Pegiat literatur Filsafat dan Sosial Humaniora. Aktif ngamen gagasan di berbagai forum kajian serta menuangkan perspektif melalui tulisan di media online. Instagram : @muhhilmii_

Scroll Feed, Jepret Buku, Lalu Lupa: Fenomena Anak Zaman Now

Muhammad Hilmi Assidiqy Yusuf

4 min read

Saya tidak tahu persis kapan kebiasaan memotret buku lalu mengunggahnya ke media sosial mulai terasa lebih penting daripada membaca bukunya sendiri. Mungkin sejak rak buku tidak lagi berdiri di ruang tamu, melainkan pindah ke feed Instagram. Atau sejak perpustakaan kehilangan aroma debu dan sunyi, digantikan kafe berlampu kuning dengan colokan listrik di tiap meja. Yang jelas, ada satu pemandangan yang kini begitu lazim, anak zaman now berfoto dengan buku tapi isinya nyaris tidak pernah disentuh.

Buku kini lebih sering diperlakukan seperti properti foto. Ia duduk manis di meja, ditemani kopi susu gula aren, kacamata minus tanpa lensa, dan tote bag bertuliskan kutipan filsuf yang barangkali tidak pernah dibaca tuntas. Setelah foto diambil, buku ditutup, dimasukkan tas, lalu hidup berlanjut tanpa perubahan apa pun di kepala. Literasi tetap di tempat, tapi arsip foto bertambah satu.

Sebagai orang yang tumbuh dengan anggapan bahwa buku adalah jendela dunia, fenomena ini terasa ganjil. Namun mungkin yang ganjil bukan perilakunya, melainkan cara kita memahami literasi itu sendiri. Kita terlalu lama menganggap membaca sebagai aktivitas individual dan tidak perlu penonton. Sementara anak zaman now hidup di dunia yang menuntut segalanya untuk terlihat. Kalau tidak diunggah, seolah tidak pernah terjadi.

Buku dalam konteks ini mengalami pergeseran fungsi. Ia tidak lagi sekadar medium pengetahuan, melainkan simbol identitas. Membaca buku filsafat, sastra berat, atau teori sosial tertentu memberi kesan tertentu pula. Sama seperti sepatu tertentu memberi sinyal kelas sosial, buku tertentu memberi sinyal kelas intelektual. Bedanya, sepatu harus dipakai agar berfungsi, sedangkan buku cukup difoto.

Rak Buku Estetik, Pikiran Tetap Apa Adanya

Di sinilah paradoks budaya literasi itu berada. Minat terhadap simbol literasi meningkat, sementara praktik literasinya justru stagnan. Rak buku estetik menjamur tapi diskusi isi buku semakin sepi. Kutipan beredar lebih cepat daripada pemahaman. Bahkan, sering kali yang dikutip adalah kalimat paling aman, paling umum, dan paling bisa disetujui semua orang. Tidak menantang, tidak mengganggu, apalagi mengubah cara pandang.

Baca juga:

Anak zaman now tentu tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Mereka tumbuh dalam ekosistem visual yang rakus. Media sosial tidak memberi ruang pada proses panjang seperti membaca ratusan halaman. Ia menyukai ringkasan dan highlight. Algoritma tidak sabar menunggu seseorang selesai membaca buku setebal 400 halaman. Ia ingin reaksi cepat, likes instan, dan engagement yang bisa diukur dalam hitungan jam.

Membaca, sayangnya, adalah aktivitas yang pelan. Ia tidak memberi hasil langsung. Kadang membosankan. Kadang membingungkan. Bahkan kerap membuat seseorang tidak nyaman dengan pikirannya sendiri. Ini bertolak belakang dengan budaya digital yang selalu ingin membuat penggunanya merasa baik-baik saja. Buku yang benar-benar dibaca bisa merusak mood, mengguncang keyakinan, dan memaksa seseorang mempertanyakan banyak hal. Tidak semua orang siap untuk itu.

Takut Salah Paham

Maka memotret buku menjadi jalan tengah yang aman. Tetap terlihat intelektual tanpa harus berhadapan dengan isi. Tetap bisa ikut tren tanpa harus berkeringat secara mental. Buku menjadi aksesori seperti jaket atau topi. Ia melengkapi tampilan, bukan mengubah isi kepala.

Fenomena ini juga tidak bisa dilepaskan dari logika kapitalisme budaya. Industri penerbitan kini sadar betul bahwa buku harus laku, bukan harus dibaca. Sampul dibuat seestetik mungkin, judul dirancang agar mudah viral, dan isi sering kali disederhanakan agar bisa dipetik satu dua kalimatnya saja. Buku yang terlalu sulit justru dianggap berisiko, sebab hal yang penting, fotogenik.

Tidak heran jika buku-buku tertentu lebih sering muncul di feed daripada di diskusi serius. Buku yang tebal dan rumit kalah pamor dengan buku tipis berjudul provokatif. Padahal membaca bukan soal seberapa sering terlihat memegang buku, melainkan seberapa jauh isi buku itu bekerja dalam diri seseorang. Tapi siapa peduli kerja batin jika yang dinilai adalah tampilan luar.

