Ingin jadi penulis, tapi (terkadang) enggan menulis

Kritik atau Pameran Ego? Menanggapi Tulisan Haidar dan Rafi yang Sama-Sama Gagal

Nadira R.

4 min read

“There is nothing so useless as doing efficiently that which should not be done at all.” – Peter Drucker

Ada sesuatu yang menjengkelkan dalam membaca dua tulisan ini (ini dan ini). Keduanya, dengan cara yang berbeda, gagal. Tak produktif. Bukan hanya gagal dalam arti lemah secara argumentatif, tetapi gagal dalam level yang lebih dalam: sebagai sebuah aktus wacana yang kehilangan daya politiknya bahkan sebelum mencapai konklusi. Mereka gagal sebagai tindakan.

Tulisan Haidar adalah kritik normatif yang terjebak dalam performativitas keluhan, sedangkan tulisan Rafi terlalu sibuk membangun kredibilitas akademiknya sendiri hingga tersandung pada performativitas radikal yang tidak berfungsi. Keduanya memproduksi teks yang tidak berhasil melakukan intervensi politik dalam pengertian yang lebih luas—keduanya, dalam skema performatif, tidak lebih dari ujaran yang gagal: satu sebagai misfire, satu sebagai abuse.

Tulisan pertama adalah bentuk misfire, kritik yang ditembakkan tetapi gagal mengenai target karena kelemahannya sendiri. Tulisan kedua, sebaliknya, adalah abuse, di mana performa kritiknya begitu berlebihan hingga justru membatalkan efektivitasnya.

Kritik sebagai Ajang Performatif 

Mari kita mulai dari yang paling dangkal. Tulisan Haidar tentang polisi lebih menyerupai sambat panjang di warung kopi yang kebetulan ditulis dengan gaya yang cukup enak dibaca. Ia marah, tentu, seperti kebanyakan dari kita yang sudah muak melihat polisi. Tapi kemarahannya hanya berhenti di level itu—keluhan normatif yang lebih cocok tayang di Mojok.co, bukan sebagai kritik substansial terhadap kepolisian sebagai institusi yang memiliki fungsi struktural dalam menjaga tatanan sosial.

Tetapi tulisan kedua lebih parah. Jika Haidar hanya terjebak dalam kritik normatif, maka tulisan ini terjebak dalam performativitas radikal yang memalukan. Ia membayangkan dirinya sebagai seorang ekskavator kebenaran materialis, seorang algojo ideologis yang datang untuk menghancurkan ilusi liberal dalam kritik Haidar. Dalam upayanya untuk mengoreksi “kesalahan” Haidar, tulisan Rafi justru memproduksi kesalahan yang lebih besar: ia menjadi otot teoretis tanpa lengan strategis. Ia menyodorkan sebuah parade kutipan yang tampaknya ingin membuktikan bahwa penulis telah membaca buku-buku yang tepat, tetapi tidak menawarkan bagaimana kritik ini bisa dioperasikan dalam realitas politik. Ini adalah abuse of performativity, semacam kritik yang terlalu overkill sendiri sehingga kehilangan fungsinya.

Dalam teori wacana, ada yang disebut dengan konsep felicity conditions: kondisi-kondisi yang harus dipenuhi agar sebuah ujaran bisa berdampak. Kritik Haidar gagal karena ia tidak punya daya transformatif—ia adalah ujaran yang benar secara gramatikal tetapi hampa secara material, sebuah kritik yang lebih bersifat hiburan (ya, saya bisa melihat bahwa ini sebenarnya bukan tulisan serius).  Tetapi kritik kedua gagal karena ia menjadi terlalu sadar akan kerangka teoretisnya sendiri—ia ingin menjadi radikal tetapi berakhir sebagai eksibisionisme dan “masturbasi” intelektual. Ia mengira bahwa dengan mengatakan “polisi adalah instrumen kapitalisme,” ia telah mengatakan sesuatu yang revolusioner, padahal ini adalah pengulangan dogma yang hanya berguna jika dipertemukan dengan strategi politik yang konkret.

Baca juga:

Tetapi ada satu hal yang saya ingin sampaikan kepada Rafi:

“Kamu kok kurang kerjaan banget, Fi?”

Dengan penuh kebanggaan, ia membantai Haidar seolah-olah ia sedang membongkar sebuah proyek akademik besar, menuduhnya sebagai liberal naif yang gagal memahami kepolisian sebagai aparatus negara. Dia mengutip Neocleous, Seri, Baywood, seakan-akan nama-nama ini adalah peluru yang bisa membunuh musuh intelektualnya. Namun, di sini ada satu ironi besar: serangan terhadap sesuatu yang sudah lemah hanya membuat penyerangnya terlihat lebih lemah. Kritik terhadap Haidar tidak diperlukan karena Haidar sendiri sudah salah dari awal. Jika seseorang nyeletuk dan mengatakan bahwa dunia ini berbentuk segitiga, apakah kita perlu menulis dengan serius 500 halaman untuk membantahnya? Tidak, kecuali kita adalah orang yang sangat putus asa dalam mencari validasi intelektual.

