Benang Merah di Kepala: Ketika Seks jadi Ajang Pamer

Zulfa Dillah

2 min read

Di serial Korea S-Line, benang merah bukan lagi soal jodoh. Bukan juga simbol cinta yang tak tergantikan. Di dunia itu, benang merah justru jadi penanda berapa banyak orang yang pernah tidur denganmu. Satu benang, satu pasangan. Dan benang itu melayang-layang di atas kepala, mengikutimu ke mana pun kamu pergi.

Awalnya, benang itu hanya bisa dilihat lewat kacamata khusus. Tapi menjelang akhir cerita, semua orang bisa melihatnya tanpa alat bantu. Dunia jadi transparan, dan rahasia paling pribadi jadi tontonan umum. Beberapa orang syok dan malu. Tapi ada juga yang bangga semacam flexing versi seksualitas.

Dan, seperti biasa, fiksi yang kuat sering bocor ke dunia nyata. Tren benang merah ini ikut viral di media sosial, terutama di Indonesia. Banyak yang ikut-ikutan, edit foto sendiri pakai garis warna merah di kepala, lalu upload dengan caption bangga.

Baca juga:

Tapi tren ini jadi terasa janggal ketika muncul satu video seorang ibu dan anak. Di video Tiktok itu, sang anak yang masih kecil punya belasan benang merah di kepalanya. Sedangkan ibunya cuma punya dua, dan salah satu benangnya nyambung ke anaknya sendiri. Video itu dibagikan dengan santai, mungkin karena si ibu tak tahu arti benang merah yang sebenarnya.

Lucu? Sekilas, mungkin iya. Tapi juga mengerikan.

Seks yang Jadi Konsumsi Publik

Michel Foucault, seorang pemikir asal Prancis, pernah bilang bahwa seks bukan cuma soal tubuh atau selera pribadi. Seks, katanya, adalah bagian dari cara masyarakat mengatur dan mengendalikan kita. Dulu seks itu tabu, sekarang justru jadi pemandangan sehari-hari.

Tren benang merah ini salah satu contohnya. Hal yang sangat personal jumlah pasangan seksual berubah jadi semacam medali. Orang bangga kepala mereka penuh benang. Makin banyak, makin “berkelas”.

Padahal, kalau kita berhenti sebentar dan mikir, itu bukan soal seks semata. Itu soal bagaimana dunia digital mengubah cara kita mencari pengakuan. Kalau dulu orang bangga karena prestasi, sekarang orang bisa bangga karena viral. Dikenal atau lebih tepatnya, karena kelihatan pernah berhubungan seks dengan banyak orang.

Antara Bangga dan Bingung

Kebanggaan atas jumlah benang merah ini juga menunjukkan satu hal lain, yaitu rasa malu sekarang dianggap kuno. Malu itu dianggap tanda lemah. Padahal, menurut Erich Fromm, rasa malu justru bagian penting dari manusia yang dewasa. Dia bilang, kebebasan sejati bukan soal bisa ngapa-ngapain, tapi soal tahu kenapa kita ngelakuin sesuatu.

Dan kalau kita tanya ke diri sendiri “Aku pamer benang ini buat apa?” jawabannya mungkin tidak sesederhana “karena keren”. Bisa jadi karena takut ketinggalan tren. Atau karena kita belum terlalu kenal siapa diri kita, jadi kita butuh pengakuan dari luar. Semacam pembuktian bahwa “aku laku”, “aku cukup menarik”, “aku bukan orang biasa”.

Tapi kalau pengakuan diri kita dibangun dari hal yang paling personal dan seharusnya sensitif, apa yang tersisa dari privasi?

Dunia yang Terlalu Terbuka

Serial S-Line mungkin fiksi. Tapi ia sedang mengajak kita membayangkan dunia yang terlalu terbuka. Semua orang tahu segalanya tentang semua orang. Dan dalam dunia seperti itu, nilai kita bukan ditentukan dari siapa kita sebenarnya, tapi dari seberapa menarik kita dilihat orang lain.

Apakah kita benar-benar ingin dunia seperti itu? Apakah kita ingin jadi orang yang diingat karena benang merah di kepala, atau karena bagaimana kita memperlakukan orang lain?

Baca juga:

Mungkin ini saatnya kita pelan-pelan merebut kembali privasi. Bukan karena malu, tapi karena sadar tidak semua hal harus dibagikan. Dan tidak semua pengakuan dari luar pantas jadi bahan bangga.

Melihat Ulang Benang Merah Kita Sendiri
“Benang merah” dalam serial S-Line bukan hanya metafora tentang seks, tapi tentang transparansi dan eksposur sosial. Dunia tempat semua orang bisa melihat apa yang dulu tersembunyi adalah dunia yang kita tinggali sekarang berkat algoritma, sorotan kamera, dan hasrat untuk viral.
Namun di tengah hiruk-pikuk pamer benang, mungkin kita butuh momen jeda untuk bertanya apa makna tubuh kita, relasi kita, dan identitas kita sebenarnya.
Sebab, seperti yang ditulis Erich Fromm dalam The Art of Loving, “Kebebasan sejati bukanlah tentang melakukan apa yang kita mau, tapi tentang mengetahui mengapa kita menginginkannya.” (*)
Editor: Kukuh Basuki
Zulfa Dillah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email