Seni dan budaya bukan sekadar medium ekspresi, tetapi juga ruang negosiasi dan perlawanan bagi mereka yang tersisih. Dalam konteks ini, pendekatan feminis menawarkan cara untuk membaca kembali praktik seni yang kerap dimaknai sekadar sebagai ekspresi estetika.
Buku Membisikkan Bekal untuk Perjalanan yang Sangat Jauh: Pendekatan Feminis dalam Kerja Seni Budaya menggali bagaimana seni dapat menjadi wahana kritik terhadap struktur yang menekan, sekaligus ruang bagi perempuan untuk menegosiasikan identitas, tubuh, dan pengalaman mereka. Dengan menelisik berbagai bentuk seni—dari seni pertunjukan hingga praktik keseharian—buku ini mengajak kita untuk memahami bagaimana kerja seni tidak hanya berbicara tentang keindahan, tetapi juga tentang politik, pengalaman personal, dan perlawanan yang sering kali sunyi.
Tenun Sumba: Perlawanan dalam Setiap Helai Benang
Karya seni perempuan yang tumbuh dan berkembang dalam ruang domestik kerap dipinggirkan dari pusat kebudayaan dunia. Seni tradisi atau bentuk ekspresi yang tidak selaras dengan konstruksi maskulin tentang kejeniusan sering kali direduksi menjadi sekadar kerajinan tangan. Pendekatan feminis mengkritik gagasan bahwa seni adalah ranah eksklusif yang menjunjung tinggi kreativitas individual dan imajinasi seorang seniman.
Baca juga:
Sejarawan seni Linda Nochlin mempertanyakan bias ini dalam esainya yang terkenal, Why Have There Been No Great Women Artists? (1971), dengan menyoroti bagaimana kategori fine art telah tergenderkan, menentukan siapa yang diakui sebagai seniman dan alat serta metode apa yang dianggap sahih. Akibatnya, perempuan, masyarakat adat, dan kelompok minoritas tersingkir dari narasi besar seni.
Konsep art for art’s sake, yang mengutamakan estetika murni tanpa mempertimbangkan nilai guna, semakin mempersempit definisi seni. Karya dengan fungsi praktis, seperti furnitur atau tenun, diklasifikasikan sebagai craft dan tidak diakui sebagai high art. Pemisahan ini mengandung bias terhadap nilai guna serta mengabaikan kerja kolektif yang sering diasosiasikan dengan perempuan.
Dikotomi ini tampak jelas dalam cara kita membayangkan tenun. Sebut saja tenun Sumba—serta-merta muncul citra perempuan yang tekun menenun, sementara pertanian lebih sering dikaitkan dengan laki-laki yang mencangkul tanah. Imajinasi ini lahir dari konstruksi sosial yang meneguhkan peran gender dalam produksi seni dan kerja artistik. Namun, di balik setiap helai tenun tersimpan sejarah panjang perlawanan dan keberlanjutan. Appu Banja Uru, seorang penenun di Kambera, bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga mewariskannya kepada anaknya, Adriana R. Kahi. Bagi mereka, menenun bukan sekadar soal estetika, melainkan cara untuk tetap terhubung dengan alam.
“Saya harus jaga alam, karena itu pesan leluhur,” ujar Appu Banja Uru. “Alam sudah baik dengan kita, kita juga harus baik dengan alam. Warna-warna tanaman itu yang membuat tenunan ini jadi indah. Motif-motifnya jadi indah dan bisa menceritakan sesuatu kepada kita.”
Namun, perubahan zaman membawa tantangan baru. Perkembangan teknologi dan akses pasar yang semakin luas telah menggeser posisi perempuan penenun dalam rantai ekonomi. Di Pasar Waingapu, misalnya, kain-kain tenun lebih banyak diperdagangkan oleh laki-laki, sementara perempuan yang telah menghabiskan waktu berbulan-bulan menenun justru tersisih dari transaksi ekonomi.
