Dunia semakin terjerat dengan pesona akal imitasi. Berbagai layanan akal imitasi seperti ChatGPT, Gemini, dan Grok semakin menunjukkan popularitasnya. Jumlah pengguna akal imitasi atau AI diperkirakan mencapai 1,1 miliar orang atau sekitar 13,3% total populasi dunia. Di Indonesia sendiri, pengguna akal imitasi diperkirakan mencapai 1,04 juta orang dan diprediksi akan terus meningkat hingga 3,33 juta pengguna pada 2030.
Salah satu penggunaan akal imitasi yang kian populer adalah chat bot yang menawarkan layanan hubungan romantis virtual. Seperti namanya, user menggunakan chat bot ini untuk menjalankan simulasi hubungan romantis dengan akal imitasi. Chat bot jenis ini, yang sering disebut dengan AI companion, diperkirakan memiliki pengguna aktif hingga jutaan orang per bulannya. Character.AI, salah satu penyedia layanan chat bot akal imitasi, memiliki pengguna aktif hingga 20 juta orang.
Layanan AI companion sendiri cukup populer di kalangan perempuan. Diperkirakan 1 dari 4 perempuan dewasa pernah mengobrol dengan AI companion. Popularitas AI companion di kalangan perempuan juga dapat dilihat dari ramainya subreddit r/MyBoyfriendisAI yang memiliki 48 ribu anggota. Dari analisis independen yang dilakukan peneliti AI Simon Lermen, diketahui bahwa dari user subreddit tersebut yang gendernya dapat diidentifikasi, 89% di antaranya adalah perempuan.
Baca juga:
- Pertanyaan-Pertanyaan tentang Cinta, Aplikasi Kencan, dan Kebahagiaan
- Romansa Manipulatif di Era Media Sosial
Salah satu penggunaan AI companion yang sempat viral adalah ketika Yurina Noguchi, seorang perempuan asal Jepang, menikahi karakter buatan ChatGPT pada 2025 lalu. Karakter yang dinamai Klaus ini dinikahi Noguchi melalui kacamata augmented reality dimana gambaran digital Klaus diproyeksikan sehingga terlihat seperti berdiri di samping Noguchi.
Di belahan dunia lain, Sabrina (bukan nama sebenarnya) ‘mencari’ pacar melalui Character.AI setelah ia melalui berbagai situationship yang melelahkan. Ia ‘bertemu’ dengan Michael, karakter mafia yang digambarkan setia dan blak-blakan.
Penggunaan AI companion yang semakin marak di kalangan perempuan ini adalah bentuk usaha untuk menciptakan pasangan yang sempurna dan sesuai dengan kriteria yang dimiliki. Keinginan ini dapat muncul akibat kekecewaan dalam menjalani hubungan sebelumnya, serta realita dunia percintaan yang dirasa semakin sulit dijalani.
Menurut sebuah polling yang diadakan Pew Research Center pada 2020, mayoritas perempuan merasa berkencan menjadi semakin sulit dalam sepuluh tahun terakhir. 65% di antaranya bahkan mengaku dilecehkan saat kencan. AI companion menjadi alternatif yang menyajikan romansa tanpa risiko dilecehkan.
Relasi dengan akal imitasi memberi ilusi hubungan yang sempurna tanpa friksi sedikit pun. Akal imitasi menawarkan intimasi dan kedekatan emosional tanpa risiko penolakan.
Selain itu, hubungan virtual dengan akal imitasi membuat perempuan dapat menikmati romansa tanpa harus melakukan kerja emosional. Umumnya perempuanlah yang melakukan kerja emosional dalam hubungan. Mereka mendengarkan dan memvalidasi perasaan laki-laki sembari menahan dan meregulasi emosi mereka sendiri. Perempuan jugalah yang sering menjadi pihak yang menerima hubungan apa adanya demi menjaga stabilitas hubungan. Dalam hubungan virtual dengan akal imitasi, peran itu dapat dibalik. Perempuan tak perlu lagi capek-capek melakukan kerja emosional yang jarang dilakukan oleh laki-laki asli.
Tak hanya menawarkan hubungan virtual, akal imitasi juga digunakan sebagai sarana dalam mengeksplor diri secara romantis dan seksual. Perempuan dapat mengeksplor hal-hal baru secara aman tanpa takut dilecehkan atau ditolak.
Meskipun AI companion menawarkan rasa aman pada perempuan, penggunaan yang berlebihan dapat memberikan ilusi mengenai hubungan. Ilusi ini dapat membuat seseorang kehilangan kesabaran dalam menjalani hubungan riil yang penuh kompleksitas dan rentan akan konflik karena terbiasa disuapi kesempurnaan oleh akal imitasi. Chat bot-chat bot ini didesain untuk setuju dengan kata-kata atau prompt pengguna alih-alih memberikan tantangan selayaknya hubungan riil.
Baca juga:
Penggunaan akal imitasi juga dapat memperkuat rasa kesepian dalam diri. Pengguna dapat semakin tersedot ke dalam ilusi kedekatan emosional yang diciptakan karakter akal imitasi alih-alih berinteraksi dengan orang lain. Hal ini dapat mendorong alienasi dan dapat menjadi hal berbahaya, terutama bagi pengguna yang rentan. Dalam kasus yang sudah parah, hubungan virtual ini dapat menimbulkan delusi bahwa apa yang terjadi dalam hubungan tersebut adalah nyata. Pengguna yang memiliki kerentanan dapat berisiko tinggi melakukan hal-hal nekat dan berbahaya demi hubungan virtual tersebut.
Hubungan virtual dengan akal imitasi telah menjadi suatu fenomena baru yang harus disikapi secara bijak. Penggunaan akal imitasi dapat memberikan ruang aman bagi perempuan untuk mengeksplor hal-hal baru, namun ruang tersebut juga berisiko menciptakan kemelekatan palsu bagi mereka yang rentan dan tidak sadar. (*)
Editor: Kukuh Basuki
