Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM Yogyakarta

Dinamika Kehidupan Korban Kabut Asap Karhutla

Sjafira Hasna Ratnani

3 min read

Bulan Agustus 2026 menjadi salah satu bulan yang mengobrak-abrik perasaan masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, di satu sisi kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan YME untuk merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Di sisi lain, saudara kita di NTT, Sumatra, dan Kalimantan sedang berjuang bertahan hidup setelah alamnya dilanda bencana.

Bencana karhutla (kebakaran hutan dan lahan) yang terjadi di Pulau Kalimantan saat ini mengingatkan saya pada kejadian yang sama beberapa tahun silam. Karhutla yang menghasilkan kabut asap pada dasarnya menjadi rutinitas tahunan selama musim kemarau yang berlangsung pada bulan Juli – Desember. Tingkat keparahannya tergantung pada seberapa luas lahan dan hutan yang terbakar dan dibakar.

Baca juga:

Sebagai korban karhutla di Pulau Sumatra, perlu rasanya saya membagikan pengalaman hidup saat berjuang di tengah kepungan asap tebal. Apa yang saya alami waktu itu hampir sama dengan yang dialami saudara kita saat ini di Kalimantan. Berikut adalah momen-momen kehidupan saya selama karhutla melanda Sumatra.

  1. “Tragedi” Kabut Asap Tahun 2015 dan 2019

Perkebunan kelapa sawit yang luas bisa dijumpai di banyak kabupaten di Provinsi Riau. Kota Pekanbaru sebagai ibukota provinsi memiliki lahan sawit yang lebih sedikit daripada kabupaten lain. Hal tersebut yang menyebabkan kabut asap jarang melewati Kota Pekanbaru. Biasanya kabut asap lebih masif memberikan dampak ke wilayah kabupaten daripada kota.

Tahun 2015 menjadi tahun yang traumatis bagi saya. Bagaimana tidak, selama hampir satu semester, kami warga Pekanbaru harus menghirup bulat-bulat kabut asap yang dikirim dari kabupaten lain. Ditambah lagi, tragedi saat itu tidak hanya membakar lahan di Provinsi Riau saja, namun hampir satu Sumatra dan Kalimantan lahannya dibakar dalam waktu yang bersamaan. Kabut asap yang dihasilkan juga terbawa sampai ke Malaysia dan Singapura.

Sebenarnya, fenomena kabut asap tahun 2019 sama parahnya dengan 2015, bahkan lebih. Sayangnya, tahun 2019 saya sudah merantau ke Jawa, jadi saya hanya bisa memantaunya lewat media sosial. Saat itu teman-teman saya melaksanakan demo di depan Polda Riau meminta agar pemerintah daerah dan pemerintah pusat segera mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Salut buat kalian kawan seperjuangan!

  1. Kegiatan Belajar Mengajar menjadi Tidak Efektif

Waktu itu saya kelas X SMA. Belum ada 3 bulan berkenalan dengan mata pelajaran kimia yang baru dipelajari di bangku SMA, tiba-tiba sekolah diliburkan. Rasanya terseok-seok mengikuti materi pelajaran SMA, dengan pembelajarannya dalam bentuk pemberian tugas dan belajar otodidak di rumah. Ditambah lagi saat itu belum ada Zoom Meeting maupun Google Meet, butuh waktu lebih banyak untuk saya memahami materi pelajaran yang diberikan.

Fase “libur” 4 bulan atau hampir 1 semester tersebut jika diingat-ingat kembali masih menjadi momen yang lucu. Alurnya seperti ini: Kabut asap tidak terlalu tebal pada hari Minggu, jadi kami bisa masuk sekolah di hari Senin. Kami pun masuk sekolah tanpa upacara bendera karena sedang kabut asap. Semakin siang kabut asap semakin tebal, sehingga kami terpaksa dipulangkan pukul 12.00 WIB yang seharusnya pulang pukul 15.30 WIB.