Ada sesuatu yang hampir komikal dalam cara ia menyerang Haidar, seakan-akan tulisan Haidar memiliki dampak hegemonik yang cukup besar untuk layak dibantai dengan analisis yang begitu berat. Ada ribuan esai, jurnal akademik, dan wacana di media sosial yang benar-benar perlu dikritik. Ada orang-orang yang benar-benar berusaha mempertahankan kepolisian dengan argumen reformis yang serius. Ada akademisi yang mengadvokasi “polisi humanis” dengan teori liberal yang jauh lebih berbahaya daripada opini sarkastik Haidar. Ada pejabat negara yang berusaha menciptakan citra polisi sebagai pilar demokrasi yang harmonis.

Tetapi alih-alih menembak target yang layak, Rafi memutuskan untuk membantai opini sambat yang bahkan tidak memiliki ambisi teoritis. Fenomena ini bukan hal yang baru dalam dunia intelektual. Dalam banyak kasus, kita sering menemukan so-called akademisi leftist yang mengarahkan daya intelektual mereka ke objek yang tidak sepadan, menciptakan ketimpangan analisis yang justru mengurangi efektivitas kritik itu sendiri.

Tulisan Haidar memang lebih cocok tayang di Mojok.co, sebagai bentuk sambat yang ringan dan mudah dicerna. Ia tidak bermaksud menjadi kajian akademik, ia hanya ingin mengeluh. Tetapi penulis kedua datang dengan palu godam teori kelas, menghancurkan sesuatu yang sejak awal tidak dibangun untuk bertahan. Ini bukan hanya tidak perlu, tetapi juga memperlihatkan kegagalan Rafi dalam memahami mana kritik yang layak dihancurkan dan mana yang sebaiknya dibiarkan berlalu begitu saja.

Bagaimana Kita Bisa Beranjak dari Perdebatan Tak Produktif?

Ada perbedaan besar antara being right dan being effective. Tulisan kedua nampak benar dalam banyak hal—tetapi tidak efektif. Ia membangun kritik yang sempurna secara struktural, tetapi tidak bisa digunakan untuk mengintervensi realitas. Ia seperti seseorang yang telah memahami bahwa seluruh dunia adalah simulasi, tetapi tetap terjebak di dalamnya karena ia tidak tahu bagaimana cara keluar. Sementara itu, Haidar salah dalam banyak hal, tetapi lebih efektif dalam berbicara kepada audiens yang lebih luas. Jika tulisan kedua berbicara kepada segelintir akademisi Marxis yang sudah memiliki kesimpulan yang sama, maka tulisan Haidar berbicara kepada publik yang masih bisa diyakinkan. Tetapi keduanya tetap gagal, karena keduanya tidak mencoba menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: setelah kritik ini, lalu apa?

Kritik terhadap kepolisian tidak bisa berhenti di sekadar mencatat kegagalan polisi atau menyatakan bahwa polisi adalah alat kapitalisme. Kritik terhadap kepolisian harus menjadi sesuatu yang bisa digunakan, sesuatu yang bisa dijadikan senjata, bukan sekadar hiburan bagi orang-orang yang sudah setuju sejak awal. Haidar dan Rafi sama-sama terjebak dalam performativitas mereka sendiri. Yang satu terlalu normatif, yang lain terlalu akademis. Keduanya lupa bahwa kritik yang baik bukan hanya tentang siapa yang memiliki argumen yang lebih benar, tetapi siapa yang bisa membuat argumen itu berguna.

Baca juga:

Barangkali, jika kita cukup bosan, kita bisa terus berada dalam lingkaran perdebatan ini. Perdebatan yang tak produktif. Sementara kita berdebat apakah mereka bisa direformasi atau tidak, mereka justru berkembang. Maka, pertanyaan yang lebih serius bukanlah apakah kritik Haidar terlalu normatif atau apakah kritik Rafi terlalu elitis. Itu hanya soal estetika polemik yang bisa kita tinggalkan jika kita mau. Yang lebih mendesak adalah: “kritik apa yang bisa benar-benar beroperasi dalam dunia nyata?”

Banyak kritik terhadap polisi terjebak dalam formalisme linguistik. Mereka membangun bahasa yang impresif di kalangan akademisi atau lingkaran intelektual, tetapi mereka tidak pernah diterjemahkan menjadi gerakan yang benar-benar bisa menantang kepolisian di medan sosial dan politik. Jika kritik hanya menjadi sarana untuk menegaskan posisi moral seseorang, maka ia tidak berbeda dari performa kelas menengah di X yang mengutuki polisi. Kritik yang benar-benar bisa beroperasi adalah kritik yang bisa diterima oleh kelas-kelas yang memiliki kapasitas mobilisasi, entah itu kelas pekerja, komunitas yang terdampak kekerasan polisi, atau bahkan fraksi-fraksi dalam kepolisian sendiri yang memiliki kepentingan berlawanan dengan hierarki di atas mereka.

Jadi, bagaimana kita bisa beranjak dari perdebatan yang tidak produktif ini? Dengan berhenti berdebat di dalam ruang yang tidak mengubah apapun, dan mulai memikirkan bagaimana kritik kita bisa menjadi sesuatu yang benar-benar membuat polisi takut. Jika kritik terhadap polisi tidak bisa digunakan, maka kritik itu tidak ada bedanya dengan ritual-ritual kosong.  Kritik yang tidak bisa digunakan adalah kritik yang mati. Dan kritik yang mati, meskipun tampak anggun dalam wacana, tidak pernah menjadi ancaman bagi mereka yang seharusnya kita lawan. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Nadira R.
Nadira R. Ingin jadi penulis, tapi (terkadang) enggan menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email