Bagi umat Islam, Ramadan menjadi bulan yang istimewa. Bermacam-macam dalil akan istimewaan bulan ini, mungkin telah banyak terpahami oleh kita, mulai dari berlipat-lipatnya balasan kebaikan hingga dibukanya pintu surga. Bahkan, jika tanpa menau lebih mendalam, Bulan Ramadan telah menunjukan keistimewaannya melalui adanya ibadah-ibadah khusus yang memang tak dapat terjumpai di bulan lain seperti puasa wajib Ramadan, zakat fitrah, dan beberapa ritual lainnya yang sangat dianjurkan untuk dilakukan.
Keistimewaan tersebut mengantarkan ritual ibadah Kita menjadi lebih meningkat. Kita seolah tak ingin melewatkan momen ini untuk menjadi seorang saleh, walaupun terkadang hanya bertahan dalam beberapa tempo saja. Kesalehan yang terjalani terdapat banyak rupa yang kerapkali memang sudah menjadi popularitas di bulan Ramadan ini.
Masjid yang mulanya kurang terminati mendadak menjadi begitu ramai dengan macam-macam ibadah seperti kajian, buka bersama, dan lainnya. Selain tempat ibadah, yakni di jalan dan di beberapa tempat umum pun kita juga sering menjumpai ibadah baik secara aktivitas maupun simbolik agama yang cukup ramai.
Baca juga:
Dibalik, popular ibadah yang dilakukan banyak umat dalam bulan ini perlu kiranya kita memikirkan ulang bagaimana cara beribadat kita, apakah ada beberapa hal hilang yang seharusnya menjadi perhatian umat, terlebih berkaitan kebutuhan umat Islam hari ini yang semakin tak diminati.
Menyingkap Tabir
Ibadah populer yang terjalani di bulan ramadan oleh kalangan umat Islam memang telah berdasarkan pada berbagai dalil yang memang sah dan tidak ada salahnya untuk melakukannya. Namun, umat juga seolah-olah melupakan atau mungkin salah memahami akan beberapa makna perintah Tuhan lainnya. Salah satunya adalah perintah yang amat penting dan berkorelasi akan kebutuhan umat. Bahkan, perintah ini sekaligus menjadi perintah pertama Tuhan yang diturunkan pada Sang Revolusioner Nabi Muhammad SAW.
Perintah tersebut yakni wahyu Tuhan yang turun berupa perintah untuk membaca “Iqra’….”. Menariknya walaupun sebagai ayat pertama yang turun, ayat ini bukanlah berisi perintah untuk menyembah atau mungkin saja bersujud kepada-Nya. Perintah ini seolah menuntut untuk perlunya berfikir, mengapa ayat pertama adalah membaca apa yang perlu dibaca? padahal konteks saat diturunkannya ayat itu, masyarakat tak memiliki budaya baca dan tulis.
Menurut M. Quraish Shihab (1944), seorang Ahli tafsir Al-Qur’an mengatakan bahwa membaca disini awalnya diartikan sebagai menghimpun dan juga dapat terpahami secara lebih luas dengan mempelajari, meneliti, dan sebagainya apa saja yang telah terciptakan oleh Tuhan.
Penjelasan tersebut sejalan dengan pendapat Syekh Wahbah Zuhaili dalam Kitab Tafsirul Munir (1991) yang menjelaskan tentang hikmah ayat tersebut bahwa perintah bagi manusia berupa keutamaan membaca dan menulis, agar mereka berbeda dari makhluk-makhluk yang lainnya.
Bedasarkan perintah di atas menjadi jelas untuk menjadikan membaca juga sebagai bagian dari ibadah yang penting. Terlebih menjadi kebutuhan umat hari ini, mengingat umat Islam acapkali sudah memudar dalam urusan ibadah ini sehingga menjadikan faktor kemandekan dan kemunduran peradaban Islam. Sebagaimana pendapat banyak tokoh mulai dari Ibnu Khaldun (1332) hingga Muhammad Abduh (1849) juga mengatakan hal demikian, dengan menyoroti pentingnya rasional intelektual sebagai salah satu faktor penentu kemajuan peradaban.
Reorientasi Ibadah
Sejauh ini, apakah memang umat benar-benar tak mengingat dan menjalankan perintah tersebut? Saya juga tidak menutup-nutupi akan hal itu pada ibadah umat Islam yang tengah populer. Kita banyak menyaksikan, khusunya di bulan ramadan ini umat Islam banyak yang menjalan perintah itu, yakni dengan membaca Al-Qur’an sebagai ibadah utama. Dari siang hingga malam sudah menghabiskan banyak lembaran. Namun, apakah demikian cukup?
Fenomena ini, mempunyai kesamaan dengan kondisi yang digambarkan oleh Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed (1968) yakni tentang masyarakat buta. Disini Paulo Freire menekankan kegiatan membaca menjadi hal penting untuk dapat membebaskan dan mengembangkan sebuah masyarakat. Namun, di sini membaca bukan hanya sekadar membaca kata (reading the word), tetapi juga memahami kaitanya membaca realitas dunia (reading the world). Literasi adalah jalan pembebasan. Masyarakat yang kehilangan daya baca akan kehilangan daya kritisnya, dan pada akhirnya mudah terjebak dalam kebekuan berpikir. Karena menjadi keharusan bagi umat Islam memahami arti membaca tidak sekedar membaca sebuah teks saja.
Baca juga:
Selain itu, umat Islam juga semestinya tidak menutup diri dalam berbagai keilmuan yang berasal dari luar. Sebagaimana kritik Muhammad Iqbal, Tokoh Pembaru Modern dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam (1930) mengatakan bahwa umat sering kali masih terbelenggu pikiran statis yang enggan menerima perubahan, dan tidak mau mempelajari perkembangan di era baru. Sehingga, salah satu untuk dapat menjadi lebih terbuka bagi umat Islam yang menjadi dasarnya adalah pada bahan bacaan dan keinginan untuk mempelajarinya.
Spirit Intelektual Ramadan
Pada bulan Ramadan menjadi momentum yang tepat sebagai upaya menjalankan perintahan tersebut dalam memenuhi kebutuhan umat. Salah satu yang menarik dalam Buku Ordinary Lives And Gran Schemes: An Antrhopology of Everyday Religion (2012) oleh Samuli Schielke dan Liza Debevec yang melakukan pengamatan praktik agama sehari-hari adalah ritual ibadah umat Islam pada Bulan Ramadan. Hal itu dikarenakan pada bulan Ramadan umat Islam cenderung meningkatkan intensitas ritual keagamaan mereka.
Karenanya Bulan Ramadan dapat menjadi spirit untuk mewujudukan perintah Tuhan, khususnya perintah membaca. Oleh karena itu, Bulan Ramadan ini bisa menjadi bulan intelektual bagi umat Islam. Ritual ibadah yang diwujudkan tidak hanya menyoal pada urusan ilahiah saja, tetapi dapat menjadi luas dan sesuai kebutuhan dan permasalah riil umat dalam kehidupan sehari-hari. (*)
Editor: Kukuh Basuki
