Setelah sukses bersama Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023), Yandy Laurens kembali menggarap film eksploratif lewat Sore: Istri dari Masa Depan (2025).
Sebagaimana Joko Anwar dengan Tara Basro dan Fahri Albar ataupun Quentin Tarantino bersama Samuel L. Jackson dan Uma Thurman, Yandy juga bekerja sama lagi dengan dua pemeran dalam film penting dia sebelumnya: Sheila Dara Aisha (Sore) dan Dion Wiyoko (Jonathan).
Baca juga:
Keduanya memerankan tokoh utama sebagai sepasang suami istri yang punya problematikanya sendiri. Sebagian besar adegan berlokasi di Kroasia, sesekali Finlandia juga Indonesia.
Film Sore berselang delapan tahun dari mini seri yang tayang tanpa manis berlebihan di Youtube. Diakui Yandy, proses delapan tahun sanggup mengubahnya dari seorang laki-laki lajang menjadi sutradara yang berkeluarga lengkap disertai anak.
“Aku Sore. Istri kamu dari masa depan.”
“Tahu enggak kenapa senja begitu menyenangkan? Kadang dia merah merona bahagia. Kadang dia hitam gelap berduka. Tapi langit selalu menerima dia apa adanya.”
Kumpulan kalimat repetitif yang mengantar penonton berkelana ke ruang dan waktu secara acak. Adegan berulang diiringi progresi yang menghibur, tapi ternyata percuma saja. Batasan masa kini dan masa lalu terasa kabur. Aurora. Pesan lamun.
Sepertinya sangat sedikit sutradara Indonesia yang bermain dalam lingkup romansa fiksi ilmiah. Beberapa film Hollywood tentu bisa disebut, semisal Eternal Sunshine & The Spotless Mind (2004) dan Her (2013) – yang punya padanannya di Indonesia dalam dua edisi Love for Sale. Para analis merujuk film Groundhog Day (1993) dan Your Name (2016) sebagai referensi kuat bagi Sore menceruk inspirasi.
Groundhog Day sangat katalis dalam pembahasan film dengan memanfaatkan gaya bertutur time looping. Bedanya, film yang dibintangi Bill Murray ini menawarkan ideologi Amerika untuk selalu hidup kompetitif. Hari tak akan terasa sama dan kegiatan tak jadi sebatas rutinitas, kalau seseorang melakukan lompatan-lompatan penting dalam perkembangan hidupnya. Carpe diem, seize the day.
Sedangkan Your Name atau Kimi No Na Wa jelas film anime yang karakternya bukan dimainkan manusia yang punya perasaan, ego, rasa lelah, dan tanggung jawab sosial. Kontrol serta merta di tangan penggambarnya, tanpa ada pendekatan interpersonal kompleks saat penggarapan adegan di lokasi syuting.
Dari segi penceritaan, penekanannya ada pada menyelamatkan dunia dari kehancuran, bukan relasi percintaan dua insan yang pada akhirnya pun tidak saling berkenalan. Terlampau berlebihan menganggap film Sore semacam skenario yang pantas dibuang Makoto Shinkai.
Apa yang kuat dari film ini tak lain premis berupa: Trauma masa kecil dan penikahan tak pernah sempurna. Perihal sci-fi dan time looping hanya kemasan yang membungkus ide tersebut dengan sinematika menawan.
Menyusun lini masa waktu secara linear atau menyajikan alternatifnya berdasarkan adegan sekadar perkara interpretasi masing-masing penonton film. Bagaimana kalau yang ada memang kesinambungan? Suatu putaran waktu yang terbangun tak utuh oleh kepingan memori, rasa terpendam, dan persepsi yang sering kali mengecoh.
Dua sudut pandang sepasang kekasih yang berbagi harapan dan khayal. Sesal tidak bisa mengubah keadaan, lantas terpaksa sesekali meratapi sisa kehidupan. Mungkin acap kali muncul kecewa, tapi banyak isi benak yang tidak bisa tersampaikan kata-kata.
Pengambilan gambar selalu simetris tatkala Sore dan Jo bersama. Bukan semata Wes Anderson-esque, melainkan membagi kesamarataan perspektif sepasang kekasih saat menjalin hubungan. Ketika berbincang di ranjang, menunggu dan duduk di dalam bus, berteduh di bawah pohon, dan lainnya.
Pernikahan dalam banyak kasus memang membuat hidup manusia terasa lebih bahagia. Riset Universitas Carnegie Mellon di Amerika Serikat menyebut, laki-laki dan perempuan yang menikah punya hormon stress (kartisol) cenderung lebih rendah daripada mereka yang belum menikah.
