Niatnya Nabung Buat Masa Depan, eh Malah Diblokir

Awalia Rahmah

2 min read

Beberapa hari terakhir, warganet ramai mengomentari wacana pemblokiran rekening tabungan. Sebab, rekening tersebut tidak aktif selama tiga bulan. Bukan karena penipuan, bukan pula karena saldo nol. Tapi karena satu hal yang dianggap sepele: tidak ada transaksi.

Rekening yang tadinya diniatkan untuk masa depan anak, dana darurat, atau sekadar tabungan jangka panjang, kini terancam masuk kategori dormant. Anehnya lagi, berpotensi dibekukan.

Meski belum ada pemblokiran massal, keresahan sudah menyebar. Di media sosial, sudah banyak muncul pertanyaan, apakah tabungan yang jarang disentuh akan dianggap mencurigakan? Lantas, Apakah menabung untuk masa depan kini harus disertai transaksi rutin?

Baca juga:

Saya sebagai mahasiswa akhir yang sedang riweh skripsi dan mengkhawatirkan fase-fase jobseeker, jadi ketambahan pemikiran. Aduh, bagaimana pula nasib tabungan darurat yang memang isinya hanya pemasukan. Apalagi masyarakat lain dengan segudang kebutuhan.

Rekening yang Jarang Dipakai Justru Bisa Diblokir

Punya rekening yang jarang dipakai rasanya wajar—apalagi kalau tujuannya buat nabung jangka panjang, dana darurat, atau tabungan anak. Tapi belakangan, wacana dari PPATK bikin banyak orang mulai was-was. Melalui laman Instagram, diberitakan kalau rekening yang tidak digunakan untuk transaksi selama tiga bulan, bisa masuk kategori dormant.

Meski dana tetap aman dan nggak hilang, status rekening yang dibekukan tentu bikin deg-degan. Bayangkan, para orang tua mau tarik uang buat bayar sekolah anak, tapi rekeningnya nggak bisa diakses karena dianggap “tidur”. Panik dikit, dong.

Dari UU No. 8 Tahun 2010, PPATK menyebut langkah ini sebagai upaya pencegahan tindak pidana pencucian uang. Kira-kira, seperti itulah alasan dibalik kebijakan ini.

Masalahnya, banyak masyarakat yang justru menggunakan rekening pasif sebagai tempat menyimpan uang dengan harapan aman dan tidak terganggu. Bahkan, anggota DPR sudah mulai angkat suara. Menyebut bahwa kebijakan ini bisa mengganggu privasi dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan.

Niat Nabung Malah Jadi Boncos

Apabila benar terealisasi, rencana menabung jangka panjang bisa saja justru berbalik jadi peristiwa nahas. Boncos di banyak tempat. Sebab, uang yang disimpan di rekening tabungan malah berkurang pelan-pelan.

bunga tabungan konvensional di Indonesia bisa serendah 0% per tahun untuk saldo di bawah Rp 10 juta. Bahkan untuk saldo Rp 500 juta pun, bunga yang didapat hanya sekitar Rp 50 ribu setahun. Sementara inflasi bisa mencapai 5% atau lebih setiap tahunnya. Artinya, nilai uangmu diam-diam tergerus waktu.

Belum lagi potongan biaya administrasi bulanan. Dalam setahun, saldo bisa berkurang ratusan ribu hanya karena rekening “diam” tanpa transaksi. Ironisnya, niat baik untuk menabung justru bikin stres kalau nggak disertai strategi yang tepat.

Jadi, bukan cuma soal menyimpan uang, tapi juga bagaimana upaya menyimpannya agar tetap tumbuh. Nggak ‘tidur’.

Tips Agar Rekening Tidak Masuk Kategori Dormant

Nggak jarang beberapa orang lupa kalau punya rekening tabungan di salah satu bank, apalagi kalau jarang dipakai buat transaksi sehari-hari. Tahu-tahu, rekeningnya berubah status jadi dormant alias gak aktif. Kalau udah begini, kita bisa kesulitan mengakses dana di dalamnya, bahkan kadang harus datang ke bank buat reaktivasi.

Nah, biar rekening tetap “bernapas”, harus tetap ada aktivitas rutin. Bisa dari setor tunai, transfer otomatis dari gaji, top-up e-wallet, atau bayar tagihan bulanan. Pokoknya, biar bank tahu kalau rekening itu masih ‘hidup’ dan digunakan. Satu transaksi kecil aja bisa bikin rekeningmu aman dari status tidur panjang.

Baca juga:

Intinya, menjaga rekening tetap aktif itu lebih dari sekadar urusan teknis. Ini soal kebiasaan kecil yang bikin tetap terhubung sama aset. Kira-kira, seperti itu deh upaya pencegahan dari musibah rekening diblokir.

Bisa Jadi “Silent Killer”

Di balik ketenangan saldo yang tampak tak berubah, ada potensi ‘penggerogotan’ yang pelan tapi pasti. Ironisnya, karena prosesnya lambat dan tak dramatis, kita justru sering lengah. Tiba tiba saldo berkurang drastis saja. Apalagi kalau dana itu dibiarkan begitu saja tanpa strategi, hanya sekadar “numpang parkir” di rekening.

Maka, penting untuk tidak sekadar menabung, tapi juga memikirkan ke mana uang itu seharusnya bergerak. Menyusun strategi finansial sederhana. Atau sekadar memastikan rekening tetap aktif. Sebab, apabila peraturan sudah disahkan, satu-satunya yang bisa dilakukan ya upaya pencegahan. Mau bagaimana lagi. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

Awalia Rahmah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email