Ada juga faktor tekanan sosial. Di lingkaran tertentu, tidak membaca buku bisa dianggap aib. Maka, orang berlomba-lomba menunjukkan bahwa mereka membaca, atau setidaknya terlihat membaca. Foto buku menjadi bukti sosial. Ia berkata, “Saya bagian dari kelompok yang peduli literasi,” meski kenyataannya tidak selalu demikian. Ini semacam virtue signaling versi intelektual.

Ironisnya, tekanan ini justru membuat membaca kehilangan kenikmatannya. Buku tidak lagi dibaca karena rasa ingin tahu, tetapi karena tuntutan citra. Akibatnya, membaca terasa seperti kerja tambahan. Tidak menyenangkan dan tidak intim. Wajar jika akhirnya banyak yang memilih jalan pintas, foto saja sudah cukup.

Namun menyederhanakan fenomena ini sebagai kemalasan semata juga tidak adil. Ada problem struktural yang lebih besar. Akses pendidikan yang timpang, tradisi membaca yang lemah sejak dini, dan sistem pendidikan yang lebih menekankan hafalan daripada pemahaman membuat membaca tidak pernah benar-benar akrab. Buku hadir sebagai kewajiban, bukan sebagai kawan.

Ketika masuk ke dunia digital, kebiasaan ini tidak hilang, hanya berubah bentuk. Dulu membaca buku karena disuruh guru, sekarang memotret buku karena tuntutan sosial. Subjeknya sama-sama tidak bebas. Sama-sama tidak berangkat dari keinginan intrinsik. Maka hasilnya pun sama, hubungan dengan buku tetap dangkal.

Ada satu hal lagi yang sering luput dibicarakan, yaitu rasa takut terlihat bodoh. Membaca buku berarti membuka kemungkinan tidak paham. Tidak semua orang nyaman mengakui bahwa ia tidak mengerti. Media sosial memperparah ini. Semua orang ingin terlihat pintar dan punya opini. Membaca sungguh-sungguh justru bisa membuat seseorang ragu, penuh tanda tanya, dan tidak yakin. Itu tidak seksi untuk diunggah.

Maka yang dipilih adalah estetika dan pose membaca, bukan praktik dan proses memahami. Hal tersebut aman terkendali serta tidak berisiko mempermalukan diri sendiri. Buku tidak pernah menuntut apa-apa jika ia tidak dibuka.

Paradoks ini juga menunjukkan perubahan cara kita memaknai pengetahuan. Dulu pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang harus dicari, diperjuangkan, dan direnungkan. Kini pengetahuan lebih mirip barang konsumsi. Ia dikoleksi, dipamerkan, dan diganti jika sudah tidak tren. Buku lama bisa kalah pamor dengan buku baru karena sampulnya tidak lagi cocok dengan feed.

Buku Hanya Butuh Pembaca

Namun di balik semua itu, saya tidak sepenuhnya pesimistis. Fenomena memotret buku juga bisa dibaca sebagai gejala awal. Setidaknya, buku masih dianggap penting secara simbolik. Ia belum sepenuhnya tergantikan oleh gawai. Ada kerinduan meski samar, untuk terhubung dengan sesuatu yang lebih dalam. Masalahnya tinggal bagaimana mengubah simbol menjadi praktik.

Barangkali tugas kita bukan mencibir mereka yang memotret buku, melainkan menciptakan ruang di mana membaca kembali terasa bermakna. Ruang yang tidak menghakimi, tidak memaksa, dan tidak menjadikan membaca sebagai ajang pamer. Membaca tidak harus selalu selesai. Tidak harus selalu paham. Membaca yang penting jujur.

Baca juga:

Membaca adalah relasi. Ia butuh kesabaran dan kesediaan untuk tersesat. Dalam dunia yang serba cepat dan terukur, hal itu adalah kemewahan. Tidak semua orang mampu atau mau melakukannya. Tapi jika literasi hanya berhenti di foto maka kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kebiasaan membaca. Kita kehilangan kemampuan untuk berpikir pelan, dalam, dan kritis.

Anak zaman now mungkin suka foto buku tanpa membacanya. Tapi mungkin juga mereka sedang mencari cara baru untuk berdamai dengan pengetahuan di dunia yang bising. Tantangannya adalah bagaimana membuat buku kembali lebih menarik untuk dibaca daripada difoto, dan itu bukan pekerjaan algoritma, melainkan pekerjaan kita bersama.

Pada akhirnya, buku tidak pernah butuh kamera. Ia hanya butuh pembaca yang bersedia duduk, membuka halaman, dan membiarkan pikirannya diganggu. Jika itu terjadi, meski tanpa satu pun unggahan, literasi masih punya harapan. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Muhammad Hilmi Assidiqy Yusuf
Muhammad Hilmi Assidiqy Yusuf Pegiat literatur Filsafat dan Sosial Humaniora. Aktif ngamen gagasan di berbagai forum kajian serta menuangkan perspektif melalui tulisan di media online. Instagram : @muhhilmii_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email