Menganalisis budaya pop dengan riset mendalam, tapi tetap dengan sentuhan seni yang menawan! Selalu penasaran dan terus berevolusi untuk kalian semua

Filsafat Sudah Turun Gunung, Anda Saja yang Malas Mendaki

Antonius Harya Febru Widodo

2 min read

Sebuah kehormatan menyaksikan upaya mulia untuk membingkai provokasi dangkal dari seorang figur publik menjadi sebuah “momentum reflektif.” Tulisan Saudara Malik Royan Qodri, dalam kesalehan intelektualnya, mencoba berbaik sangka pada pernyataan “hapus jurusan filsafat” dengan mengangkatnya ke altar analisis media menggunakan pisau bedah Entman dan Goffman. Hasilnya? Sebuah diagnosis yang, sayangnya, lebih mengkonfirmasi penyakit si dokter daripada si pasien. Alih-alih membela marwah filsafat, tulisan tersebut justru terperosok dalam narasi “filsafat elitis” yang dilontarkan sang provokator, sebuah jebakan naratif yang paling mendasar.

Mari kita bedah kerapuhan argumen ini dengan ketenangan yang diajarkan oleh para filsuf, bukan dengan kepanikan seorang humas yang citra lembaganya tergores.

Mitos Pertama yang Tumbang: Eksklusivitas Filsafat di Era Akses Terbuka

Argumen sentral yang diamini dengan begitu pasrah adalah bahwa filsafat hidup di “menara gading” yang eksklusif. Sebuah klaim yang terdengar puitis, namun runtuh seketika di hadapan realitas empiris yang paling banal sekalipun: rak-rak toko buku.

Baca juga: 

Mari kita lakukan eksperimen pikiran sederhana, yang jauh lebih membumi daripada meminjam teori framing. Silakan berjalan ke toko buku besar mana pun—Gramedia, Gunung Agung, atau bahkan toko buku independen yang katanya lebih “kiri”. Coba hitung dan bandingkan: lebih banyak mana tumpukan buku pengantar pemikiran Foucault, Nietzsche, atau terjemahan Plato, dengan buku teks teori Hubungan Internasional, Sosiologi Komunikasi, atau—katakanlah—Teknik Sipil? Sekalipun kita akui bahwa rak paling subur adalah untuk novel romansa, buku CPNS, dan panduan berternak lele, tidak bisa dipungkiri bahwa korpus filsafat yang tersedia untuk publik jauh melampaui disiplin ilmu lain yang dianggap lebih “praktis”.

Filsafat, justru karena sifatnya yang universal, adalah disiplin ilmu yang paling banyak dipelajari secara otodidak. Seseorang menjadi Marxis bukan karena lulus dari seminar ber-AC, tetapi karena membaca Das Kapital di kamar kosnya. Seseorang menjadi eksistensialis bukan karena tuntutan skripsi, tetapi karena tergetar oleh Mitos Sisifus karya Camus. Mengatakan filsafat itu eksklusif karena diskusinya berada di ruang seminar adalah sama dangkalnya dengan mengatakan musik itu elitis karena ada sekolah konservatori, padahal jutaan orang belajar gitar dari YouTube. Filsafat ada di etalase, di pasar loak, di PDF yang bertebaran gratis. Jika ada yang membuatnya terasa “jauh”, itu bukanlah tembok institusi, melainkan keengganan individu untuk membaca.

Mitos Kedua yang Fatal: Kerancuan antara Fondasi dan Aplikasi

Selanjutnya, mari kita bicarakan tuntutan agar filsafat “turun tangan” dan “menjadi teknis”. Ini adalah sebuah kecacatan logika yang fundamental, sebuah category mistake yang memalukan. Menyalahkan filsafat karena hanya berkutat di level ide dan bukan teknis adalah sama dengan menyalahkan seorang arsitek karena ia tidak ikut mengaduk semen dan memasang bata.

