Satir Para Pekerja Keras

Mina Megawati

4 min read

Life begins at forty.”

Ungkapan itu sepertinya begitu dihayati oleh Ha Wan, seorang penulis asal Korea. Karya terbarunya, sebuah buku esai yang dirilis dalam bahasa Indonesia dengan judul Duh, Katanya Aku Harus Bekerja Keras pada bulan April 2023, menggambarkan betapa relevannya ungkapan itu.

Buku adalah bentuk lain refleksi dirinya sekaligus eksperimen hidup anak manusia jelang usianya yang ke-40 tahun. Ha Wan banyak mempertanyakan tentang eksistensi dirinya mendekati usia keramat itu. Bukan hanya hal klise seperti bisa menjalani hidup lebih baik, bahagia, sesuai dengan apa yang dia inginkan. Ha Wan yang memang seorang ilustrator andal itu ingin menggambar hidupnya jika tanpa bekerja keras.

Tanpa bermaksud menistakan para pekerja keras, Ha Wan ingin memberi kesempatan baru bagi dirinya sendiri untuk bisa menjalani hidup yang berbeda. “Anggap saja ini kado ulang tahun ke-40 untuk dirinya sendiri. Boleh, kan?”

Baca juga:

Bagi pembaca seperti saya, Ha Wan terbilang berhasil mencolek kekhawatiran mereka yang akan menginjak usia 40, tetapi masih mempertanyakan untuk apa saya bekerja keras.

Sebelum memulai perjalanan menyusuri buku yang dalam bahasa Korea dijuduli I Almost Lived Hard, ada baiknya kita samakan persepsi dulu bahwa di dalamnya sama sekali bukan berisi motivasi menjadi pekerja yang baik. Justru, buku ini akan membuatmu berpikir tentang hidup dan bekerja itu sendiri. Anggap saja seperti membaca buku berisi percobaan seseorang akan hidupnya.

Hidup yang sudah lama didambakannya—tanpa perlu berupaya keras—mengalir seperti air dengan senang hati walau tidak tahu ke mana akan bermuara. Perjalanan hidup “baru” pun dimulai.

Hidup dalam Ekspektasi Siapa?

Di usia tertentu, ternyata banyak hal yang mesti dicapai. Bagi masyarakat Timur, usia sekian harus sudah apa, punya apa, dan ada di kedudukan mana.

Saat masih kecil, mungkin kita tidak terlalu terganggu dengan tekanan-tekanan tersebut. Sebab, masa kecil adalah masa dengan kemungkinan tak terbatas dan aman. Kala itu, kita belum sampai pada masa depan yang kelihatan masih panjang. Akan tetapi, memasuki usia tertentu, tiba-tiba dunia jadi tak bersahabat. Dunia seperti menikam balik kita. Mereka yang di luar diri kita mulai bertanya, “Apa saja yang sudah kamu capai di usiamu ini?” Hmm… entahlah.

Manusia begitu peduli dengan pendapat orang lain dan tanpa disadari kita berusaha hidup sesuai pendapat itu pula. Kesedihan muncul bukan karena kita tidak sesuai standar mereka, tetapi saat tersadar kalau kita tidak bisa hidup dengan aturan dan arah sendiri. Kenyataannya, apa yang dikejar dengan penuh ambisi dan semangat tingkat dewa adalah pilihan orang lain, yang tampak ideal bagi orang lain pula. Sungguh memalukan.

Eranya Pekerja Keras

Dunia ini penuh dengan orang yang bekerja keras—semua orang bekerja keras. Standar usaha keras menjadi terus naik sampai-sampai kita kelelahan sendiri. Seperti berlari di treadmill, kita tetap ada di tempat yang sama meski sudah berlari sekeras-kerasnyanya.

Mirisnya, kenyataan yang mesti kita terima, hal ini sudah kita jalani lebih dari separuh usia. Meski kadang perlu diakui juga bahwa kerja keras akan membuat perbedaan. Kerja keras bagaikan kepercayaan warisan dari generasi sebelumnya.

Ha Wan menghadirkan satir sekaligus penyadaran bahwa ada masa ketika kerja keras tidak membuahkan apa-apa. Toh, sekeras apa pun bekerja, kita akan kalah dengan “anak sendok emas”. Mereka itu anak-anak yang tumbuh di keluarga kaya raya. Golongan itu seperti mematahkan kesepakatan umum bahwa yang berusaha keras akan membuat perbedaan.

Ketika masih bekerja di perusahaan, Ha Wan sempat bingung antara harus berhenti bekerja atau tidak. Setelah mempertimbangkan idealisme dan realitas, akhirnya dia memutuskan untuk bertahan selama tiga tahun, lalu keluar. Setelah itu, dia berencana menjadi pekerja lepas dan hidup ideal dengan berbekal tabungan yang sudah direncanakannya dalam kurun waktu tiga tahun itu.

