Kecerdasan buatan (AI) berkembang begitu cepat hingga dunia seolah tidak punya waktu untuk berhenti dan menanyakan satu hal penting: apa konsekuensinya bagi bumi? Dalam beberapa tahun terakhir, Penelitian dari Nature Climate Change menemukan bahwa kecerdasan buatan ini memiliki peran besar dalam memprediksi cuaca ekstrem, memetakan risiko bencana, dan membantu pengembangan energi terbarukan.
Namun, fakta lain yang jarang dibicarakan adalah bahwa teknologi ini juga memiliki jejak karbon yang besar. Data center yang menopang sistem AI global mengonsumsi energi dalam jumlah yang hampir tidak masuk akal dan sebagian besar masih berasal dari fosil. Perkembangan teknologi yang berjalan secara agresif ini menimbulkan pertanyaan moral: seberapa jauh kita ingin maju, dan apa harga yang harus dibayar lingkungan?
Baca juga:
- The Impact of Artificial Intelligence on the Younger Generation
- “Diella” Menteri AI Albania: Antara Harapan dan Ancaman
Pengembangan model besar membutuhkan daya komputasi yang intens. Penelitian menunjukkan bahwa satu model berskala raksasa dapat menghasilkan emisi setara puluhan penerbangan internasional. Bahkan ketika efisiensi energi meningkat, permintaan komputasi tumbuh jauh lebih cepat, sehingga penggunaan energi tetap besar. Inilah paradoks AI: teknologinya semakin maju, tetapi pola konsumsi energinya masih berat.
Yang membuat masalah ini rumit adalah sifatnya yang tidak terlihat. Saat seseorang memakai chatbot, menerjemahkan teks, atau memproses gambar, mereka tidak sadar bahwa ratusan server bekerja di belakang layar. Tanpa edukasi lingkungan, banyak orang mengira teknologi digital selalu lebih ramah lingkungan dibanding aktivitas fisik. Padahal kenyataannya, penggunaan internet yang semakin besar justru menambah beban energi global.
Sebagai mahasiswa, saya pun merasakannya. Saya sering memakai AI untuk merangkum jurnal, membuat draft tugas, atau mencari referensi. AI sangat membantu, tetapi setelah mengetahui bahwa data center membutuhkan listrik dan air dalam jumlah besar, saya mulai berpikir ulang. Ternyata, kemudahan yang kita pakai setiap hari pun memiliki konsekuensi terhadap lingkungan.
Salah satu contoh kasus yang paling sering dibahas adalah penggunaan air di data center Google di Oregon Amerika. The Oregonian melaporkan bahwa data center Google di Oregon menghabiskan miliaran liter air untuk pendinginan server pada musim panas. Hal ini memicu protes warga karena dianggap mengganggu pasokan air lokal. Contoh lainnya datang dari Belanda. Menurut laporan BBC, rencana pembangunan data center raksasa Meta di Belanda yang akhirnya ditolak setelah warga memprotes konsumsi energinya yang sangat besar. Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa dampak AI bukan sekadar teori tetapi sudah dirasakan oleh masyarakat.
Namun tidak adil kalau AI hanya dilihat dari sisi negatif. Banyak riset membuktikan bahwa teknologi ini justru membantu negara menghadapi perubahan iklim dengan lebih cepat dan akurat. AI bisa membaca pola cuaca kompleks, memonitor deforestasi real-time, hingga mendeteksi titik kebakaran hutan jauh sebelum terlihat secara fisik. Di Indonesia, sistem berbasis AI digunakan untuk memantau kebakaran lahan di Kalimantan dan Sumatera melalui satelit dan data sensor. Walaupun begitu, manfaat AI tidak dirasakan secara merata.
Baca juga:
- Data Annotator: Kontribusi Linguistik di Balik Sat-Setnya Kecerdasan Buatan
- Mitigasi Kemanusiaan Pasca Kecerdasan Buatan
Negara-negara maju memiliki infrastruktur digital kuat, sementara negara berkembang seperti Indonesia, Filipina, India, dan banyak negara Afrika masih kesulitan mengakses teknologi dan energi bersih. Bahkan di Indonesia sendiri, ketimpangan terlihat jelas: sekolah-sekolah di pedalaman NTT, Papua, atau sebagian wilayah Lampung masih kesulitan jaringan internet dasar, ataupun teknologi AI.
Karena itu, arah masa depan AI sangat ditentukan oleh kebijakan. Tanpa regulasi penggunaan energi yang ketat, terutama di industri data center, AI berisiko menjadi bagian dari masalah. Tetapi jika energinya dialihkan ke sumber terbarukan dan pemakaiannya diatur dengan baik, kecerdasan buatan bisa menjadi alat penting untuk menekan emisi global. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah baik atau buruk, tetapi bagaimana manusia mengarahkannya. Kecerdasan buatan bisa menjadi ancaman atau harapan. Teknologi ini mampu meningkatkan emisi, tetapi juga mampu membantu dunia menghadapi krisis iklim dengan lebih cerdas. Bagi saya, masa depan lingkungan tidak ditentukan oleh AI itu sendiri, tetapi oleh keputusan manusia dalam menggunakan dan mengelola teknologi ini. (*)
Editor: Kukuh Basuki