Tentu saja filsafat bersemayam di ranah ide, konsep, dan struktur pemikiran! Itulah raison d’être-nya, itulah pembagian kerja intelektualnya. Filsafat () adalah rahim yang melahirkan ilmu-ilmu lain ( dan ). Filsafat politik tidak bertugas merancang detail RUU di DPR; ia bertugas membongkar asumsi tentang “keadilan”, “kekuasaan”, dan “kedaulatan” yang mendasari RUU tersebut. Ketika konsep keadilan itu “turun” dan digabungkan dengan data empiris serta kebutuhan sosial, ia menjelma menjadi ilmu hukum, kebijakan publik, dan sosiologi.

Menuntut filsafat untuk “menyelesaikan” harga beras adalah sebuah permintaan yang salah alamat. Filsafat bertanya: “Apa itu nilai? Bagaimana sebuah komoditas mendapatkan harganya? Apa itu keadilan distributif?” Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi fondasi bagi para ekonom dan pembuat kebijakan untuk bekerja. Tanpa fondasi ini, “solusi teknis” hanya akan menjadi tambal sulam tanpa arah dan tujuan. Kami, para filsuf, membangun strukturnya. Anda yang berbicara teknis, silakan turun ke realitas sosial dengan peta yang telah kami sediakan. It is already a science, and we created the damn framework.

Ironi Seorang Kritikus Menara Gading

Puncak dari ironi ini adalah ketika penulis menggunakan teori framing dari Robert Entman dan Erving Goffman untuk menganalisis sebuah provokasi media sosial. Sungguh sebuah pemandangan yang… elitis. Menggunakan jargon akademis yang hanya dipahami segelintir mahasiswa Ilmu Komunikasai ataupun anak FISIP untuk membedah sesuatu yang bisa dijelaskan dengan konsep “cari perhatian” atau “umpan viral” adalah wujud nyata dari perilaku “menara gading” yang justru sedang dikritik. Ini adalah tindakan intelektual yang steril, sebuah masturbasi gagasan yang berhenti pada analisis demi analisis itu sendiri, tanpa menyentuh esensi persoalan.

Baca juga:

Provokasi Ferry Irwandi bukanlah “cermin retak” yang memaksa kita menatap wajah kusut filsafat. Itu hanyalah riak di permukaan air yang keruh. Menganggapnya sebagai gejala penyakit serius adalah hipokondria intelektual.

Maka, solusinya bukanlah “transformasi radikal dari dalam” yang didasari oleh diagnosis keliru. Filsafat tidak perlu diamputasi atau direformasi secara panik hanya karena seorang selebritas internet merasa ia tak berguna. Citra filsafat tidak rapuh; yang rapuh adalah pemahaman publik—dan beberapa pembelanya—tentang apa itu filsafat.

Tugas kita bukanlah membawa filsafat turun dari menara gading—karena ia tidak pernah benar-benar di sana secara eksklusif. Ia ada di mana-mana, bagi mereka yang mau mencari. Tugas kita adalah mendidik publik untuk mampu memanjat, atau setidaknya, memiliki keberanian untuk membuka buku yang sudah tersedia di hadapan mereka.

Filsafat tidak perlu turun. Andalah yang perlu mulai membaca. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Antonius Harya Febru Widodo
Antonius Harya Febru Widodo Menganalisis budaya pop dengan riset mendalam, tapi tetap dengan sentuhan seni yang menawan! Selalu penasaran dan terus berevolusi untuk kalian semua

2 Replies to “Filsafat Sudah Turun Gunung, Anda Saja yang Malas Mendaki”

  1. Terima kasih atas pembelaan kritik terhadap ilmu filsafat yang selalu direndahkan di saat ini. Namun bagi saya, katakanlah: “Anda terlalu puas dalam menyelam, sehingga tidak tertarik terhadap permukaan yang semu.”
    Tafsir; “KATA-KATA ANDA TERLALU PUITIS!!”
    Saya sebagai anak 17 tahun tidak terlalu memahami kata-kata yang “absurd” namun entah mengapa saya tertarik untuk memahaminya, berpikir kritis mengenai itu.
    Saran saya, tambahkan konten Eksistensialisme lagi 🙂

Leave a Reply to REYGA WIDYANDA PRATAMA PUTRA Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email