“Alam tidak pernah mengkhianati manusia; manusialah yang berulang kali mengkhianati alam.”
Kalimat semacam ini terasa klise. Namun justru karena terlalu sering diabaikan, ia tetap relevan. Dalam sejarah kebudayaan Indonesia, hubungan manusia dan alam selalu diletakkan dalam relasi etis, bukan relasi kuasa. Tanah, hutan, air, dan makhluk hidup lain dipahami sebagai bagian dari kehidupan bersama, bukan sekadar latar bagi pembangunan. Ketika relasi itu rusak, yang runtuh bukan hanya pepohonan, tetapi juga cara manusia memahami dirinya sendiri.
Dalam sastra Indonesia, kegelisahan terhadap rusaknya alam telah lama hadir. Salah satu karya yang merekam perubahan ekologis secara tajam adalah Kubah karya Ahmad Tohari. Meski berlatar Jawa, novel ini menghadirkan potret yang melampaui ruang geografis. Ia berbicara tentang desa, tentang hutan yang berubah, tentang manusia yang perlahan tercerabut dari tanahnya sendiri. Apa yang ditulis Ahmad Tohari puluhan tahun lalu hari ini menemukan pantulannya di Sumatra, tempat deforestasi berlangsung dalam skala yang jauh lebih brutal dan sistematis.
Dalam Kubah, hutan digambarkan sebagai ruang hidup yang perlahan tergerus oleh kepentingan di luar desa. Penebangan kayu jati pada masa pendudukan Jepang membuka jalan bagi perubahan besar. Setelah kekuasaan pergi, jejak eksploitasi tertinggal dan menjadi kebiasaan. Pohon ditebang, bukit dirambah, dan manusia mulai melihat alam sebagai komoditas. Transformasi ini tidak berlangsung tiba-tiba. Ia berjalan pelan, masuk akal, dan sering kali dibenarkan oleh narasi kemajuan. Di titik ini, sastra bekerja sebagai arsip moral. Ia merekam sesuatu yang sering luput dari laporan pembangunan.
Baca juga:
Kerusakan alam dalam novel itu tidak berdiri sendiri. Ia diikuti oleh lenyapnya satwa, berubahnya pola hidup, dan tumbuhnya kemiskinan yang baru. Burung srigunting menghilang karena pohon-pohon tempatnya hinggap ditebang. Kijang, monyet, dan macan tersingkir karena hutan tak lagi menyediakan ruang hidup. Bahkan suara kerbau yang dulu akrab di desa perlahan lenyap, tergantikan oleh mesin dan kendaraan. Alam yang rusak membawa perubahan sosial yang sunyi, namun dalam.
Apa yang ditulis Ahmad Tohari terasa sangat dekat dengan Sumatra hari ini. Deforestasi di Sumatra tidak hanya soal berkurangnya tutupan hutan, tetapi juga perubahan cara hidup masyarakat. Hutan adat dibuka atas nama investasi, perkebunan monokultur tumbuh menggantikan ekosistem yang beragam, dan sungai kehilangan fungsi alaminya. Ketika hujan turun deras, air tidak lagi tertahan oleh akar-akar pohon. Banjir bandang dan longsor pun menjadi peristiwa yang berulang, lalu disebut sebagai bencana alam, seolah tidak ada campur tangan manusia di dalamnya.
Dalam Kubah, perlawanan terhadap kerusakan itu tidak hadir dalam bentuk kekerasan. Pambudi, tokoh sentral novel, memilih jalan intelektual. Ia menulis, memotret, dan menyampaikan kegelisahannya melalui media. Ia sadar bahwa kekuasaan desa dan aparat negara terlalu besar untuk dilawan dengan otot. Kata-kata menjadi ruang perlawanan yang tersisa. Pilihan ini penting untuk dibaca hari ini, ketika kritik lingkungan sering kali dipinggirkan atau dianggap menghambat pembangunan.
