Guru Sejarah SMA Swasta di Jakarta dan Pegiat Literasi di Komunitas Membaca "Mantra Buku"

Mudik di Antara Kerinduan dan Perhitungan Ekonomi

Salman A Ridwan

3 min read

Seperti sungai yang mengalir ke hulu, mudik lebaran sering kita bayangkan sebagai perjalanan arus besar manusia yang kembali pulang. Jalan-jalan lintas kota-lintas provinsi dipenuhi oleh kendaraan, di terminal bus dan stasiun kereta terlihat riuh, dan rumah-rumah di desa kembali hidup oleh suara anak-cucu yang pulang.

Tetapi dalam satu tahun, bagaimana jika cerita itu tidak selalu berakhir dengan berita kepulangan?

Pada tahun lalu, harian Kompas (20/03/2025) mengangkat cerita tentang Ria (35 tahun), seorang dosen di Kalimantan Tengah. Lebaran tahun lalu, Ia tidak bisa pulang ke kampung halamannya di Aceh. Alasan tidak pulang bukan karena ia tidak rindu, melainkan karena harga tiket pesawat untuk empat orang anggota keluarganya mencapai harga sekitar Rp.35 juta. Sebuah angka yang sangat besar untuk dipaksakan. Bagi Ria, rindu itu akhirnya ditunda, mudik yang selama ini terasa seperti kewajiban batin, telah berubah menjadi perhitungan ekonomi yang pahit.

Baca juga:

Cerita seperti yang dialami oleh Ria kini semakin sering terdengar. Fenomena itu telah menunjukkan sebuah gambaran mengenai turunnya jumlah pemudik lebaran setiap tahunnya. Pada tahun 2025 lalu, Kementerian Perhubungan mencatat ada sekitar 154,6 juta orang (ANTARA 12/04/2025). Sementara pada tahun 2026, diprediksikan turun menjadi 143,9 juta orang (Kumparan 07/03/2026).

Penurunan itu telah memberi isyarat, bahwa tradisi pulang kampung atau mudik lebaran kini semakin bersinggungan dengan pertimbangan ekonomi, yang ditandai dengan meningkatnya biaya transportasi dan tekanan daya beli masyarakat.

Di balik turunnya jumlah pemudik tahun ini, ada cerita tentang keluarga yang menahan rindu, orang tua yang menunggu kepulangan anaknya namun tidak datang, dan para perantau yang hanya bisa mengirimkan ucapan “maaf lahir dan batin” melalui layar telepon genggam. Sebuah tradisi yang biasanya hangat kini bersentuhan dengan keadaan ekonomi yang begitu dingin.

Di Indonesia, mudik lebaran dimaknai bukan sekadar perjalanan pulang ke kampung halaman. Ia adalah bahasa kebudayaan. Kebudayaan yang disebut oleh Koentjaraningrat sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan karya manusia yang dipelajari serta diwariskan dalam masyarakat (Koentjaraningrat, 2009:144). Dalam kerangka ini, mudik menjadi semacam ritus sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ketika orang pulang kampung saat lebaran, mereka sebenarnya sedang merawat sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar hubungan keluarga. Mereka merawat tentang asal-usul. Penegasan kembali tentang sejauh apa pun mereka merantau, ada tempat yang ingin didatangkan kembali: kampung halaman.

Karena itu mudik selalu memiliki daya tarik emosional yang kuat. Ia menggambarkan bukan hanya tentang pertemuan dengan orang tua atau makan bersama keluarga. Ia adalah pengakuan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ia hidup dalam jaringan hubungan sosial yang memberikan sebuah identitas.

Tapi, dunia modern sering menghadirkan ketegangan antara nilai budaya dan realitas ekonomi. Dalam bukunya Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan, Ignas Kleden memberikan sebuah gambaran bahwa modernitas membuat manusia semakin dipengaruhi oleh rasionalitas ekonomi dan perhitungan material (Kleden, 2004:87). Dari titik inilah kita melihat mudik telah menghadapi ujiannya.

