Mahasiswa Sosiologi Univ. Airlangga

The Worst Person in the World: Pencarian Identitas Diri dalam 12 Babak

jihan adila rahmi

2 min read

Apa yang terjadi ketika seseorang terus berubah arah dalam hidupnya? Apakah itu bentuk ketidakkonsistenan, atau justru kejujuran terhadap diri sendiri? The Worst Person in the World (Joachim Trier, 2021) tidak memberikan jawaban tunggal atas pertanyaan itu. Film ini justru mengajak penonton menyelami kompleksitas proses menjadi dewasa yang tidak selalu rapi, tidak selalu masuk akal, dan sering kali membingungkan.

Tokoh utamanya, Julie, bukan sosok yang telah “menemukan dirinya.” Ia justru sedang berada di tengah-tengah proses pencarian, pembentukan, dan penyesuaian. Melalui tokoh ini, film memberi ruang untuk merenungkan bagaimana identitas dibentuk: bukan sesuatu yang statis, melainkan terus berkembang seiring pengalaman, pilihan, dan konteks sosial yang berubah.

Julie dan Pencarian Makna di Tengah Kemungkinan

Julie digambarkan sebagai perempuan usia awal 30-an. Pintar, mandiri, punya banyak potensi. Ia sempat kuliah kedokteran, lalu pindah ke psikologi, lalu ke fotografi, lalu menulis esai tentang seksualitas perempuan. Tapi lebih dari soal karier, film ini bicara tentang bagaimana sulitnya menjadi seseorang yang selalu mencari tahu siapa dirinya di dunia yang meminta untuk terus berubah, cepat, dan berhasil.

Baca juga:

Dalam dunia yang memberi banyak kebebasan namun juga ekspektasi tinggi, Julie mencerminkan generasi yang tidak kekurangan pilihan, tapi justru dibebani oleh keharusan untuk memilih “dengan benar.” Ia ingin merasa berarti, tapi belum tahu bentuk “bermakna” seperti apa yang paling ia yakini.

Kita sering tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup bisa dirancang. Bahwa setelah lulus, kita akan kerja, menikah, punya anak, dan merasa “jadi orang.” Tapi buat Julie, urut-urutan itu justru terasa menekan.

Relasi dan Keintiman: Mencari Diri di Tengah Dua Nama

Julie memang pernah berpindah-pindah dalam relasi, tapi film ini memilih memfokuskan kisah pada dua tokoh utama: Aksel dan Eivind.

Bersama Aksel—seorang komikus yang lebih tua, mapan, dan tahu betul arah hidupnya—Julie mencoba menyelami ritme hidup yang stabil. Aksel ingin rumah, anak, dan masa depan yang tenang. Julie tidak langsung menolak, tapi ia merasa belum sampai ke titik yang sama. Ia hadir dalam hubungan itu, namun ada jarak yang tak ia mengerti.

Kemudian datang Eivind, lelaki muda yang lebih spontan, ringan, dan “apa adanya”. Bersamanya, Julie merasa lebih hidup, lebih bebas, dan terhubung dengan sisi dirinya yang mungkin lama tertahan. Namun bahkan Eivind bukan jawaban. Ia tidak datang sebagai solusi, hanya penanda bahwa pencarian Julie masih terus berjalan.

Apa yang ditawarkan film ini bukan kisah cinta segitiga, tapi refleksi tentang pertanyaan yang lebih dalam: apa sebenarnya yang aku cari? Dan sering kali, pertanyaan itu tidak dijawab oleh orang lain—melainkan oleh waktu, oleh hidup yang berjalan perlahan.

Seksualitas, Tubuh, dan Eksperimen Identitas

Salah satu babak penting dalam film adalah ketika Julie menulis esai tentang seksualitas. Tapi yang penting bukan hanya isi esainya, melainkan bagaimana film ini memberi ruang bagi seseorang untuk mengenali tubuh, keinginan, dan hasratnya—tanpa merasa bersalah atau salah tempat.

Di titik ini, pengalaman Julie bisa dibaca sejalan dengan pemikiran Judith Butler, bahwa identitas bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan performatif: dibentuk melalui tindakan, pilihan, dan interaksi sosial yang terus berubah. Julie tidak sedang memerankan satu versi diri yang ideal. Ia justru terus mencoba, mengalami, dan menunda keputusan—sebuah bentuk keberadaan yang cair, bukan lemah.

Baca juga:

Butler menyebut bahwa tindakan yang melampaui batasan norma, meski tidak frontal, bisa menjadi bentuk subversi. Julie tidak melawan sistem secara terbuka, tapi ia juga tidak tunduk sepenuhnya. Ia bergerak pelan, dengan kebingungannya sendiri—dan itu pun sah.

Ruang, Waktu, dan Kota yang Sunyi

Film ini dibingkai dalam dua belas babak, plus prolog dan epilog. Strukturnya terasa seperti membaca catatan harian—tidak selalu logis secara waktu, tapi jujur secara emosi. Salah satu adegan paling mengesankan adalah saat waktu membeku dan Julie berlari di antara jalanan Oslo yang kosong. Momen itu menjadi metafora yang kuat: keinginan untuk jeda dari dunia, untuk memilih tanpa dihantui konsekuensi.

Kota Oslo, dengan warna-warna dingin dan atmosfer sunyi, menjadi cerminan dari batin Julie: tidak gaduh, tapi mengandung ketegangan yang mendalam.

 Akhir yang Biasa, Tapi Penuh Kehadiran

Di akhir film, Aksel divonis sakit parah. Julie datang, bukan untuk kembali, tapi untuk hadir. Mereka berbicara tentang musik, benda-benda kecil, kenangan masa lalu. Tidak ada keputusan besar. Tapi justru dari situ, muncul perasaan yang utuh: bahwa hadir dalam hidup tidak selalu berarti menyelesaikan sesuatu. Kadang, cukup dengan berada di sana.

Julie tidak menemukan panggilan besar. Ia tidak kembali ke Aksel, tidak juga menetap bersama Eivind. Ia hanya menjalani hari—bekerja sebagai fotografer lepas, menyeduh kopi, menatap ke luar jendela. Tapi ia tampak hadir sepenuhnya. Ia tidak lagi berpura-pura. Ia hanya menjadi dirinya yang sedang belajar.

The Worst Person in the World tidak bicara tentang menjadi orang terbaik, atau menemukan versi hidup yang sempurna. Film ini justru merayakan kebingungan, sebagai bagian dari keberadaan yang wajar. Julie, dalam banyak cara, mewakili banyak orang di usia serupa—yang merasa bebas tapi juga tersesat, yang punya pilihan tapi juga takut salah langkah. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

jihan adila rahmi
jihan adila rahmi Mahasiswa Sosiologi Univ. Airlangga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email