Sastrawan kenamaan asal Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, pernah menghadirkan sebuah adagium populer “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Adagium ini seolah-olah menjadi sihir lewat kalimat yang mampu mendorong seseorang untuk ikut terlibat dalam pekerjaan rumit: menulis. Ditambah tafsiran para khalayak yang ramai-ramai ikut memaknai ungkapan tersebut. Bisa dibayangkan, betapa kayanya pemaknaan terhadap satu kalimat ajaib milik Pramoedya itu.
Pram –panggilan karib Pramoedya– diyakini betul oleh penulis, memiliki kesadaran penuh sewaktu melahirkan adagium fenomenal itu. Kesadaran ala Pram demikianlah yang coba ditularkannya kepada khalayak luas. Pram secara alamiah, mengajak siapa saja untuk larut dan terlibat dalam dimensi eksistensi manusia yang paling dasar, yaitu berekspresi.
Manusia dan Kebutuhan Berekspresi
Sependek pemahaman penulis, ada kait paut yang erat antara dua hal berlainan dalam adagium Pram, yakni manusia dan ekspresi. Manusia sebagai makhluk yang dilengkapi piranti paling lengkap ketimbang makhluk lain, tentu membutuhkan ruang untuk menyampaikan ekspresi. Dalam khazanah literasi sastra, puisi dianggap sebagai ruang ekspresi paling ringan–meskipun sebetulnya tidak–untuk diproduksi. Lantas, setelah puisi tercipta, atau ruang ekspresi telah terisi, hal apalagi yang perlu manusia penuhi?
Pertanyaan demikian tampaknya selalu muncul dalam ruang berpikir manusia-manusia penganut eksistensialis. Manusia semacam ini, jika diukur melalui teori aliran kesadaran ala Sigmund Freud, berada dalam tahap sadar secara utuh. Kesadaran penuh dalam koridor eksistensialis adalah sebuah kebaikan yang harus senantiasa diupayakan. Manusia eksistensialis paham betul apa yang mesti ia lakukan selagi masih hidup. Lagi-lagi soal berekspresi. Dalam konteks ini, ekspresi kaum eksistensialis dipandang oleh penulis, sebagai ungkapan syukur kepada Maha Pemberi Hidup.
Manusia punya banyak ruang ekspresi untuk menjalani laku hidup. Dua di antaranya adalah bahasa dan sastra. Lewat dua medium tersebut pikiran, emosi, gagasan, dan perasaan manusia, dapat dicurahkan dengan tuntas pun leluasa. Dimensi-dimensi inilah yang penulis temukan dalam dua antologi kembar–tapi beda–berjudul Dari Balik Bilik dan Perjumpaan Batin.
Kebebasan Tema
Dua antologi yang diterbitkan oleh Nasya Expanding Manajemen ini mencakup beberapa tema besar yang mengerucut pada pembahasan spesifik soal pola hidup, tentang keintiman, pembicaraan mengenai lingkungan alam, dan realitas sosial politik yang terjadi di dalam sebuah negara. Keragaman pokok pembahasan yang tersaji dalam antologi ini mengesankan kalau tema-tema yang muncul cenderung masih luas. Namun perlu dimahfumi bersama, ketiadaan pembatasan isu inilah yang membentuk karya ini menjadi gemuk dalam tema.
Penulis mencoba sedikit memaknai cuplikan puisi yang tersaji dalam dua antologi yang lahir pada permulaan Juli lalu. Menggunakan pendekatan Hermeneutika ala Gadamer, penulis berusaha menyelami beragam kemungkinan makna yang membayangi puisi-puisi ini. Pada tiga puisi awal dalam buku Dari Balik Bilik misalnya. Puisi berjudul Prolog, Dialog, dan Epilog yang terdapat di halaman 1-3, ibarat siklus dalam ritus hidup manusia. Prolog adalah kelahiran. Dialog identik dengan pertumbuhan dan perkembangan. Sementara epilog serupa akhir hayat. Malihatul Amaliyah, si penulis puisi ini, barangkali sedang mendeskripsikan perjalanan hidupnya sendiri sebagai seorang hamba yang mencari ketenangan batin agar kelak bisa “pulang” dengan nyaman. Penegasnya adalah ia bersuka cita melalui prolog dan bermain diksi ketuhanan secara dominan pada puisi dialog dan epilog.