Pambudi memahami bahwa modernitas membawa godaan. Sepeda motor, radio, dan barang-barang kota masuk ke desa, membawa imaji kemajuan. Namun di balik itu, sawah dijual, pohon kelapa ditebang, dan tanah kehilangan maknanya. Kritik Pambudi bukan nostalgia romantik, melainkan pertanyaan etis. Apa arti kemajuan jika ia dibayar dengan hilangnya sumber hidup jangka panjang. Pertanyaan ini relevan ketika Sumatra terus kehilangan hutannya demi pertumbuhan ekonomi yang angka-angkanya jarang dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.
Tokoh-tokoh pendukung seperti Pak Barkah dan Topo memperlihatkan bahwa kesadaran ekologis membutuhkan ruang sosial. Pak Barkah menyediakan ruang bagi warga untuk bersuara, sementara Topo menyadarkan pentingnya pengetahuan dan pendidikan untuk menghadapi kekuasaan yang lihai menyembunyikan kepentingan. Sastra di sini tidak hanya bercerita, tetapi juga menawarkan model perlawanan yang sunyi, panjang, dan melelahkan.
Deforestasi di Sumatra menunjukkan pola yang serupa. Ketika masyarakat adat menolak pembukaan hutan, mereka sering dicap anti pembangunan. Ketika aktivis lingkungan bersuara, mereka dihadapkan pada tekanan hukum dan stigma. Dalam situasi seperti ini, tulisan, dokumentasi, dan ingatan kolektif menjadi senjata yang tersisa. Persis seperti yang dilakukan Pambudi, kata-kata berfungsi menjaga agar kerusakan tidak sepenuhnya dinormalisasi.
Baca juga:
Sastra memiliki kelebihan yang tidak dimiliki laporan teknokratis. Ia mampu menghadirkan dampak ekologis dalam bentuk pengalaman manusia. Ia memperlihatkan bagaimana kerusakan alam menyentuh dapur, tubuh, dan relasi sosial. Dalam konteks Sumatra, angka deforestasi sering disajikan sebagai statistik. Namun di balik angka itu ada desa yang terendam, ladang yang hilang, dan generasi muda yang tumbuh tanpa mengenal hutan sebagai ruang hidup.
Ahmad Tohari menulis dengan kesadaran bahwa perubahan ekologis selalu beriringan dengan perubahan moral. Ketika alam dirusak, nilai-nilai gotong royong, kesabaran, dan penghormatan terhadap kehidupan ikut terkikis. Hal yang sama terlihat di banyak wilayah Sumatra. Konflik lahan meningkat, solidaritas melemah, dan hubungan manusia dengan tanah berubah menjadi relasi kontraktual yang dingin.
Membaca Kubah hari ini memberi jarak untuk merenung. Sastra membuka ruang kontemplasi yang jarang diberikan oleh wacana pembangunan. Ia mengajak pembaca berhenti sejenak dan bertanya tentang arah yang sedang ditempuh. Apakah pertumbuhan ekonomi layak dibayar dengan bencana yang terus berulang. Apakah pembangunan yang mengabaikan ekologi dapat disebut berhasil.
Di titik ini, sastra dan realitas saling bercermin. Apa yang dahulu ditulis sebagai cerita desa kini menjelma menjadi tragedi regional. Sumatra menjadi panggung besar dari kisah yang sudah lama diperingatkan melalui karya sastra. Hutan yang hilang meninggalkan lubang, bukan hanya di tanah, tetapi juga dalam ingatan kolektif bangsa.
Esai ini berakhir dengan satu kesadaran yang mendesak. Kerusakan alam tidak pernah berdiri sendiri. Ia lahir dari keputusan politik, dari pembiaran, dari cara berpikir yang memisahkan manusia dari lingkungannya. Sastra telah lama mengingatkan, dengan bahasa yang tenang dan tajam. Kini giliran pembaca, warga, dan negara untuk mendengar. Jika tidak, kita akan terus membaca ulang cerita yang sama, hanya dengan nama tempat dan jumlah korban yang berbeda. (*)
Tangerang Selatan, 23 Desember 2025
Editor: Kukuh Basuki
