.

Dengan demikian, melalui esai ini saya ingin menegaskan bahwa pendidikan perempuan harus dipandang sama pentingnya dengan pendidikan laki-laki, tanpa pengecualian. Semangat Kartini seharusnya menjadi pengingat bahwa kesetaraan adalah sesuatu yang harus terus diperjuangkan, bukan sesuatu yang sudah selesai. Dan bagi saya, salah satu langkah paling nyata untuk melanjutkan perjuangan tersebut adalah dengan memastikan bahwa setiap perempuan memiliki akses dan kesempatan yang sama dalam pendidikan. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

Aulia Ramadhanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email