Ketika kalian membaca tulisan ini, aku tak tahu bagaimana pastinya keadaanku. Kemungkinan terbaiknya, penglihatanku sudah mengabur dan aku sudah tak punya tenaga untuk memikirkan berbagai hal yang berat. Kemungkinan buruknya, namaku sudah tertulis di batu nisan, menguap menjadi kenangan. Tapi, aku tak ingin mengkhawatirkan tentang itu sekarang. Aku ingin bertanya, apakah hidup kalian sudah lebih baik saat ini?
Baiklah, mungkin pertanyaan itu terlalu membingungkan, aku akan coba pertanyaan yang lebih jelas. Bagaimana sikap pemerintah di zamanmu? Apakah mereka masih sering mengolok-olok para pengkritik? Apakah mereka yang kritis dan vokal masih dianggap sebagai ancaman?
Aku sangat berharap kalian mengatakan tidak pada dua pertanyaan terakhir, sebab di zamanku, menyampaikan sesuatu terlalu keras akan dianggap sebagai pembangkang. Lebih buruk lagi, melakukan hal ini terus-menerus juga bisa membawamu ke tempat yang mengerikan. Setelah ke tempat itu, nyalimu pasti akan menciut.
Aduh, maafkan aku karena menceritakan sesuatu yang mengerikan pada kalian. Memang aku kadang tak bisa menahan diri. Sebenarnya aku hanya ingin kalian tahu bagaimana rasanya hidup di zamanku. Yah, sekaligus untuk memberikan sudut pandang baru seandainya apa yang tertulis di buku sejarah sekolah kalian ternyata berbeda.
Baca juga:
Ibu Kota Negara Baru, IKN, yang Terancam Mangkrak
Di zamanku, negara sedang sangat serius membangun ibu kota negara baru, namanya IKN—semoga saja namanya tidak berubah di masa mendatang, sebab pemerintah masa ini gemar sekali mengubah nama.
Menurut pemerintah, IKN akan menjadi kota masa depan, kota yang punya teknologi lebih maju daripada kota-kota lain di Indonesia. Untuk itulah aku ingin tahu, apakah di masamu benar demikian? Oh, satu lagi, apakah di sana benar-benar ada mobil terbang seperti yang dijanjikan pemerintah di zamanku? Jika benar, pastilah itu sangat menyenangkan. Kalian pasti tak kenal dan tak pernah merasakan macet.
Asal kalian tahu, proyek ini sebenarnya terancam mangkrak setelah hampir setengah jalan. Bagaimana tidak, proyek ini diinisiasi oleh Jokowi, presiden ke-7, menjelang akhir jabatannya. Kemudian, proyek ini dihentikan oleh Prabowo, presiden ke-8 sekaligus presiden yang menjabat saat tulisan ini dibuat.
Alasannya masih simpang siur, pemerintah bilang proyek ini dihentikan demi efisiensi ketat anggaran pemerintah. Namun, banyak juga orang yang mengatakan kalau pemerintah gagal mencari investor asing. Apa pun itu, intinya keberlangsungan pembangunan IKN sedang terancam saat ini.
Sebenarnya, sebelum proyek ini dijalankan, banyak sekali pakar yang mengatakan kalau proyek ini berisiko gagal. Namun, pemerintah tak mendengar barang satu kata pun dari mereka. Entahlah, aku sebenarnya juga tak mengerti bagaimana cara berpikir ala pemerintah.
Pendidikan dan Kesehatan adalah Kebutuhan Sekunder
Kalian juga harus tahu kalau di masa ini pendidikan dan kesehatan itu bukan prioritas utama presiden. Bisa dibilang, dua hal ini adalah kebutuhan sekunder, penting, tapi tak sepenting itu. Mengherankan, bukan? Tunggu dulu, kalian harus tahu alasan di baliknya.
Seperti yang sebelumnya aku sebutkan, di masa ini, pemerintah sedang melakukan efisiensi anggaran secara ketat, hampir semua sektor dikurangi anggaran operasionalnya. Alasannya banyak, tapi yang paling mencolok adalah pemerintah butuh uang besar untuk membiayai program Makan Bergizi Gratis di sekolah-sekolah. Iya, kamu tak salah baca, pelajar di negara ini pernah mendapat makan siang gratis setiap hari. Yah, meskipun aku sendiri tak yakin apakah otak mereka bisa sekenyang perut mereka sendiri.
Perjuangan Buruh untuk Bertahan Hidup
Sementara itu, di sisi yang lain, kehidupan terus berlanjut dengan jurang ketimpangan yang semakin nyata. Aku hidup di masa pekerja masih harus mati-matian memperjuangkan upah layak. Memang pemerintah telah membuat peraturan mengenai hal ini, bahkan di dalamnya memuat mengenai hak-hak pekerja, seperti minimal gaji, jam kerja, dan lain-lain.
Akan tetapi, peraturan tersebut seakan tak pernah diterapkan, bahkan seakan-akan tak pernah dibuat. Bagaimana tidak, banyak sekali orang yang menerima upah di bawah ketentuan pemerintah. Belum lagi, mereka bisa bekerja sampai 12 jam dalam sehari. Menyedihkan, kan? Ini belum seberapa, masih ada masalah baru, yakni harga kebutuhan pokok terus melambung tinggi.
Baca juga:
Sebenarnya, para pekerja setiap tanggal 1 Mei berusaha menyampaikan aspirasi mereka ke pemerintah. Namun, berpuluh-puluh tahun aktivitas ini dilakukan, tetap tak ada perubahan yang signifikan. Kami harus menenggak pil pahit bernama eksploitasi demi bertahan hidup. Ironisnya, di luar sana, banyak sekali orang-orang yang seakan punya uang tak terbatas. Apakah hal semacam ini sudah tidak terjadi di zaman kalian? Demi Tuhan, aku berharap hal semacam ini sudah tak ada lagi.
Maafkan aku, sungguh aku ingin menceritakan semua yang terjadi di masa ini. Namun, mataku mulai berkunang-kunang karena terlalu lama menatap layar monitor. Aku juga ingin minta maaf karena memberimu banyak sekali pertanyaan. Sungguh aku tak bisa menahan diri. Aku hidup di masa yang penuh ketidakpastian. Setiap hari, kami bertanya-tanya apakah esok bisa lebih baik atau justru sebaliknya.
Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku sungguh berharap hidup kalian sudah jauh lebih baik di masa depan. Kalaupun ternyata yang terjadi justru sebaliknya, aku sungguh minta maaf karena kami tak cukup kuat untuk memperbaiki situasi ini. Hal ini juga berarti kami mewariskan tongkat perjuangan pada kalian. Rawatlah keberanian dalam jiwa kalian dan jangan pernah tunduk pada ketidakadilan.
Editor: Prihandini N
