warga sipil

Provokasi Ferry Irwandi: Saat Filsafat Terlalu Betah di Menara Gading

Malik Royan qodri

2 min read

Belakangan ini, jagat dunia maya diramaikan oleh pernyataan Ferry Irwandi bahwa jurusan filsafat perlu dihapus. Di tengah berbagai isu pendidikan yang sebenarnya jauh lebih urgen—dari kurikulum yang mereduksi nalar hingga pendidikan tinggi yang makin mahal—tiba-tiba filsafat jadi kambing hitam. Ferry mengklaim bahwa filsafat terlalu elitis dan tak berdampak langsung pada masyarakat. Maka, jalan pintasnya, hapus saja jurusannya.

Kalau kita telan mentah-mentah logika Ferry, barangkali fakultas hukum juga perlu dibubarkan karena korupsi tetap marak. Rumah sakit tak perlu ada karena penyakit masih merajalela. Atau mungkin begini saja, berpikir kritis itu ancaman, maka pendidikan cukup sebatas menghafal dan mematuhi. Ironis? Tentu saja. Tapi begitulah jadinya jika kritik tidak disertai refleksi yang mendalam.

Baca juga:

Namun, mari kita berbaik sangka. Anggaplah Ferry tidak sedang asal bicara. Mungkin ia sedang menyuarakan gugatan atas kejumudan institusi filsafat itu sendiri, terlalu eksklusif, terlampau teoretis, dan kian menjauh dari denyut nadi realitas sosial. Ferry sebenarnya hanya menyentil luka lama, bahwa filsafat sering kali hidup nyaman di menara gading. Diskusi tentang Heidegger atau Foucault kerap berhenti di ruang seminar ber-AC, tanpa pernah menjadi senjata untuk menguliti kebijakan publik yang timpang, kemiskinan struktural, atau pembodohan massal oleh pemerintah. Filsafat menjadi aktivitas intelektual yang steril.

Di sinilah kita bisa melihat lapisan lain dari dinamika ini. Melihat latar belakang Ferry Irwandi yang merupakan seorang selebritas internet, apa yang diucapkannya barangkali bukan sekadar kritik, tapi strategi framing. Dalam teori media ala Robert Entman, setiap narasi publik dibentuk dengan memilih aspek tertentu dari realitas untuk ditonjolkan. Ferry menonjolkan bingkai “filsafat elitis dan tak berguna”, lalu menawarkan solusi ekstrem, “hapus jurusannya”. Ini adalah provokasi yang dirancang untuk viral, menggiring kita pada pertanyaan yang sebenarnya lebih dalam, apakah filsafat memang sudah kehilangan relevansinya di ruang publik?

Erving Goffman juga menyebut bahwa frame adalah kerangka pemaknaan. Artinya, kita bisa memilih untuk membingkai ucapan Ferry sebagai kekeliruan yang sembrono, atau—dan ini yang lebih produktif—sebagai provokasi intelektual yang membuka diskusi, kenapa filsafat terasa begitu asing bagi masyarakat? Kenapa ia lebih mudah ditemukan di skripsi mahasiswa daripada di perbincangan warga tentang harga beras atau krisis iklim?

Dengan memakai kacamata framing ini, kita bisa melihat bahwa yang Ferry lakukan adalah mengguncang kemapanan diskursus. Alih-alih menolak mentah-mentah, lebih bijak jika kita justru menggunakan pernyataan ini sebagai titik berangkat untuk mereformasi cara kita mengajarkan dan menjalankan filsafat. Provokasi ini adalah cermin retak yang dipaksakan ke hadapan wajah kita. Pertanyaannya bukan lagi “bagaimana membela filsafat?“, melainkan “bagaimana mereformasi filsafat agar ia tak lagi berada di menara gading?

Solusi dari kebuntuan ini jelas bukan amputasi, melainkan transformasi radikal dari dalam. Kita butuh filsafat yang hidup—yang hadir di ruang kelas, yang menjadi alat bertanya di meja makan, di balai desa, bahkan di setiap sidang para pejabat.

Membawa Filsafat Turun dari Menara Gading

Jika provokasi Ferry adalah gejalanya, maka penyakit utamanya adalah eksklusivitas. Filsafat, dalam bentuknya yang kini bersemayam di ruang akademik, sering kali terlalu nyaman berada di menara gading. Untuk membumikannya, kita tidak perlu mengamputasi. Kita butuh agenda reformasi yang konkret—agenda untuk membebaskan filsafat dari dirinya sendiri.

Filsafat akademis terlalu sering mabuk diksi yang hanya dimengerti oleh kalangannya sendiri. Bahasa itu menjadi tembok, bukan jembatan. Maka, langkah pertama adalah menerjemahkan. Mungkin, seperti pemikiran Foucault tentang kuasa harus bisa digunakan untuk membedah cara kerja buzzer dan algoritma media sosial dengan bahasa yang bisa dipahami semua orang.

Baca juga:

Filsafat terlalu lama terobsesi pada teks-teks mati, menuntut mahasiswa menghafal ide Plato tapi jarang mengajak mereka memakai kacamata Plato untuk membaca situasi hari ini. Filsafat harus turun tangan. Ia harus menjadikan realitas sosial sebagai laboratorium utamanya. Ketika RUU kontroversial muncul, analisis etika dan filsafat politiknya harus hadir paling tajam. Jurusan filsafat seharusnya menjadi tempat paling gelisah dan paling sibuk dalam merespons isu-isu publik.

Kemampuan berpikir kritis ala filsafat bukanlah kemewahan, melainkan hak setiap warga negara. Membedakan argumen valid dari yang sesat, menggugat asumsi tersembunyi, dan berani bertanya secara mendasar adalah keterampilan hidup yang esensial. Pada akhirnya, provokasi Ferry Irwandi—dengan segala keterburuannya—boleh jadi justru menjadi tamparan paling jujur bagi filsafat publik di Indonesia.

Framing-nya yang kasar dan viral berhasil memaksa kita bercermin, menatap wajah kusut filsafat yang selama ini terlalu nyaman di balik dinding akademik. Dan kenyataan pahitnya, citra filsafat memang begitu rapuh, hingga satu cuitan bisa membuatnya terguncang. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Malik Royan qodri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email