Ada berbagai macam cara kita (manusia) merespon penderitaan, duka dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Tubuh sebagai sesuatu yang begitu akrab dan dekat dengan diri kita adalah yang paling awal merasakan perasaan apapun yang sedang dan akan dialami. Tubuh, sebagai entitas fisik dan emosional, berada di antara kesenangan dan kesedihan—perasaan keduanya berkelidan setiap hari—sepanjang waktu, namun, peran tubuh sering kali diremehkan akibat bias budaya, tradisi atau normalisasi acap kita amini—yang cenderung menempatkan tubuh di bawah jiwa. Tubuh kita terdiri dari banyak fragmen dengan kesadaran fisik sebagai lapisan yang paling umum. Kesadaran ini membatasi ingatan kita dan pengetahuan kita pada pengalaman hidup, trauma, kedukaan yang dialami.
Dalam Phenomenology of Perception, Maurice Merleau-Ponty memberikan pemahaman perihal konsep tubuh yang sering disalahpahami. Kesalahpahaman ini berakar pada pandangan dualistik yang memisahkan jiwa dan tubuh. Jiwa atau kesadaran, sering dianggap terpisah dari pengalaman indrawi, padahal tubuh dan jiwa manusia adalah kesatuan yang tak terpisahkan.
Sebagai manusia, kita begitu akrab dengan duka dan kedukaan. Ketika duka hadir, biasanya kita bersedih dan menangis, lalu berusaha melanjutkan hidup—dengan berbagai metode untuk terus bertahan. Namun, bagi seorang penyair, duka memiliki makna yang lebih dalam. Seperti dalam buku puisi Tubuhmu, Tempat Penampungan Duka yang ditulis Arifin Muhammad, duka menjadi pusat perenungan yang lebih luas. Buku puisi yang pertama kali diterbitkan pada September 2024—yang diterbitkan Endnote Pres dengan 34 puisi di dalamnya—yang banyak berbicara tentang penderitaan manusia, duka, rasa sepi, kehampaan. Salah satunya, di halaman 10, terdapat puisi berjudul Padamkan Perlahan Mataku;
terjeratlah kau pada selangkangan
ketika perlahan darah menggumpal
dan hidup manusia
tumbuh memendam tangis
dan mati ditangisi
seseorang barangkali telah memilihmu
menjadikanmu pelapis bagi kecemasannya
dari tubuh yang tak pernah bisa dipahaminya
telungkup ia pada tubuhmu
dan kau menemulkan pelapis bagi kecemasannya
dari tubuh yang tak pernah bisa dipahaminya
telungkup ia pada tubuhmu
dan kau menemukan bayangan
dirimu pada kedalaman matanya
jika mata ada untuk melihat
hati diletakan paling dalam
untuk meneranginya
dengan sayup kau berdoa;
padamkan perlahan mataku
jika yang kau temukan dalam dirinya
hanya kecintaan pada bentuk semata
Puisi di atas dibuka dengan imaji yang kuat, terjeratlah kau pada selangkangan, frasa ini mengisyaratkan keterikatan antara pengalaman fisik dan emosional manusia. Dalam konteks ini, tubuh bukan hanya sebagai wadah fisik, tetapi juga sebagai entitas yang menyimpan trauma dan kesedihan. Penggambaran tentang /darah menggumpal/ dan /hidup manusia tumbuh memendam tangis/ menunjukkan bahwa penderitaan sering kali tersembunyi di balik permukaan kehidupan yang terlihat normal.
Namun, catatan saya, beberapa imaji pada puisi Padamkan Perlahan Mataku, seperti /terjeratlah kau pada selangkangan/ dan /darah menggumpal/ dapat membingungkan pembaca. Meskipun imaji ini barangkali dimaksudkan untuk menggambarkan rasa sakit dan trauma, namun, cara penyampaiannya yang terlalu metaforis sehingga menyebabkan kehilangan makna bagi pembaca awam—yang tidak terbiasa dengan gaya tersebut. Ada kompleksitas dalam hubungan manusia, di mana satu individu mencari pengertian dan perlindungan melalui kedekatan fisik. Frasa /kau menemukan bayangan dirimu pada kedalaman matanya/ menggambarkan bagaimana kita dapat melihat dan merasakan duka orang lain, mengajak kita untuk memahami keterkaitan emosional dalam pengalaman penderitaan seseorang.
Baca juga:
- Ryosuke Kiyasu: Merayakan Emosi Manusia dalam Tabuhan Drum
- Sirkus Emosi dalam And So The Baton is Passed
Arifin mengajukan pertanyaan filosofis mengenai fungsi mata dan hati. /jika mata ada untuk melihat / hati diletakan paling dalam untuk meneranginya/ yang menyoroti dualisme antara penglihatan dan perasaan. Apa yang terlihat di permukaan sering kali tidak mencerminkan apa yang sebenarnya dirasakan di dalam diri manusia. Duka kadang-kadang tersembunyi di balik senyuman yang palsu. Meskipun, puisi ini menyentuh tema duka, beberapa bagian terasa datar atau kurang menggugah emosi. Misalnya, pengulangan frase dari tubuh yang tak pernah bisa dipahaminya dapat dirasa berlebihan dan membuat nuansa menjadi monoton. /padamkan perlahan mataku / jika yang kau temukan dalam dirinya / hanya kecintaan pada bentuk semata,” memberikan keraguan dan kerentanan. Namun, ambiguitas dalam pernyataan ini akan membuat pembaca bingung tentang makna yang ingin disampaikan. Apakah ini mengekspresikan keputusasaan atau harapan?