Baca juga:
- Menyelami Alam Puisi Mochtar Pabottinggi
- Puisi dan Letupan Kesadaran Personal: Catatan Prapen Puisi
- Buku Panduan Mencipta Puisi Bagi Pemula
Masih membahas buku yang sama, soal sajian keintiman, penulis mencoba memaknai sebuah puisi di halaman 4 yang berjudul Sepotong Roti Bakar yang Dingin di Malam yang Hangat. Keintiman ini tampak pada Roti Bakar yang menjadi simbolisasi kehangatan keluarga dan penguat relasi antara anggota keluarga dengan pemimpinnya. Safrida H.A., yang menulis puisi ini, secara terang-terangan berusaha meromantisasi hubungan anak dan ayah tercintanya. Sebuah model ala keluarga cemara yang tidak semua keluarga punya kesempatan untuk melakukannya. Keintiman lain juga tampak pada puisi yang ditulis oleh Sayoutee Alee dalam buku Perjumpaan Batin. Melalui tiga puisinya yang nangkring di halaman 6-8, cukuplah memberi gambaran singkat tentang betapa rindunya si penulis puisi itu dengan kampung halaman dan orang tuanya. Pembaca lainnya barangkali juga bisa menebak dari mana penulis puisi itu berasal dengan mencermati nama yang melekat pada diri penulisnya.
Selanjutnya soal lingkungan alam. Puisi-puisi dengan tema demikian cukup bertebaran dalam dua antologi ini. Rata-rata, para penulis puisi ini mengetengahkan ihwal keindahan ciptaan Tuhan dengan memberi pujian dan sesekali merawat ingatan pada tempat yang pernah dikunjunginya melalui catatan. Semacam kenangannya kepada gunung, rimbunnya pepohonan di hutan, dan memori laut beserta ombaknya yang tiada habis untuk dibicarakan. Saya pikir ini hal yang positif sekaligus wajar jika tema kritis demikian diangkat oleh penulis puisi masa kini. Sebab kalau bukan Gen Z sendiri yang menyuarakan tentang nasib lingkungannya, lantas siapa lagi?
Kemudian, isu realitas sosial politik di sebuah negara, menjadi tema dominan lainnya yang juga dituangkan oleh para penulis puisi dalam dua antologi ini. Mengapa bisa demikian? Jawabannya tentu karena keterlibatan mereka di dunia aktivisme yang berhasil menghidupkan kepekaan dan kejelian atas persoalan sosial dan politik bangsa. Keberanian dalam mengungkap praktik kesenjangan realitas sosial politik ini juga tidak terlepas dari peran para penulis yang juga sebagai agent of change. Sebuah aforisme kodrati yang melekat dalam diri seorang mahasiswa.
Terakhir, penulis dalam apresiasi mini ini bukannya sok tahu. Apalagi sampai melabeli diri sebagai peramal ulung atas makna yang melekat pada puisi-puisi dalam antologi Dari Balik Bilik dan Perjumpaan Batin. Penulis hanya sedang berpegang pada kaul Hermeneutika yang dipopulerkan oleh Georg Gadamer bahwa “Teks yang sudah dipublikasi, bukan lagi menjadi milik si penulis, melainkan juga milik pembaca.” Maka sebagai pembaca yang baik, penulis berusaha untuk menjalankan tugasnya dengan cara mengkaji teks-teks, menggali, dan memaknai setiap makna yang tersembunyi di balik larik-larik tulisannya. (*)
Editor: Kukuh Basuki
