“Kita hidup di dalam masyarakat yang memandang bahwa kebahagiaan adalah sebuah kewajiban dalam menjalani kehidupan. Dan itulah yang justru sering membuat kita merasa tertekan. Orang-orang dipaksa untuk terus mencari kebahagiaan, tanpa diajari bagaimana caranya hidup sambil membawa kesedihan.”
Membaca novel berjudul Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna terasa seperti mengamati sebuah peristiwa yang lekat dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari merasakan perasaan kesepian, keinginan untuk menjadi seseorang yang berarti, stres di tempat kerja, hingga menemukan harapan baru dibalik ironi. Melalui novel yang diterbitkan oleh Penerbit Grasindo (Maret, 2025) ini Brian Khrisna seakan mengajak pembaca untuk lebih dekat dan menyelami mengenai dinamika kesehatan mental yang sangat relevan dengan masa sekarang.
Kesehatan mental bukan lagi tentang pelabelan ‘sakit jiwa’ atau ‘gila’, melainkan mengenai masalah kompleks yang layak untuk dikaji. Menurut Kementerian Kesehatan RI, tren kasus bunuh diri di Indonesia semakin meningkat sepanjang tahun, dengan 80% di antaranya merupakan kasus bunuh diri yang tidak tertangani. Hal tersebut menunjukan bahwa isu-isu mengenai kesehatan mental harus dirasa wajar untuk diperhatikan lebih lanjut. Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati ini menjadi ruang yang baru untuk menunjukkan bagaimana sastra dapat menangkap dan berbicara mengenai kehidupan masyarakat saat ini, ketika isu kesehatan mental menjadi hal yang nyata dan hidup berdampingan dengan masyarakat modern.
Baca juga:
- Bolehkah Sekali Saja Kumenangis: Kasih Sayang dan Kesehatan Mental yang Tergadaikan
- Belajar Peduli Kesehatan Mental dari Gen Z
Karya ini juga mencerminkan mengenai realitas sosial yang seringkali luput dari perhatian masyarakat. Menggunakan isu kesehatan mental sebagai tema utama, novel ini mampu menggambarkan bagaimana tekanan hidup, ekspetasi sosial dan isolasi sosial mampu mendorong seseorang ke dalam keputusasaan yang mendalam. Penggunaan metafora “seporsi mie ayam” sebagai simbolisme sentral dalam cerita menunjukan mengenai harapan yang seringkali datang dari hal-hal kecil dalam kehidupan. Mie ayam yang dikenal sebagai makanan sederhana dan akrab di telinga masyarakat menjadi bentuk representasi dari hal-hal kecil yang seringkali diabaikan, namun dapat memberikan harapan dan makna kehidupan bagi sebagian orang.
Ale diceritakan sebagai seorang laki-laki berusia 37 tahun yang tidak percaya diri dengan penampilannya. Ia memiliki kulit hitam dan bertubuh besar yang membuatnya sering menjadi korban perundungan sejak kecil dalam lingkungan keluarga maupun pertemanannya. Ia didiagnosa mengalami depresi akut yang semakin memperburuk keadaannya dan membuatnya merasa hidup tanpa memiliki tujuan. keinginan untuk mengakhiri kehidupan muncul setelah acara pesta ulang tahunnya sepi.
Merencanakan untuk menghabiskan 24 jam sebelum mati dengan kebebasan, Ale justru merasa frustasi ketika ia membaca tulisan dalam botol obat yang akan menjadi algojonya. “Dikonsumsi setelah makan”, adalah kata-kata yang membuat seporsi mie ayam langganannya terbersit dalam benaknya dan menunda tekadnya untuk mengakhiri hidupnya. Namun, penjual mie ayam langgannnya ternyata sudah meninggal dunia. Hal itu meninggalkan kebingungan mendalam bagi Ale, sebab keinginannya mengakhiri hidup lagi-lagi harus tertunda.
Kegagalan demi kegagalan yang menahannya untuk menuntaskan keinginan mengakhiri kehidupannya membuat Ale semakin terjebak dalam situasi yang rumit. Obsesinya pada penyempurnaan kematiannya justru membawanya pada serangkaian perjalanan baru yang selama ini tidak pernah diduganya dan justru membuatnya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam benaknya selama ini.
Novel 216 halaman ini terinspirasi dari kisah nyata teman Brian yang ingin mengakhiri kehidupannya. Sebuah percakapan sembari menikmati semangkuk mie ayam merupakan awal dari penulisan novel tersebut. Melalui tokoh utama Ale, Brian menggambarkan bagaimana perjuangan menghadapi depresi sekaligus memberikan sebuah harapan melalui interaksi-interaksi sederhana yang sebetulnya memiliki begitu banyak makna di dalamnya.
Untuk menyempurnakannya karyanya, Brian melakukan wawancara dan konsultasi pada psikiater, temannya, dan juga pada para penyintas depresi yang lain. Melalui hal tersebut cerita yang dihasilkan dalam novel menjadi lebih nyata dan dekat dengan pembacanya.
“… Aku lelah. Bukan lelah secara fisik, tetapi ada sesuatu di dalam diriku yang ingin kusudahi. Aku lelah menjalani semuanya. Lelah tidak ada satu pun yang berhasil dalam hidupku. Lelah berkorban dan memberikan segalanya untuk orang lain.”
Kutipan di atas menunjukan salah satu bukti bawa kondisi psikologis yang dialami Ale mampu membawanya memiliki pikiran yang mengarah pada tindakan pengerusakan diri ketika ia kemudian memiliki niat untuk mengakhiri kehidupannya pada hari ulang tahunnya. Keputusan Ale untuk mencoba mengakhiri hidupnya merupakan manifestasi nyata dari dorongan kematian (thanatos) sebagai bentuk kepedihan yang dirasakannya.
Baca juga:
Namun, di balik dorongan naluri kematian yang kuat, terselip naluri kehidupan (eros) yang perlahan muncul ketika seporsi mie ayam hadir sebagai bentuk dari sebuah harapan yang lahir dari hal yang sederhana dan dekat dengan kehidupan. Mie ayam dikenal sebagai makanan yang sederhana dan terjangkau justru menjadi hal yang begitu berarti dalam novel ini. Seporsi mie ayam menjadi simbol mengenai harapan yang seringkali hadir melalui hal-hal kecil dan simbol bahwa Ale masih layak untuk memperjuangkan hidupnya.
“Aku ingin mati, tapi ingin mie ayam juga.”
Melalui momen tersebut, naluri kehidupan Ale kembali membuncah. Secercah harapan dan bentuk pengakuan bahwa dirinya masih layak untuk menjalani kehidupan muncul dari keinginan menyantap seporsi mie ayam kesukaannya. (*)
Editor: Kukuh Basuki
