Sejarah panjang Imperium Inggris, yang dibangun dengan cara mengkolonisasi bangsa dan negara di berbagai belahan dunia, tidak hanya didukung oleh armada militer. Ada kerja-kerja intelektual ilmu penerjemahan bahasa dan pembuatan produk hukum di kampus-kampus bergengsi. Tujuannya untuk memperlancar negosiasi perdagangan, hingga justifikasi perang bersenjata.
Dalam Novel Babel, R.F. Kuang membeberkan siklus pendidikan penerjemahan bahasa-bahasa dunia ke bahasa Inggris (dan juga sebaliknya) di Universitas Oxford yang mewah, disiplin, dan eksklusif, namun penuh dengan kekejaman.
Melalui fiksi spekulatif ini, Kuang mengajak pembaca mengikuti kisah keempat tokoh utamanya, yaitu Robin Swift (Robin), Victorie Desgraves (Victorie), Letitia Price (Lety), dan Ramiz Rafi Mirza (Ramy) sebagai mahasiswa Oxford pada awal abad ke 19.
Sebagai pelajar penerjemah penerima beasiswa penuh dari universitas, mereka bisa masuk setelah melalui proses seleksi secara ketat. Mereka harus mampu menguasai bahasa Latin dan Yunani sebagai kemampuan dasarnya di samping bahasa ibu. Mereka juga dituntut mengikuti kurikulum pendidikan yang super ketat dan sangat berat. Semua itu mereka lakukan di tempat yang eksklusif, yaitu di sebuah menara yang dinamakan Babel.
Babel dan “Cipta Perak”
Babel adalah sebuah bangunan menara bersusun delapan yang menjadi pusat belajar para mahasiswa asing maupun dalam negeri yang mempunyai peminatan di bidang penerjemahan. Di dalam menara ini tersedia fasilitas lengkap, seperti buku-buku referensi, kamus dari berbagai bahasa di dunia, buku sejarah, hingga kitab-kitab hukum. Kelas untuk mengajar berada di lantai enam, tepat di bawah kantor fakultas. Sedangkan di lantai delapan adalah inti dari cerita, yaitu ruang penyimpanan ‘cipta-perak’.
Baca juga:
‘Cipta-perak’ adalah produk akhir dari proses pendidikan mahasiswa penerjemah di Oxford. Setiap mahasiswa tidak hanya mempelajari linguistik dengan menghafalkan terjemahan kata-kata yang sudah ada, tapi juga wajib memberikan satu entri pasangan kata terjemahan baru beserta pemaknaannya untuk dituliskan di kedua sisi batang perak. Keberhasilan menuliskan pasangan kata dalam ‘cipta-perak’ ini menjadi tanda keberhasilan mahasiswa jurusan penerjemahan dalam menyelesaikan seluruh proses pendidikannya selama 4 tahun.
Batang perak dengan kedua sisi yang bertuliskan kata pasangan dua bahasa itu mempunyai kekuatan magis. Ketika pemegangnya mengucapkan kata yang tertera di dalamnya, sekaligus memahami maknanya, baik secara etimologis maupun filosofis, maka batang perak itu akan memberikan empat tenaga yang sangat besar. Itulah sebabnya banyak masyarakat Inggris yang berminat memilikinya sehingga dibuatkan salinan-salinan perak dengan pasangan kata serupa untuk berbagai keperluan.
Karena proses produksi “cipta-perak” membutuhkan bahan baku perak yang sangat besar, mau tidak mau Inggris harus mendatangkan perak dari negara-negara lain. Melalui proses perdagangan bebas yang penuh kecurangan dan pengelabuan, Inggris berhasil mengeruk perak dari negara-negara dunia ketiga seperti India dan Tiongkok.
Perdagangan Bebas dan Kolonisasi
Proses perdagangan antarnegara itu tentunya membutuhkan ahli negosiasi yang andal dan penerjemah yang terampil. Itulah alasan Inggris selalu mencari orang-orang asli dari negara tujuan dagang tersebut untuk dididik dan akhirnya dipekerjakan sebagai penerjemah resmi Imperium Inggris.
Tugas mereka sebenarnya adalah membantu negosiasi yang berat sebelah itu untuk selalu dimenangkan oleh Inggris. Jika negara tujuan tidak setuju, Inggris akan siap memerangi negara tersebut untuk selanjutnya dikolonisasi dan ‘diberadabkan’.
Untuk mencari mahasiswa yang memenuhi kriteria, para profesor bahasa di Oxford melakukan perjalanan ke timur jauh dan negara-negara dunia ketiga. Di sana mereka mencari anak kecil yatim piatu untuk diadopsi. Mereka dibawa ke inggris, diberi identitas baru, dan dididik dengan disiplin untuk mempelajari bahasa Inggris, Latin, dan Yunani. Setelah beranjak dewasa, anak-anak hasil adopsi itu diberi beasiswa untuk kuliah di Oxford dengan jurusan penerjemahan.
Hermes dan Dekolonisasi
Awalnya, Robin yang didatangkan Profesor Lovell dari Kanton, Tiongkok, tidak menyadari bahwa semua proses pendidikan ini dibangun dari proses eksploitasi, peperangan, dan kolonisasi. Begitu juga dengan dua teman seangkatannya, yaitu Ramy dan Victorie yang masing-masing berkebangasaan India dan Haiti.
Teman lainnya yang berkebangsaan Inggris, Letty, juga menganggap pendidikan penerjemahan ini sebagai tugas mulia untuk memahami dunia, menyatukan perbedaan bangsa-bangsa, dan juga memajukan ilmu pengetahuan.
Hingga pada suatu hari, datanglah kelompok Hermes dalam kehidupan mereka. Kelompok hermes adalah kakak angkatan Robin di Babel yang telah menyingkap kebusukan politik penerjemahan di Inggris yang berpusat di Babel, Oxford. Mereka mengarang kematian dirinya sendiri, menjadi anonim, untuk selanjutnya membuat gerakan bawah tanah dan berjejaring dengan gerakan antikolonialisme di Inggris dan seluruh dunia.
Setelah melewati awal yang meragukan, akhirnya Robin dan seluruh teman angkatannya di semester akhir mengikuti perjuangan kakak-kakak tingkatnya untuk melawan Imperialisme Inggris dari bawah tanah.
Mereka mulai mengikuti agenda-agenda tersembunyi Hermes untuk mencuri “cipta-perak”, literatur, dan surat-surat dari Babel untuk menyabotase dan menghambat laju Imperialisme Inggris. Tentunya perjuangan itu adalah tugas berbahaya karena Babel dilengkapi dengan perangkat keamanan rahasia yang mematikan.
Baca juga:
R.F. Kuang berhasil memadukan cerita konspirasi yang detail dan mendebarkan ala Dan Brown, latar sosial-budaya Inggris era 1930-an ala Charles Dickens, dan juga pendalaman batin tiap karakter ala Fyodor Dostoyevsky.
Pengalaman akademiknya di studi Tiongkok di Cambridge, Master Science Tiongkok Kontemporer di Oxford, juga studi doktoralnya dalam Bahasa dan Sastra Timur di Yale memperkaya substansi benang merah cerita tentang seluk beluk penerjemahan antar bahasa, dunia keilmuan dan proses kolonialisme Imperium Inggris.
Editor: Prihandini N