Meski demikian, perempuan penenun Sumba tetap teguh mempertahankan tradisi mereka. Mereka menolak produksi massal dan pewarna sintetis yang merusak keseimbangan ekosistem, memilih bertahan dengan bahan alami yang diwariskan turun-temurun. Keteguhan ini bukan sekadar kebanggaan, melainkan juga bentuk perlawanan terhadap sistem yang mereduksi tenun menjadi sekadar komoditas tanpa memperhitungkan nilai spiritual dan filosofisnya.
Di tangan mereka, tenun bukan hanya selembar kain, melainkan arsip sejarah, warisan kearifan, dan suara yang terus berbicara—tentang perempuan, tanah, dan kehidupan yang saling bertautan dalam harmoni yang tak boleh diputuskan.
Nada-nada Sunyi: Pesinden Netra dalam Bayang Stigma
Di sisi lain, ada bentuk ekspresi yang lebih halus, lebih sunyi, tetapi tetap bermakna. Di balik panggung kesenian Jawa, suara-suara perempuan pesinden netra bergema sebagai bentuk perlawanan senyap terhadap patriarki dan stigma sosial. Maria Tukinem dan Sri Suparmi, dua pesinden dari Surakarta dan Sukoharjo, menghadapi keterbatasan bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai bagian dari perjuangan mereka dalam dunia seni yang didominasi laki-laki.
Maria Tukinem (80) mulai belajar seni di Pemalang sejak remaja, sementara Sri Suparmi (49) bersekolah di Sekolah Rehabilitasi Penderita Cacat Netra (SRPCN) pada usia 13 tahun. Namun, sistem pendidikan segregasi yang mereka jalani mencerminkan politik penamaan yang diskriminatif, menempatkan penyandang disabilitas sebagai kelompok terpisah yang dianggap kurang berdaya. Ini semakin diperparah oleh stigma ganda yang mereka hadapi: sebagai perempuan dan sebagai individu disabilitas.
Baca juga:
Maria Tukinem mengalami kebutaan sejak kecil setelah insiden seseorang melempar pasir kearah matanya. Namun, ia menolak dikerdilkan oleh keadaan. Baginya, nama adalah identitas yang membawa keberkahan, sehingga ia lebih suka dipanggil dengan nama pemberian orang tuanya daripada nama suaminya. Di atas panggung, ia tidak merasa berbeda dari pesinden lain—setiap gending telah ia hafalkan di luar kepala.
Sementara itu, Sri Suparmi kehilangan penglihatannya akibat kesalahan pengobatan saat kecil. Ia menyayangkan semakin terkikisnya seni karawitan yang tergantikan oleh musik organ tunggal. Namun, ia tetap berpegang teguh pada macapat dan langgam, menolak mengikuti arus modernisasi yang mengabaikan tradisi. Menjaga kualitas suara menjadi prioritasnya, dengan pola hidup sederhana: menghindari minuman dingin dan rutin minum air hangat.
Sayangnya, ruang-ruang seni masih belum ramah bagi penyandang disabilitas. Banyak gedung pertunjukan tanpa fasilitas aksesibilitas, dan keberadaan pendamping sering kali membuat mereka dianggap tidak mandiri. Hal ini sejalan dengan konsep inspiration porn yang dikritik oleh aktivis Stella Young—di mana penyandang disabilitas lebih sering dipandang sebagai objek belas kasihan atau inspirasi semata, alih-alih diakui sebagai seniman profesional dengan kemampuan setara.
Namun, Maria Tukinem dan Sri Suparmi membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang. Maria dengan kebanggaannya akan identitasnya, Sri dengan komitmennya menjaga seni tradisional—keduanya adalah simbol ketangguhan yang menolak terpinggirkan. Dalam nyanyi sunyi mereka, tersimpan suara perlawanan yang tak akan pernah padam.