Pada satu sisi, ada dorongan budaya yang kuat untuk pulang. Namun pada sisi lain, ada kalkulasi biaya yang tidak bisa diabaikan. Harga tiket transportasi, ongkos perjalanan, kebutuhan selama di kampung halaman, hingga kewajiban membawa oleh-oleh sering kali membuat mudik menjadi sesuatu praktik yang mengeluarkan biaya besar.

Bahkan, mudik telah berubah menjadi panggung kecil untuk mempertunjukkan keberhasilan sosial seseorang. Seorang perantau yang pulang kampung membawa hadiah untuk keluarga, memberi uang kepada orang tua dan sanak saudara, atau hanya sekadar menunjukkan bahwa hidupnya di tanah rantau berjalan baik. Dalam diam, masyarakat desa membaca tanda-tanda itu. Dan pulang kampung, pada akhirnya menjadi cerita tentang perjalanan hidup seseorang.

Baca juga:

Namun ketika tekanan ekonomi kini sulit, panggung itu pun menjadi berat. Tidak semua orang sanggup tampil di dalamnya. Di balik semua itu, mudik sebenarnya juga memiliki makna ekonomi yang lebih luas. Tradisi ini sering menjadi cara tidak resmi untuk mengalirkan kembali uang dari kota ke desa. Karena di Indonesia, menurut seorang sosiolog Indonesia, Sagjoyo, hubungan antara kota dan desa sering ditopang oleh arus migrasi dan adanya kiriman uang dari para perantau (Sajogyo, 1982: hlm. 63).

Ketika para perantau pulang ke kampung halaman saat lebaran, yang dibawa oleh mereka lebih dari sekadar rindu. Pemudik juga membawa uang belanja kebutuhan keluarga, membeli makanan, pakaian, atau keperluan rumah tangga. Dalam beberapa hari saja, desa yang biasanya terbilang sepi dapat berubah menjadi ruang ekonomi yang hidup.

Sedangkan jika jumlah pemudik menurun karena tekanan ekonomi, arus kecil redistribusi itu pun ikut melemah. Desa telah kehilangan sebagian energi ekonominya, sementara kota tetap menyimpan beban hidup ekonomi yang masih tinggi.

Di titik inilah kita melihat bahwa mudik adalah pertemuan antar dua dunia, yaitu dunia simbolik dan dunia material. Dunia simbolik membicarakan tentang kerinduan pada keluarga, ingatan, dan identitas. Dunia material berbicara tentang biaya hidup, ongkos, dan daya beli masyarakat.

Selama bertahun-tahun, kita sering menyaksikan kemenangan semu pada dunia simbolik. Yakni, orang tetap mudik meskipun harus berhemat atau menempuh perjalanan panjang. Tetapi, ketika tekanan ekonomi semakin kuat dalam menekan dompet rumah tangga, dunia material pun mulai berbicara lebih keras.

Meskipun tekanan ekonomi kini menjadi salah satu beban yang diperhitungkan, tentu suatu tradisi tidak akan benar-benar hilang. Ia bisa saja berubah bentuk. Ada yang menunda mudik selama satu tahun. Ada juga yang memilih moda transportasi yang lebih murah. Ada yang menggantikan kepulangan dengan melakukan video call—meskipun perjumpaan itu tidak sepenuhnya menggantikan pelukan hangat keluarga.

Mudik, pada akhirnya mengajarkan sesuatu yang sangat bermakna bagi kehidupan masyarakat kita, bahwa sebuah tradisi tidak berdiri di ruang hampa. Ia hidup bersama kondisi ekonomi, sosial, dan politik yang terus berubah.

Ketika ekonomi sedang baik, tradisi terasa ringan. Ketika ekonomi sulit, maka tradisi pun terasa berat. Tetapi, selama manusia masih merindukan keluarga dan kampung halaman, selama itu pula keinginan untuk kembali pulang akan selalu ada.

Barangkali, seperti itulah makna terdalam pada mudik tahun ini. Ia bukan sekadar perjalanan menuju kampung halaman, melainkan perjalanan manusia untuk kembali kepada asal-usulnya—meski harus berdamai dengan waktu dan kondisi yang lebih baik. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Salman A Ridwan
Salman A Ridwan Guru Sejarah SMA Swasta di Jakarta dan Pegiat Literasi di Komunitas Membaca "Mantra Buku"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email