Pada suatu dimensi realitas ditampilkan Jo yang sukses mengubah gaya hidupnya menjadi lebih sehat dengan berolahraga, tidak kecanduan nikotin, dan mabuk-mabukan. Kehadiran Sore membuat batinnya terasa lengkap. Memiliki teman diskusi untuk memilih foto terbaik untuk bisa dipilih oleh donatur pameran. Menjadi selalu tahu langkah terbaik apa yang mesti diambil dalam kesulitan.
Namun, tidak ada pernikahan yang benar-benar sempurna. Sikap keras kepala dan rasa frustrasi Jo yang kerap kali menjadi penghalang dirinya berkembang ternyata didasari trauma masa kecil. Sialnya, ini tidak benar-benar dipahami Sore yang pada suatu dimensi lainnya berulang kali gagal berjumpa sosok Seno (Mathias Muchus), ayah Jo. Sejak Jo berusia empat tahun, dia meninggalkan keluarga untuk menikahi perempuan lain yang mengaruniainya anak laki-laki juga di Kroasia.
Ada satu detail yang sebetulnya bisa diperhatikan secara matang lagi untuk membuat jalan penceritaan rapi. Pada Satu Kakak, Tujuh Ponakan (2024), Yandy begitu mengesampingkan peran signifikan tetangga dalam tatanan sosial masyarakat Indonesia. Kehadiran mereka nihil dalam dua prosesi penting hidup bermasyarakat: Ketika momen kelahiran dan kematian. Pada dunia Sakatupo seakan tidak dikenal konsep semacam aqiqah dan tujuh harian. Tidak ada basa-basi tawaran ikut mengurus bayi dan repot-repot melakukan prosesi penguburan sampai tahlilan.
Ketiadaan itu seolah membuat perjuangan tokoh utama terlalu dramatis nyaris mengada-ada. Dia ditempatkan pada ruang hampa di mana hanya orang yang berhubungan saja yang perlu ditampilkan dalam penceritaan. Seakan-akan tidak sah untuk meminta pertolongan dari orang terdekat. Seakan-akan hanya tersedia kemungkinan tunggal untuk ditolak karena semata merepotkan.
Pada Sore, Yandy kurang memberi landasan kuat mengapa Kroasia dipilih sebagai lokasi film. Acap kali film Indonesia yang mengambil gambar di luar negeri punya argumen tebal – semisal destinasi favorit para pelajar: Negeri van Oranje (2015) & Ayat-Ayat Cinta (2008), tempat para eksil/tahanan politik: Surat dari Praha (2016) & Eksil (2023), serta citra terkenal kota internasional: Eiffel I’m in Love (2003) & Belok Kanan Barcelona (2018).
Kroasia belum pernah masuk dalam khazanah perfilman Indonesia. Hubungan diplomasi strategis kedua negara juga tidak terlalu diketahui masyarakat. Negara yang bukan menjadi top of mind destinasi kunjungan turis Indonesia. Selain para pemain timnas sepak bolanya yang mencapai final Piala Dunia 2018, Kroasia nyaris tidak memainkan peranan dalam lanskap budaya pop nasional.
Dari sini, maka tetaplah perlu menyediakan alasan kongkrit mengapa ayahnya pergi meninggalkan keluarga ke Kroasia untuk memulai kehidupan baru. Bukan sekadar jatuh hati dengan perempuan asal sana, karena jatuh cinta juga tidak serta-merta terjadi begitu saja.
Alasannya tidak perlu disampaikan secara eksplisit, melainkan bisa saja lewat peninggalan surat balasan sebagaimana biasa Jo lakukan (dari mana Jo tahu alamat ayahnya?), foto yang menunjukkan pekerjaan (misal sebagai diplomat), atau alasan yang lain memungkinkan interaksinya dengan perempuan Kroasia bisa terjalin (cinta lokasi saat liburan di Bali?).
Perihal sebatas Kroasia menyajikan arsitektur bangunan dan lanskap Balkan indah tentu bisa digantikan dengan lokasi lain di mana saja yang dianggap setara. Ambil contoh Irlandia, Selandia Baru, Serbia, IKN, atau lainnya. Kota Zagreb, Split, Dubrovnik, dan pedesaan-pedesaan di sana jelas memiliki daya tarik misterius yang begitu asing sebagaimana ditampilkan dalam serial Game of Thrones.
Tentu pasti ada keputusan menyangkut teknis yang penonton tidak ketahui, seperti kemudahan izin syuting, undangan kerja sama, atau sebatas menyamakan cerita mini seri.