Lalu, hari Selasa saya berangkat ke sekolah seperti biasa. Saya tidak tau ternyata sekolah libur dan saat sampai di depan sekolah, pintu gerbang ditutup tanpa pemberitahuan sebelumnya. Akhirnya terpaksa saya putar balik ke rumah tanpa masuk sekolah. Malam harinya, saya dan teman-teman menunggu update dari akun Twitter sekolah apakah esok hari masuk sekolah atau tidak. Begitulah rutinitas kami setiap hari selama 4 bulan hingga masa Ujian Akhir Semester Ganjil selesai.

  1. Jarak Pandang yang Terbatas

Seperti hasil pembakaran pada umumnya, kabut asap berwarna kelabu. Asap tersebut membumbung ke langit dalam kapasitas besar. Ketika sampai di langit, asap tersebut menyelimuti permukaan bumi dan menghalangi cahaya matahari yang seharusnya menyinari bumi. Kondisi ini mengakibatkan jarak pandang terbatas dan mata menjadi perih. Kondisi luar ruangan terasa seperti mendung padahal cahaya mataharinya yang terhalang kabut asap.

Kabut asap menghalangi objek yang ada di depan mata kami. Transportasi seperti mobil, motor, hingga pesawat sekalipun sulit dikendarai karena jarak pandang terbatas hanya beberapa meter. Gedung-gedung perkantoran menjadi sulit terlihat karena terhalang kabut asap. Jangankan gedung tinggi, warung depan rumah saya saja sampai tidak terlihat.

  1. Oksigen Menjadi “Barang Mahal” saat Kabut Asap

Ketika kita membakar sampah, kita akan buru-buru menghindar karena bau asap. Nah, kabut asap ini merupakan versi besarnya. Apakah kami bisa dengan mudah pergi ke daerah lain? Tentu saja tidak. Jangankan ke daerah lain, mau pergi keluar rumah pun bernafas aja sudah tidak karuan rasanya. Sungguh sulit menghirup udara segar saat kabut asap. Masyarakat berebut membeli oksigen dalam kemasan apapun, mulai dari kaleng sampai tabung.

Keluarga saya membeli air purifier untuk membersihkan kabut asap yang masuk ke dalam rumah. Hal ini dikarenakan kabut asap dari luar rumah dengan mudahnya masuk ke sela-sela dalam rumah. Sayangnya, air purifier tersebut hanya bisa membersihkan satu ruangan aja, bukan satu rumah sekaligus.

Baca juga:

Berbagai macam cara sudah dilakukan. Kipas angin dinyalakan dengan kecepatan paling tinggi untuk mengeluarkan kabut asap dari rumah, AC (air conditioner) terpaksa dimatikan karena bisa menyedot asap dari luar, menggunakan masker pun juga tidak ampuh karena bau asapnya tetap menembus masker.

  1. Kualitas Udara yang “Berbahaya”

Di beberapa kota termasuk Kota Pekanbaru tersedia papan ISPU (Indeks Standar Pencemaran Udara) yang berlokasi di beberapa titik. Papan tersebut menampilkan kualitas udara, mulai dari level baik, sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga berbahaya. Kabut asap saat itu pernah mencapai level berbahaya dengan tulisan berwarna hitam. Bayangkan seburuk apa kualitas udara yang kami hirup.

Begitulah pengalaman yang saya rasakan selama menjadi korban kabut asap karhutla. Manusia memang tidak ada puasnya, padahal minyak di bawah tanah sudah banyak (minyak bumi) tapi masih ingin menguasai sumber minyak di atas tanah (kelapa sawit). Manusia terlalu egois hingga mengorbankan hewan dan tumbuhan yang tidak bersalah yang seharusnya kita semua bisa saling bekerja sama untuk menjaga keseimbangan alam agar bumi tidak semakin rusak di masa depan. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Sjafira Hasna Ratnani
Sjafira Hasna Ratnani Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email