Membaca Sylvia Plath Tanpa Bingkai Tragedi

Fitri Tiara Merdika

3 min read

Sylvia Plath tidak sedang depresi. Dia melihat dunia dengan jernih di saat dunia lebih suka ia tidak melakukannya.

Saya pertama kali mengenal Sylvia Plath seperti kebanyakan pembaca lainnya yaitu melalui sebuah peringatan. Bukan tentang karyanya, melainkan tentang hidupnya. Sebelum saya sempat membaca satu puisi pun, saya sudah diberitahu bahwa ia “tragis,” “rapuh,” “brilian tapi terkutuk.” Seolah-olah syarat untuk membacanya sudah ditetapkan lebih dulu. Saya tidak diajak untuk membaca Plath, tetapi saya seolah sedang disiapkan untuk menafsirkannya lewat bingkai yang sudah dipilihkan orang lain. Dan begitu saya menyadari bingkai itu, saya mulai mempertanyakannya. Bukan karena penderitaannya tidak penting, tapi karena penderitaan itu tampaknya telah menutupi segalanya termasuk seluruh karya yang ia bangun dengan begitu presisi dan penuh kesadaran.

Kebiasaan Mereduksi Perempuan Menjadi Cara Mereka Berakhir

Saya sampai pada satu kesimpulan mengenai cara kita berbicara tentang Plath sebenarnya lebih banyak mengungkap diri kita sendiri daripada dirinya. Ada sebuah pola dalam cara kita mengingat penulis perempuan, yaitu hidup mereka dipadatkan menjadi narasi tentang luka, dan karya mereka diperlakukan seolah tak lebih dari perpanjangan luka itu. Pada Plath, reduksi ini terasa paling telanjang. Kematiannya bukan sekadar fakta biografis, ia menjadi kacamata utama untuk membaca segalanya.

Setiap kali saya kembali pada diskusi tentang dia, saya perhatikan betapa cepatnya tulisannya dilabeli “confessional“, seakan label itu sendiri sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. Istilah itu terdengar analitis, tapi sering kali ia bekerja sebagai sebuah pemecatan. Ia menyiratkan bahwa puisi-puisi Plath adalah luapan emosi yang mentah dan tak tersaring, bukan argumen yang dibangun dengan cermat. Saya sulit menerima asumsi itu ketika saya benar-benar membaca karyanya. Kendali atas bahasanya terlalu nyata. Strukturnya terlalu disengaja. Tidak ada yang terasa kebetulan.

Baca juga:

Yang mengusik saya adalah betapa mudahnya kita menerima gagasan bahwa perempuan yang menulis tentang rasa sakit pasti sedang ditelan oleh rasa sakit itu. Kita jarang menerapkan logika yang sama pada penulis laki-laki. Kegelapan mereka sering ditafsirkan sebagai kedalaman filosofis. Kegelapan Plath, sebaliknya, hampir selalu di-medicalize. Dan perbedaan itu bukan sesuatu yang netral.

Membaca Karyanya Tanpa Diagnosis

Ketika saya membaca Plath dengan sungguh-sungguh, saya tidak menemukan kebingungan. Saya menemukan kejernihan. Citranya tidak kacau, ia tepat sasaran. Metaforanya tidak kabur, ia menghujam. Semacam ada sebuah kecerdasan yang bekerja di sana, dan itu sulit untuk didamaikan dengan gambaran seseorang yang sedang hancur di atas halaman.

Saya mulai curiga bahwa label “depresi” digunakan secara sembrono, bukan sebagai pengamatan klinis, melainkan sebagai cara untuk mengurung apa yang sedang ia lakukan. Kalau visinya bisa dikategorikan sebagai distorsi, maka ia tidak perlu ditanggapi serius. Ia bisa dikesampingkan sebagai artefak kondisi mentalnya, bukan dihadapi sebagai sebuah kritik.

Tapi bagaimana kalau yang terjadi justru sebaliknya? Bagaimana kalau ketidaknyamanan yang ditimbulkan karyanya bukan berasal dari distorsi, melainkan dari akurasi? Ketika Plath menulis tentang belenggu, tentang identitas, tentang tekanan untuk menampilkan versi feminitas yang mengikis diri sendiri, intensitas bahasanya terasa proporsional dengan subjeknya. Saya tidak membaca sesuatu yang berlebihan. Saya membaca sesuatu yang diungkap apa adanya.

Di sinilah perbedaannya menjadi penting bagi saya. Menggambarkan sesuatu sebagai kelam bukan berarti salah memahaminya. Itu mungkin hanya cara mendeskripsikannya dengan jujur. Dan kalau kejujuran itu membuat kita tidak nyaman, masalahnya mungkin bukan terletak pada penulisnya.