Seminggu setelah membuat rencana itu, pil pahit harus ditelannya. Perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Ha Wan diberhentikan atau berhenti lebih awal dari rencananya semula. Pilihannya menjadi sia-sia, tak peduli seberapa keras ia sudah memikirkannya.

Namun, ombak besar malah membawa Ha Wan ke tempat lain. Seperti kata Martin Luther King, “Jangan mencoba melihat awal dan akhir sebuah tangga. Melangkah saja.”

Rasa Madu Berhenti Bekerja

Ha Wan akhirnya meneguk rasa manis setelah berhenti bekerja. Ketika membuka mata di pagi hari, rasanya seperti kebebasan. Setelah sekian lama ditunggu, bertahun-tahun menanggung malu, lelah, dan penghinaan seperti budak, “Sekarang aku bebas.”

Pencarian kebebasan ala Ha Wan ini ternyata secara tidak langsung dipicu oleh kepercayaan bahwa orang dewasa dilarang bersantai, tidak boleh banyak bermain. Orang dewasa harus bekerja keras. Sejak kecil, dia sudah dicekoki pemahaman ala dongeng semut-belalang. Kita mesti hidup seperti keluarga semut yang rajin bekerja. Jika terlalu banyak bermain seperti belalang, hidup kita akan sengsara. Akhirnya, setelah dewasa, dia malah mencari kebebasan dan ingin banyak bermain.

Anehnya, masalah tidak selesai, tapi baru dimulai. Manisnya kebebasan yang didamba setelah berhenti bekerja tak berlangsung lama. Dari kondisi itu, dia pun jadi paham bahwa kita tak cukup hidup dengan rasa manis saja. Ternyata, kebebasan juga tak bisa memberi kita makan. Hilang manis, muncul kecemasan. Gawat!

Kebebasan itu ternyata menggelisahkan. “Bisakah kita bertahan hidup sebagai seseorang yang bebas?”

Ternyata, kita bukan merindukan kebebasan dalam artian tidak melakukan apa-apa. Namun, kebebasan yang lebih kita dambakan adalah kepastian dan hidup berimbang. Ini semacam permainan ala orang dewasa.

Apa yang Benar-Benar Kuinginkan?

Dari sekian banyak sentilan atas kesadaran, bagian ini menurut saya paling esensial. Ha Wan tidak hanya ingin menggugat hasrat bekerja keras, tapi juga menyentil sesuatu yang lebih besar, yaitu tentang hidup itu sendiri.

Menemukan pekerjaan yang ideal dari segala sisi dan mendamba penghasilan yang bisa memenuhi semua kebutuhan ternyata tidak semudah bermimpi. Dualitas kehidupan membawa kita pada pilihan bekerja untuk kebutuhan, bukan kesenangan.

Ha Wan sempat berada di periode pasif hidupnya selama tiga tahun. Selama itu, ia menunggu pekerjaan ideal itu datang dan memberi apa yang ia butuhkan.

Akhirnya, dia berhenti di ujung terowongan penantian. Dia sadar bahwa memang ada orang yang bisa menemukan hal yang ingin dilakukannya lebih awal daripada orang lain. Jangan memaksakan diri menemukannya. Momen itu akan datang, mungkin juga tidak datang, atau mungkin datang samar-samar sehingga kita tak sadar. Lakukan saja yang kita bisa, setidaknya masa depanmu jadi sedikit terang.

Tulisan lain oleh Mina Megawati:

Lamban Juga Tak Mengapa

“Hidup tidak berakhir walau tak berjalan seperti yang kita impikan. Kita harus tetap merengkuh kehidupan yang diberikan kepada kita. Ini hanyalah perbedaan sudut pandang.”

Ha Wan sadar bahwa hidupnya terasa lambat. Tak apa, katanya. Kita tak harus hidup dengan kecepatan yang sama dengan orang lain. Namun, ironisnya, kita sering berkata ingin jadi diri sendiri, tapi malah membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Dari situ kita mulai merasa menderita. Ha Wan pun sadar bahwa dirinya kurang bersabar pada prosesnya selama ini.

Ketika Hidupmu Melelahkan

Harapan kita terhadap hidup membuat hidup kita begitu melelahkan. Namun, tidak ada hidup tanpa ekspektasi. Sejak awal, kita sudah mengharapkan hidup yang lebih baik. Ha Wan merapal mantra jitu:

“Jangan terlalu berharap. Jangan membuat standar ‘harus seperti ini’. Hiduplah dengan gembira tanpa standar dan tanpa mimpi yang khusus. Dengan begitu, kita akan berpikir, eh, hidupku lumayan juga, ya.”

Kalau begitu, masihkah kita perlu bekerja keras?

 

Editor: Emma Amelia

Mina Megawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email