Pleasure sebagai Perlawanan: Merayakan Tubuh di Ruang yang Tabu
Perlawanan terhadap norma sosial tidak hanya terjadi di ranah tradisional, tetapi juga merambah ke wilayah yang lebih personal: eksplorasi tubuh dan kenikmatan. Bagi Tama, kebebasan sejati terletak pada kemampuan seseorang mengekspresikan dirinya sepenuhnya. Kenikmatan bukan sekadar sensasi sesaat, melainkan bentuk resistensi terhadap kontrol atas tubuh dan hasrat. Dari gagasan ini lahirlah Pride Store dengan tagline “Resist with Style,” sebuah ruang yang tidak hanya menjual produk, tetapi juga menawarkan kebebasan bagi tubuh untuk dirayakan tanpa rasa takut.
Sebagai seniman, Tama menciptakan prostetik yang menyerupai bagian tubuh—dari penis dan payudara hingga mainan seks. Karya-karyanya bukan sekadar benda mati, melainkan medium yang menantang batas-batas sosial terkait tubuh dan identitas. Prostetik yang awalnya diciptakan sebagai alat medis kini mengalami transformasi menjadi seni yang menolak keterbatasan. Jika dunia film dan seni pertunjukan telah lama memanfaatkan prostetik sebagai bagian dari eksplorasi artistik, Tama memperluasnya sebagai bentuk perlawanan.
Dalam masyarakat yang menjadikan seks sebagai alat produksi keturunan, kenikmatan sering dikorbankan atas nama fungsi. Tubuh perempuan telah lama diperlakukan sebagai mesin reproduksi yang tugasnya melahirkan dan mengasuh. Sistem kapitalisme memperkuat dikotomi ruang domestik dan publik, serta melembagakan larangan terhadap seks yang tidak bertujuan reproduksi. Akibatnya, segala bentuk hasrat yang tidak mengarah pada prokreasi menjadi tabu, menempatkan seksualitas queer dalam posisi yang harus ditekan dan disingkirkan.
Tama memahami bagaimana perempuan sering kali terperangkap dalam struktur ini. Ia menuturkan bahwa perempuan diajarkan untuk melihat tubuh mereka sebagai pabrik yang terus berproduksi, tanpa kepemilikan atas dirinya sendiri. Jika perempuan cisgender saja mengalami marginalisasi, komunitas LGBTIQ+ menghadapi represi yang lebih kejam.
Audre Lorde dalam Uses of the Erotic: The Erotic as Power (1978) mengungkapkan bahwa erotisme telah lama dijadikan alasan untuk merendahkan perempuan. Hasrat yang seharusnya menjadi sumber kekuatan justru digunakan untuk menindas. Tama menegaskan bahwa “persamaan antara perempuan dan komunitas LGBTIQ+ adalah bahwa kita dibuat takut, dijauhkan dari diri kita sendiri”.
Pride Store hadir sebagai perlawanan terhadap narasi yang membatasi tubuh dan hasrat, sejalan dengan pemikiran Carol Hanisch dalam The Personal is Political (1970): bahwa apa yang terjadi di ruang privat selalu bersifat politis. Mengklaim kembali tubuh dan kenikmatan bukan hanya tentang kebebasan individu, tetapi juga perjuangan melawan sistem yang menindas.
Penutup
Buku Membisikkan Bekal untuk Perjalanan yang Sangat Jauh menghadirkan perspektif feminis yang membongkar anggapan bahwa seni hanyalah ranah estetika belaka. Ia memperlihatkan bagaimana seni juga merupakan ruang negosiasi, perlawanan, dan ekspresi identitas yang sering kali ditekan oleh struktur sosial yang patriarkal.
Melalui berbagai contoh, seperti tenun Sumba, pesinden netra, dan eksplorasi tubuh dalam seni kontemporer, kita diajak untuk memahami bahwa seni bukan sekadar objek pasif, tetapi juga alat politik yang mampu menggugat sistem yang membungkam suara perempuan dan kelompok minoritas. Dengan membaca buku ini, kita tidak hanya memahami seni dari sudut pandang estetis, tetapi juga sebagai strategi bertahan hidup dan melawan penindasan. (*)
Editor: Kukuh Basuki
