“Mendukung tujuan ekstrem zionisme sama dengan membahayakan kepentingan AS di Timur Tengah,” ujar George Frost Kennan, penasihat, diplomat, dan sejarawan Amerika Serikat. Saat ini dunia kembali menyaksikan kematian diplomasi.
Diplomat top Amerika Serikat, Stuart E. Eizenstat dalam bukunya The Art of Diplomacy, menyebut diplomasi sebagai pengelolaan sengketa, kepentingan, dan hubungan melalui negosiasi, dan negosiasi hanya akan berhasil apabila memenuhi kepentingan nasional kedua belah pihak.
Meningkatnya eskalasi di Timur Tengah antara Iran dan Israel, serta keputusan Donald Trump untuk menyerang situs nuklir Iran, merupakan tontonan telanjang dari matinya diplomasi dan buntunya negosiasi.
Alih-alih menempuh jalan diplomasi, unjuk kekuatan militer lah yang jadi pilihan. Seluruh mata dunia tertuju ke Timur Tengah, khususnya Iran, dengan satu pertanyaan besar, akankah perang dunia baru akan dimulai di tanah kejayaan Cyrus Agung tersebut? Gerak sejarah akan menjawabnya.
Di balik mimbar kepresidenan, dengan pendampingan dari Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Donald Trump mengklaim telah berhasil menyerang tiga situs nuklir Iran di Fordo, Natanz, dan Isfahan pada Sabtu, 21 Juni. Klaim itu disertai ancaman jika perdamaian tidak segera tiba, akan dilakukan serangan lanjutan. Perdamaian atau tragedi, itulah ultimatum seorang demagog yang saat ini menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.
Pesan ini jelas, AS sedang mempertontonkan superioritas kekuatannya yang dengannya berusaha mendikte Teheran. Situs resmi The White House dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada 22 Juni, menyebut bahwa Presiden Trump berusaha membangun perdamaian melalui kekuatan.
Baca juga:
Saat eskalasi Timur Tengah sudah mencapai titik didih yang mengkhawatirkan dengan konflik Iran-Israel, Washington dengan gegabah menyulut bara api yang semakin membuat konflik regional itu mendidih.
Perang besar yang menembus batasan regional sangat mungkin terjadi, terlebih apabila intervensi semakin menjadi-jadi. Namun ada satu hal yang entah disadari atau tidak oleh Trump maupun para penasehatnya, bahwa mereka telah masuk dalam jebakan Perang Netanyahu.
Perang yang diidam-idamkan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di mana AS ditarik melakukan intervensi melawan rival terbesarnya di Timur Tengah yakni Iran yang dipimpin Ayatollah Ali Khamenei.
Perang Netanyahu
Sejak serangan awal Israel ke Iran pada 13 Juni lalu, dunia menyaksikan dimulainya Perang Netanyahu. Sebuah eskalasi konflik yang didasarkan pada ambisi tak bertepi Perdana Menteri Israel untuk menyerang Iran dengan dalih adanya ancaman senjata nuklir, padahal tentu saja persoalannya tidak sesederhana masalah nuklir semata. Program nuklir Iran yang menjadi dalih serangan awal Netanyahu, tidak lebih dari legitimasi permukaan yang berusaha untuk mensimplifikasi latar belakang serangan yang sesungguhnya.
Dilansir dari Reuters, Benjamin Netanyahu mengklaim akan terus melancarkan serangan sampai ancaman eksistensial, yakni senjata nuklir Iran, hilang. Ia juga sesumbar bahwa sejarah akan mencatat generasinya yang berdiri teguh, bertindak tepat waktu, dan mengamankan masa depan.
Dalam doktrin pertahanan, dalih ini merupakan pengejawantahan dari doktrin pre-emptive strike, di mana sebuah negara melancarkan serangan pencegahan atas musuh eksistensial. Dalam konteks Israel, sebagaimana selalu dikatakan Netanyahu, musuh eksistensial itu adalah Iran dengan ancaman senjata nuklirnya.
Senjata nuklir yang dituduhkan Israel dimiliki oleh Iran masih belum terbukti secara pasti. Iran adalah negara yang termasuk dalam pengawasan Badan Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/ IAEA), dan karenanya setiap pengembangan yang dilakukan oleh Teheran tidak akan pernah lepas dari pengawasan IAEA.
Selain itu, Iran juga merupakan penandatangan perjanjian Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT). Namun Netanyahu tetap menegaskan tuduhannya, bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir yang mengancam kepentingan Israel dan harus dihancurkan.
Namun sejauh ini, klaim Netanyahu masih tak terbukti. Menariknya, CNN merilis video kompilasi pernyataan Netanyahu sejak 1996 di berbagai forum internasional yang menuduh Iran sedang mengembangkan senjata nuklirnya. Tuduhan ini menjadi narasi yang konsisten, yang selalu memposisikan Iran sebagai ancaman strategis bagi Israel.
Namun, apabila kita analisis lebih holistik, nuklir bukanlah masalah utama konfrontasi Israel kepada Iran. Lebih kompleks dari itu, Israel merasa Iran adalah rezim yang mengancam karena Teheran selalu vokal menjadi oposan Israel dalam berbagai aksi politiknya. Jadi, pergantian rezim (regime change) di Iran adalah cita-cita besar Israel.
Donald Trump, entah dengan pertimbangan yang seperti apa, membawa AS terlibat dalam Perang Netanyahu dengan menyerang Iran. Satu yang barangkali tidak disadari oleh Trump, intervensi AS hanya akan menyenangkan Netanyahu dan merugikan kepentingan vital AS di kawasan bahkan di dunia.