Tetap saja alasan kuat dibalik itu perlu disampaikan lewat bahasa visual. Hal itu penting untuk mengokohkan fondasi penderitaan tokoh utama berdasarkan trauma masa kecilnya serta menjadi dasar logis kefasihan Sheila Dara dalam berbahasa Kroasia.
Yandy juga bisa menginvestasikan perhatian lebih pada peran cameo. Saat mencapai klimaks film, di mana Jo dan Sore berjumpa di pameran foto, seseorang figuran yang berperan sebagai penjaga pameran sama sekali bukanlah orang terkenal. Dia semacam seorang mahasiswa IKJ yang sedang bolos kuliah, lalu diajak tampil sebagai figuran. Tampil tanpa make-up dan tata busana sebanding yang menggambarkan dia seorang pekerja di bidang seni.
Baca juga:
Padahal karakter ini cukup penting, karena mengantarkan penonton ke adegan klimaks. Ada beberapa detik dia tampil di layar bersama Dion Wiyoko sebelum jabatan tangan menuju time travel kejadian.
Perannya bisa digantikan sosok lumayan terkenal, semisal komika yang hari-hari ini mengisi penuh layar lebar atau pemeran sinetron/film sci-fi lokal lain, seperti Jourast Jourdy yang pernah berperan sebagai Zidan dalam sinetron legendaris, Lorong Waktu. Seandainya ini diperhatikan, Sore bisa memberikan semacam special shout-out tidak langsung buat genre fiksi ilmiah nasional yang begitu jarang secara kuantitas apalagi kualitas.
Dua lagu Barasuara (‘Pancarona’ dan ‘Terbuang dalam Waktu’) mengambil peranan penting mendukung suasana adegan-adegan krusial. Secara mengejutkan memberi efek shoegazy tatkala realitas bertubrukan dengan imajinasi. Seolah dua lagu tersebut sedari awal dibuat dengan niat sebagai scoring film ini, padahal rilis jauh lebih dulu. Sementara suara vokal Adithya Sofyan seperti tongkat estafet yang turut mengaitkan mini seri dengan film layar lebar.
Ditutup lagu melodius kurang terkenal Sheila on 7, ‘Hingga Ujung Waktu’, demi mengecap rasa asing pada sesuatu yang sebetulnya familiar. Diperdengarkan bersamaan dengan credit title yang hadir di saat seisi bioskop mungkin telah mewek sesenggukkan.
Sore menyediakan perspektif yang adil bagi kedua tokoh utama dalam tiga pembabakan film. Bagian awal tentu tentang obsesi Jo menjadi fotografer elite yang berbicara tentang krisis iklim di Kutub Utara. Sembari mengumpulkan keberanian menuntut keadilan kepada ayahnya, dia turut ‘mengembara’ ke Kroasia. Menuntun penonton kepada fase berikutnya perihal harapan Sore bisa mengubah keadaan, membantu suami keras kepala keluar dari problematika, dan berakhir menjadi kepasrahan yang dia sadari tidak akan pernah bisa.
Fase akhir mengenai obsesi dan harapan keduanya saling bertubrukan. Pada zona waktu yang tidak sinkron berjumpa. Pada situasi-situasi yang musykil terulang kembali. Pada fragmen kenyataan yang tidak pernah ditemukan. Tersisa sesal mendalam yang tidak sanggup diutarakan.
Jadi, di mana sebetulnya Jo dan Sore pertama kali bertegur sapa? Pameran foto atau pernikahan Kak Cindy? Nyatanya banyak pasangan acap kali lupa detail momen pertama mereka berjumpa.
Jadi, apakah tetesan air mata Sore yang jatuh merembes ke langit aurora Jo menunjukkan dia memang istri dari masa depan? Lantas mengapa setelah berpegangan tangan, mengapa teracak-acak lagi beberapa hal mutlak yang lebur menjadi nisbi? Silakan susun teori lini masamu sendiri, tapi yakinilah jalinan hidup mereka bersinergi.
Fiksi ilmiah sederhana yang indah. Membungkus pesan tentang trauma masa kecil dan pernikahan yang tidak pernah berjalan sempurna. Seberapa pun niatan baik bekerja, tapi itu tidak akan pernah bisa mengubah masa lalu, rasa sakit, dan kematian.
Lewat kemampuan story telling solid dan sinematografi mumpuni, Yandy Laurens sekali lagi berhasil menyentuh hati. Semacam kehampaan yang telah terpenuhi. (*)
Editor: Kukuh Basuki