Mengapa Tragedi Lebih Mudah Dicerna?

Saya perhatikan betapa sering karya Plath didekati secara retroaktif, seolah setiap baris adalah satu langkah menuju kematiannya. Pendekatan itu menciptakan rasa tak terelakkan yang memang terasa dramatis, tapi sesungguhnya menyesatkan. Puisi-puisinya dibaca seperti petunjuk, seolah-olah fungsinya adalah untuk menandai apa yang sudah kita tahu akan terjadi.

Ada semacam efisiensi dalam pendekatan ini. Ia mengubah hidupnya menjadi satu busur narasi yang utuh yaitu awal, tengah, dan akhir yang tragis. Ia juga membuat karyanya lebih mudah dicerna. Alih-alih bertanya apa yang sedang dilakukan tulisannya, kita bertanya bagaimana tulisan itu cocok dengan cerita yang sudah kita karang tentang dirinya.

Saya mengerti daya tariknya. Tragedi itu mudah dijangkau. Ia hanya meminta empati, bukan analisis. Ia memungkinkan kita merasakan sesuatu yang langsung tanpa menuntut kita untuk mempertimbangkan ulang apapun. Sedangkan menghadapi kejernihan intelektualnya itu jauh lebih melelahkan. Ia membutuhkan perhatian, dan kadang-kadang juga membutuhkan keberanian untuk merasa tidak nyaman.

Ketika saya mendapati diri saya terjebak dalam bingkai tragedi itu, saya mencoba berhenti dan mengganti pertanyaannya. “Apa yang sedang ia argumenkan di sini? Apa yang sedang ia tunjuk?

Pergantian itu mengubah cara saya membaca. Karyanya tidak lagi tentang penderitaannya tapi tentang penglihatannya.

Ketidaknyamanan dari Memperlakukannya dengan Serius

Ada alasan, menurut saya, mengapa lebih mudah memperlakukan Plath sebagai korban daripada sebagai pemikir. Memperlakukannya dengan serius berarti mengakui bahwa pengamatannya mungkin masih berlaku hari ini. Berarti mengakui bahwa struktur yang ia kritisi terutama soal gender dan identitas belum hilang ke mana-mana.

Kejernihan Plath tidak banyak menyisakan ruang untuk menghindar. Ia tidak menyamarkan ketegangan yang ia identifikasi, dan ia tidak menawarkan resolusi yang mudah. Ketika saya membacanya dengan cara ini, intensitas tulisannya terasa bukan seperti krisis pribadi melainkan seperti penolakan untuk mengencerkan apa yang ia lihat.

Melabelinya sebagai “depresi” bisa berfungsi sebagai semacam penyangga, seperti memberi jarak antara pembaca dan implikasi dari karyanya. Kalau perspektifnya dibentuk oleh patologi, maka ia bisa ditolak tanpa perlu konfrontasi. Tapi kalau ia dibentuk oleh kejernihan, maka ia menuntut jawaban.

Baca juga:

Di sinilah pertanyaan itu menjadi tak bisa dihindari bagi saya: apakah saya membaca Plath sebagai penyair, atau sebagai studi kasus? Dua pendekatan itu membawa ke kesimpulan yang sangat berbeda. Yang satu terlibat dengan bahasanya, strukturnya, gagasan-gagasannya. Yang lain mereduksi semua itu menjadi bukti dari sebuah narasi yang sudah ditetapkan sejak awal.

Apa yang Kita Pilih untuk Ditonjolkan?

Saya tidak berpikir bahwa mengakui tragedi dalam hidup Sylvia Plath adalah sesuatu yang salah. Yang saya pertanyakan adalah prioritas yang kita berikan padanya. Ketika kematiannya menjadi kacamata utama untuk membaca karyanya, ia membatasi apa yang mampu atau mau kita lihat.

Bagi saya, membaca Plath sekarang membutuhkan penyesuaian yang disengaja. Saya harus meletakkan bingkai yang dulu diwariskan kepada saya, dan kembali ke teksnya sendiri. Ketika saya melakukan itu, yang muncul bukan potret seseorang yang tidak stabil, melainkan sebuah tubuh karya yang ditandai oleh presisi dan kesengajaan.

Kalau ada sesuatu yang menggelisahkan dari tulisannya, saya tidak lagi berasumsi bahwa itu berasal dari ketidakmampuannya menghadapi dunia. Bisa jadi ia berasal dari kemampuannya untuk melihat dunia dengan terlalu jelas. Barangkali, itulah kemungkinan yang paling sulit untuk diterima, bukan bahwa Plath kewalahan tapi bahwa ia akurat dengan cara-cara yang sampai hari ini masih membuat kita tidak nyaman. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Fitri Tiara Merdika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email