Mantan Presiden AS, Bill Clinton, dalam salah satu wawancara menyebut Netanyahu memanfaatkan perang dengan Iran untuk terus berkuasa. Ironinya, Donald Trump turut serta untuk memperkokoh ambisi ini, dengan melibatkan AS dalam Perang Netanyahu melawan Iran.
Kepentingan Strategis Siapa?
Keterlibatan AS dengan mengebom situs nuklir Iran, membuat Trump terjebak dalam perang yang bisa sangat merugikan bagi kepentingan strategis Amerika Serikat. Serangan ini juga memantik banyak kritik dalam negeri, terutama dari para pemimpin Partai Demokrat sebagai oposan.
Sebagaimana diberitakan The Washington Post, Pemimpin Minoritas Senat, Senator Charles E. Schumer dari New York, mengatakan bahwa Trump harus dimintai pertanggungjawaban atas tindakan sepihaknya yang tidak melibatkan Kongres dalam memutuskan serangan militer.
Selain Schumer, masih banyak tokoh Demokrat yang melancarkan kritik keras. Namun banyak petinggi Partai Republik, seperti Ketua DPR Mike Johnson dan Pemimpin Mayoritas Senat John Thune justru mendukung aksi Trump, dan menyebutnya sebagai bentuk ketegasan.
Selain memantik kritik dari oposan, Trump juga menghadapi kritik dari para pendukung yang dijanjikan oleh kampanye Trump-Vance bahwa AS tidak akan lagi terlibat dalam peperangan luar negeri. Artinya, simpatisan yang memilih Trump-Vance karena menganggap Kamala Harris akan membawa AS pada perang yang lebih banyak di luar negeri, bisa berbalik menjadi kritikus bahkan pembenci Trump. Ini bisa berakibat merugikan pada berkurangnya dukungan dan kepuasan publik atas kepresidenan Donald Trump bahkan dari pendukungnya sendiri.
Selain menghadapi kritik domestik, terjebaknya Trump dalam Perang Netanyahu, bisa mengancam kepentingan nasional AS di luar negeri, terutama di Timur Tengah. Beberapa dampak merugikan dari intervensi atau serangan AS ke Iran tersebut dapat diuraikan menjadi beberapa poin penting.
Pertama, serangan AS ke situs nuklir Iran bisa memantik serangan balasan yang mungkin akan mengancam pangkalan-pangkalan militer AS yang ada dan tersebar di Timur Tengah. Dengan serangan balasan yang bisa terjadi kapan pun, stabilitas regional semakin tidak menentu dan kedudukan AS sebagai salah satu aktor dominan dalam politik Timur Tengah bisa memudar bahkan menghadapi resistensi yang tidak terkira.
Baca juga:
Kedua, tersulutnya intervensi kekuatan besar (great power) yang pro-Teheran. Apabila Iran melakukan serangan balasan yang menargetkan pangkalan militer AS di Timur Tengah, Washington dipastikan akan kembali melakukan serangan sebagai balasan.
Intervensi yang berkelanjutan ini akan menarik aktor lain dalam kisruhnya teater politik Timur Tengah, seperti Rusia dan Tiongkok. Besar kemungkinan apabila Moskow dan Beijing akan turut membantu salah satu sekutu krusialnya, apabila serangan AS terus berlanjut.
Dengan masuknya aktor kekuatan besar lain dalam konflik ini, AS akan gagal mempertahankan perimbangan kekuatan (balance of power) antara kekuatan besar, dan konflik ini bisa saja semakin menggelar karpet merah bagi dominasi Rusia ataupun Tiongkok di Timur Tengah, seiring kepercayaan terhadap AS yang bisa saja semakin raib.
Indikasi dukungan ini jelas terlihat dalam pernyataan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, yang mengecam keras serangan AS atas Iran. Bahkan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, segera melakukan kunjungan ke Moskow untuk berkonsultasi dengan Putin.
Ketiga, meningkatkan rasa anti-Amerika dan terancamnya kepentingan ekonomi AS di kawasan. Sebagaimana diutarakan John J. Mearsheimer dan Stephen M. Walt dalam bukunya The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy, bahwa kepentingan utama AS di Timur Tengah adalah minyak.
Apabila eskalasi semakin berlanjut, ladang perekonomian AS akan turut terhambat, dengan terhambatnya lalu lintas perdagangan minyak internasional, terutama setelah Parlemen Iran menyetujui untuk menutup Selat Hormuz.
Daya ekonomi AS di Timur Tengah akan mengalami deklinasi yang tajam. Biaya perang juga bisa memperlemah perkonomian domestik AS. Selain itu akan menjamur sikap anti-Amerika baik di Timur Tengah maupun di dunia, dan terutama di kalangan rakyat Iran. Walaupun JD Vance menegaskan bahwa AS tidak sedang memerangi rakyat Iran, kebencian yang berkembang itu adalah harga yang harus dibayar, terlebih apabila eskalasi dan intervensi AS terus berlanjut.
Trump yang masuk dalam perangkap perang Netanyahu akan mengalami kerugian besar alih-alih keuntungan. Dunia akan menyaksikan bagaimana Trump akan dirobek-robek oleh ragam kritik di dalam negeri dan kekacauan strategis di luar negeri.
Rasa-rasanya Trump perlu diingatkan dengan pernyataan yang disampaikan oleh Bernard Reich, ilmuwan politik AS, yang mengatakan: “Israel memliki kepentingan yg terbatas secara militer dan ekonomi bagi AS. Israel bukan negara vital secara strategis.” Kepentingan AS tidak seharusnya digadaikan untuk memenuhi hasrat seseorang bernama Benjamin Netanyahu semata. Karena Perang Netanyahu adalah jebakan yang merugikan.
Editor: Prihandini N