Pada akhirnya puisi, /padamkan perlahan mataku / jika yang kau temukan dalam dirinya / hanya kecintaan pada bentu semata/, menciptakan nuansa kerentanan. Arifin mengungkap keinginan untuk melepaskan beban duka, namun dengan skeptisisme yang mungkin tampak dangkal jika tidak disertai eksplorasi yang mendalam.
Selanjutnya di halaman 19 di buku kumpulan puisi ini, terdapat puisi yang berjudul tubuhmu, tempat penampungan duka, yang juga menjadi judul utama kumpulan puisi ini—yang ditulis dengan huruf kecil semua—saya paham alasan mengapa tidak ada penggunaan huruf kapital di buku puisi—tentu ingin menjaga estetika—hingga struktur fisik di semua halaman di kumpulan puisi ini menggunakan huruf kecil. Penggunaan huruf kecil secara konsisten merupakan pilihan estetis yang menarik, tetapi dalam konteks ini, dapat membuat pembaca kesulitan untuk menangkap keintiman dan kedalaman makna. Meskipun niatnya barangkali untuk menciptakan kesan egaliter, hal ini bisa mengaburkan nuansa yang lebih mendalam yang seharusnya bisa dihadirkan melalui pemilihan huruf kapital pada judul. Kembali pada satu puisi yang menjadi judul kumpulan puisi ini—tubuhmu, tempat penampungan duka.
engkau masih berpandang-pandangan
dengan bayangmu yang mengecil
sedang hidup barangkali siasat menemukan diri
sesuatu di masa lampau yang tak tersentuh
tubuhmu, tempat penampungan duka
di sana engkau menengelamkan satu persatu
yang telah padam dalam dirimu
merelakan segala yang tak bisa jadi milikmu
di sana engkau meraba ruang terdalam yang
lama tak tersentuh ingatan dan nama, barangkali
masih ada sisa-sisa debar di ruang sana
di sana engkau menemukan kepingan-kepingan
dirimu yang berhamburan
retak dan retak, tetapi ia bertahan
meski di kemudian hari
kehampaan senantiasa membuntutimu ke manapun.
Puisi Tubuhmu, Tempat Penampungan Duka mencoba untuk mengajak kita memahami duka tidak hanya sebagai perasaan yang datang dan pergi, melainkan sebagai sesuatu yang melekat dalam tubuh kita. Sewaktu-waktu kedukaan itu hadir kembali ke diri kita—dalam bentuk yang lain atau dalam suasana yang lain. Duka, dalam pandangan Arifin dalam puisinya merupakan bagian tak terpisahkan dari eksistensi manusia, sebab tubuh menjadi tempat di mana perasaan itu tersimpan dan diolah. Puisi ini menggambarkan kedalaman pengalaman Arifin sebagai manusia dalam menghadapi penderitaan—sekaligus mengajak kita sebenarnya untuk merespon duka bukan sebagai sesuatu keputusaan belaka. Namun, puisi ini menyentuh tema duka yang terinternalisasi, namun penjelasan tentang /ruang terdalam yang lama tak tersentuh/ dan /sisa-sisa debar/ terasa agak kabur.
Baca juga:
Ungkapan ini, meski puitis, bisa menjadi lebih tajam dengan lebih banyak konkretisasi atau gambaran visual yang kuat agar pembaca bisa lebih mudah terhubung dengan emosi yang ingin disampaikan. Pengulangan frasa seperti /retak dan retak/ bisa diartikan sebagai teknik untuk menguatkan perasaan kehampaan, namun juga berisiko membuat pengalaman emosional terasa repetitif. Meskipun puisi ini menggambarkan tubuh sebagai /rumah/ yang menampung duka, tidak ada elemen yang cukup memberikan konteks atau latar belakang yang mendalam tentang pengalaman atau budaya yang membentuk duka itu sendiri.
Sebagai sebuah karya sastra, buku puisi ini tentu saja menawarkan perseptif yang baru dalam hal merespon duka kita sebagai manusia. Dalam buku puisi Arifin mengajak kita untuk menyelami lebih dalam bagaimana tubuh memendam duka sepanjang hidup, namun juga bagaimana duka itu menjadi bagian dari perjalanan manusia menuju pemahaman yang lebih dalam tentang dirinya sendiri—toh pada akhirnya kita akan mengalami kedukaan itu—seiring usia kita bertambah, bahkan kita tidak melihat secara langsung dan setia hati orang yang melahirkan kita menua.
Terakhir, buku puisi ini menempatkan tubuh sebagai pusat narasi penderitaan manusia. Arifin tidak hanya menawarkan eksplorasi emosional belaka, tetapi juga memberikan ruang bagi pembaca untuk merenungkan bagaimana tubuh dan jiwa bekerja sama dalam mengelola atau menghadapi duka. Kita diajak—paling tidak diri saya, untuk memandang tubuh bukan hanya sebagai wadah fisik semata, melainkan sebagai rumah yang memelihara dan menampung setiap perasaan-perasaan yang kita alami—termasuk duka yang paling dalam—kehilangan orang-orang yang paling kita sayangi. (*)
Editor: Kukuh Basuki